Langsung ke konten utama

OTEM : EVAKUASI (HINDIA)

Tarik napas – tahan – hembuskan. Kau juga perlu waktu untuk merenggangkan paru-parumu. Perlu membasahi rongga hidung dengan udara yang lebih segar. Perlu mengeluarkan sampah yang tidak pantas mengendap di dalam tubuhmu.

Pergi. Menghilanglah. Jika itu memang cara yang tepat untuk selamat. Berteriaklah jika itu memang akan melegakan. Kau perlu waras untuk hidup di dunia yang mulai bercanda. Kau perlu bernapas dengan baik untuk tetap hidup di dunia yang mulai pengap. Aku bilang pergi dan menghilanglah untuk bertahan.

Huh, bahkan orang kaya juga kelelahan karena urusannya. Sama seperti peribahasa, “Semakin tinggi pohon, semakin lebat buahnya dan semakin kencang angin menerpanya” manusia akan mendapatkan masalah sesuai dengan tingkatannya. Jangan berpikir jika semakin berkuasa maka akan bebas dari masalah. Hanya satu jalan apabila ingin bebas dari masalah, mati saja. Haha...itupun hanya sebatas masalah dunia, perlu diingat setelah mati masih ada kehidupan selanjutnya, dan masalah di sana akan lebih berat daripada masalah di dunia.

Tenang. Bernapaslah perlahan untuk bisa memahami situasi kacau ini. Pejamkan matamu dan lihatlah seberapa tinggi tangga yang sudah kau naiki, seberapa jauh perjalanan yang berhasil kau tempuh. Jangan melihat ke atas apabila kau akan menyerah. Jangan lihat kanan-kirimu jika hanya akan melemah. Lihatlah dirimu sendiri dan segala pencapaianmu. Lihatlah lukamu juga medalimu dan ingat Tuhan-mu untuk bersyukur atas napas yang masih menggantung dalam ragamu.

Tertawalah. Sudah saatnya bahagia untuk melanjutkan perjalanan. Sudah saatnya bangga dengan diri sendiri karena tidak pernah berhenti karena menyerah. Sudah saatnya tangismu menjadi air yang menyegarkan bukan lagi sebuah kepedihan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...