Nggak ada yang tahu tentang hidup ini meskipun itu satu detik, satu menit, satu jam, hingga hitungan tahun. Nggak ada orang yang benar-benar dalam keadaan baik walaupun dia terlihat bahagia. Nggak ada orang yang benar-benar murung sekalipun setiap hari dia diam. Kita tidak tahu apa yang ada dalam pikiran juga perasaan orang lain. Sekalipun kita bisa melihat perasaannya dari tatapan matanya, tapi kita tidak benar-benar tahu bagaimana rasanya.
Sama halnya juga dengan masalah, cobaan dalam kehidupan seseorang, batu kerikil hingga bebatuan besar dalam perjalanan hidup orang lain. Tidak ada yang hidupnya lurus-lurus saja, baik-baik saja. Besar-kecil, berat-ringan, semuanya disebut masalah. Tidak ada masalah yang mudah, semuanya berat bagi mereka yang mengalami. Dan sebagai orang yang melihat, tidak sepantasnya membandingkan bahkan menilai tentang masalah itu.
Sama halnya milik. Kita tidak pernah tahu tentang harganya suatu hal bagi seseorang, sekalipun itu tentang pensil. Kita tidak pernah tahu awal mula cerita si pensil itu hingga menjadi benda yang berharga. Dan sebagai orang yang melihat, diamlah, jika ada perasaan meremehkan, diamlah. Jika apa yang kita miliki tidak ingin diremehkan, tetap diamlah.
Gue pernah tertawa, setiap hari, setiap saat gue merasa menjadi orang yang beruntung tapi lupa seharusnya juga bersyukur. Gue juga pernah menjadi orang yang benar-benar menakutkan, suara yang biasanya riang terdengar seperti petir yang memekakan telinga, seperti pisau tajam yang mampu menyayat perasaan. Saat itu, gue yang marah kepada semua manusia juga Tuhan, karena tidak pernah memihakku. Tapi saat ini gue paham, itu adalah peringatan. Tidak semuanya akan tetap, tidak semuanya akan sama seterusnya, tidak semua yang sempat kita miliki akan terus menjadi milik kita, karena Tuhan lebih berkuasa.
Gue pernah menjadi orang paling menyedihkan, berdiam diri, mengurung diri di kamar, menangis seharian. Menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang terjadi. Merasa menjadi orang yang bodoh karena ceroboh. Merasa lemah karena tidak mampu bertahan. Tapi Tuhan ada, menenangkan, menyadarkan bahwa tidak masalah untuk kalah, tidak apa-apa terjatuh, karena dari situlah kita tahu bagaimana mensyukuri hal kecil, menyadari, banyak hal kecil yang sering kali kita lewatkan, kita tahu bagaimana kembali berdiri dan berjalan, terlebih lagi kita tahu Tuhan benar-benar ada tidak pernah meninggalkan makhluk-Nya sejengkal pun. Tuhan ada sekalipun kita lupa, Tuhan ada sekalipun kita sengsara.
Selama 22 tahun, berkali-kali gue kecewa dan mengecewakan, berkali-kali gue memberi dan diberi, berkali-kali gue jujur dan berdusta, berkali-kali gue bersimpuh kemudian lupa. 22 tahun, gue bertemu dengan banyak orang yang memberikan banyak pelajaran, menghargai, mempercayai, sampai kehilangan keduanya. Tapi yang lebih penting pada akhirnya gue tidak kecewa, gue tidak marah jika mereka mengecewakan atau berbuat kesalahan. Saat gue bertemu kembali, semuanya menjadi baik-baik saja. Sampai gue bertemu orang yang akhirnya memberikan pelajaran baru, mengajarkan bahagia atas hal kecil, mengurangi kecewa dan marah yang menjadi lubang terbesar dalam hidupku. Keberadaan mereka yang mungkin tidak setiap saat, tapi tetap. Tawa mereka, sedih mereka, adalah penutup lubang dalam hidup gue dan bersama Tuhan semua menjadi sempurna.
Komentar
Posting Komentar