Tarik napas – tahan – hembuskan. Kau juga perlu waktu untuk merenggangkan paru-parumu. Perlu membasahi rongga hidung dengan udara yang lebih segar. Perlu mengeluarkan sampah yang tidak pantas mengendap di dalam tubuhmu.
Pergi. Menghilanglah. Jika itu memang cara yang tepat untuk selamat. Berteriaklah jika itu memang akan melegakan. Kau perlu waras untuk hidup di dunia yang mulai bercanda. Kau perlu bernapas dengan baik untuk tetap hidup di dunia yang mulai pengap. Aku bilang pergi dan menghilanglah untuk bertahan.
Huh, bahkan orang kaya juga kelelahan karena urusannya. Sama seperti peribahasa, “Semakin tinggi pohon, semakin lebat buahnya dan semakin kencang angin menerpanya” manusia akan mendapatkan masalah sesuai dengan tingkatannya. Jangan berpikir jika semakin berkuasa maka akan bebas dari masalah. Hanya satu jalan apabila ingin bebas dari masalah, mati saja. Haha...itupun hanya sebatas masalah dunia, perlu diingat setelah mati masih ada kehidupan selanjutnya, dan masalah di sana akan lebih berat daripada masalah di dunia.
Tenang. Bernapaslah perlahan untuk bisa memahami situasi kacau ini. Pejamkan matamu dan lihatlah seberapa tinggi tangga yang sudah kau naiki, seberapa jauh perjalanan yang berhasil kau tempuh. Jangan melihat ke atas apabila kau akan menyerah. Jangan lihat kanan-kirimu jika hanya akan melemah. Lihatlah dirimu sendiri dan segala pencapaianmu. Lihatlah lukamu juga medalimu dan ingat Tuhan-mu untuk bersyukur atas napas yang masih menggantung dalam ragamu.
Tertawalah. Sudah saatnya bahagia untuk melanjutkan perjalanan. Sudah saatnya bangga dengan diri sendiri karena tidak pernah berhenti karena menyerah. Sudah saatnya tangismu menjadi air yang menyegarkan bukan lagi sebuah kepedihan.
Komentar
Posting Komentar