Benar kata orang, seseorang yang terlanjur jatuh cinta itu ribet. Apalagi buat gue, orang yang diperhatiin dikit langsung nyaman. Yahh, diingetin makan tiap harinya, dibangunin tiap pagi plus diucapin selamat pagi, dikasih semangat pas kerja, dikirimin pap makan, pap pulang kerja. Haha pikiran gue udah melayang dan mikir dia pasti suka sama gue. Dan sepertinya gue mengalami hal itu, lagi.
Sebut saja Dito. Dia adalah teman satu sekolah saat SMA. Awalnya kami hanya kenal karena mengikuti ekstrakurikuler yang sama, tapi gue memutuskan untuk keluar dan tidak begitu akrab dengannya. Sampai akhirnya kami lulus dan menjalani hidup masing-masing. Barulah, pergantian tahun 2020 kami tidak sengaja bertemu di taman kota, salah satu titik teramai saat acara pergantian tahun. Kami berdua sama-sama terkejut sekaligus senang, yaa dia bilang sendiri ke gue dan gue sendiri ngerasain itu. Sejak saat itu kami sering berkirim pesan. Awalnya sekali dua kali, lama kelamaan becanda, terus rutin.
Gue pikir, gue nggak akan semudah itu nyaman sama seseorang setelah beberapa kali gue dikecewakan. Tapi, kenyataannya keberadaan Dito juga sama saja. Gue berusaha meyakinkan diri gue bahwa perhatian Dito hanya karena kami pernah kenal dan saat itu cukup akrab. Sampai akhirnya ketika kebiasaan dia mulai hilang, dan gue merasa kehilangan.
Chat yang biasanya bertahan hingga tengah malam, berubah hanya 1 jam. Pap makan atau pulang kerja berubah menjadi pesan pamit untuk mengakhiri pesan. Kadang hanya dibalas dengan sticker jempol andalannya. Yaa, gue kembali merasa kehilangan sekaligus ditinggalkan.
Berulang kali gue menepis perasaan sedih itu dengan bertemu beberapa teman gue. Tapi ujungnya sama saja, gue kepikiran. Pernah juga gue sengaja membuat story di whatsapp, berharap dia bales, tapi kenyataannya dia hanya melihat dan lewat begitu saja.
Yaa, pada akhirnya, akan seperti ini lagi. Momen dekat yang kata orang manis dan tidak terlupakan tapi seperti kecelakaan menurutku. Pertemuan, berkenalan, berkirim pesan dan kabar adalah kecelakaan besar yang akhirnya membuat gue terluka sendirian. Mungkin gue yang terlalu membawa perasaan, mungkin memang salah gue yang terlalu cepat percaya dan berharap kepada orang lain yang sebenarnya tidak benar-benar gue kenal. Salah gue, terlalu mudah memberikan perasaan kepada orang yang sebenarnya hanya bayangan saja.
Tapi, bagaimanapun juga gue berterima kasih atas cerita itu. Setidaknya, gue tidak akan terluka lebih dalam dari sekedar dikecewakan saat dekat, bukan setelah memiliki dan terikat.
Komentar
Posting Komentar