“Baaa.....” seru Dito sambil menempelkan Es Cappucino Cincau di pipiku. “Serius amat sih,” ucapnya kemudian.
“Deadline, To. Lama banget sih, nyarinya dimana emang?” tanyaku kemudian meminum es tersebut.
“Di tempat biasa, tapi tadi rame banget jadi harus antri.”
Kami sama-sama diam. Aku kembali sibuk menatap layar laptop. Beberapa menit selanjutnya pun masih diam. Aku melirik ke arah Dito. Sejak awal kami bertemu, dia sedikit terlihat aneh.
“Kenapa sih, To?” tanyaku masih tetap melihat laptop.
“Nggak papa.” Jawabnya singkat sambil membenahi cara duduknya.
“Kenapa-kenapa nih pasti. Kenapa? Lo deket sama cewek?” tanyaku.
“Yaa kalau lo masih cewek ya iya berarti. Ini kita semeja.” Jawabnya dengan bercanda.
“Dasar, ngeles mulu.” Dia hanya ketawa kecil dan kami kembali diam.
“Kita bakal kayak gini terus nggak sih, Cha?” tanya Dito tiba-tiba.
Aku berhenti dan menatapnya.
“Kayak gini gimana?” tanyaku.
“Deket, saling perhatian, keluar bareng, saling bantu, saling butuh.”
“Yaa...lo masih mau nggak?” tanyaku.
Dito hanya diam.
“Gue nggak tahu. Saat ini gue juga nggak berani janjiin lo apa-apa, kalau yang lo maksud soal perasaan. Lo tahu sendiri, gue deket sama banyak orang sebelum deket sama lo, dan semuanya gagal. Gue capek aja ngerasain hal itu, gue takut kalau gue bakal ngerasain sakit yang sama walaupun udah berkali-kali.”
Dito menghela napas. Ada raut kecewa di wajahnya.
“Gue nggak pernah maksa lo ada terus buat gue. Gue tahu, yang sebenernya lo cari bukan sebatas temen deket, tapi pasangan. Dari awal gue juga bilang ke lo, gue nggak bisa. Tapi lo juga selalu bilang ke gue buat datang ke lo setiap kali gue butuh apa-apa, daripada gue datang ke mereka yang jelas nyakitin gue.”
“Iya,” ucap Dito kemudian menyandarkan tubuhnya.
“Kalau boleh jujur, gue nyaman deket sama lo. Gue selalu nyariin lo kalau lo nggak ada kabar. Gue juga selalu khawatir pas lo bilang deket sama cewek. Karena, gue akan kehilangan lo. Bagaimanapun juga, gue harus pergi biar pasangan lo nggak keganggu. Tapi gue juga sadar, gue nggak seberani itu untuk terus sama lo.”
Dito masih diam. “Gue boleh pergi?” tanya Dito.
“Silakan, gue juga nggak akan nahan lo. Gue sadar, cepat atau lambat hal ini pasti terjadi.”
“Lo nggak mau nahan?” tanya Dito.
“Haha...To...To. Harus berapa kali gue bilang? Kalau lo nyari pasangan, lo salah deket sama gue yang beraninya Cuma deket.”
“Gue nggak tahu persisnya rasa sakit yang lo rasain gara-gara masa lalu lo, sampai buat lo takut jatuh cinta lagi. Gue nggak janji juga sih buat selalu ada dan tahan sama lo, tapi ijinin gue nunggu sampai lo bisa jatuh cinta lagi, dan semoga jatuhnya ke gue, bukan ke orang lain.”
“Yaaa....terserah lo aja deh. Jangan salahin gue kalau lo akhirnya sengsara atau kecewa.”
“Hahaha, udah biasa sih kalau sama lo. Tapi, ya akhirnya sama, gue nggak bisa ninggalin lo walaupun udah deket sama cewek yang lebih dari lo.”
“Hemmm...itu tadi yang ngomong buaya bukan sih? Hahaha”
“Sial!!!”
Gue kembali melanjutkan pekerjaan dan Dito kembali banyak bicara seperti biasanya. Dito, mungkin orang yang paling kuat karena 2 tahun kami bersama, mungkin juga 2 tahun dia berharap kepada gue, tapi gue abaikan dan dia tetap bertahan.
Kami memutuskan pulang satu jam kemudian. Seperti biasa, dia mengikutiku sampai di rumah.
“Makasih, ya Cha.” Serunya dalam perjalanan.
“Buat apa?” tanyaku.
“Karena lo udah ijinin gue ada di samping lo.”
“Yang ada gue yang makasih, karena lo mau ada buat gue walaupun gue sering ngecewain lo.”
“Gue percaya sama kata hati gue yang nyuruh bertahan sama lo. Karena, gue juga yakin akhirnya nggak akan bikin gue kecewa.”
Gue hanya tersenyum dan kembali fokus dengan jalan.
“Hati-hati ya pulangnya,” ucapku setelah sampai di rumah.
“Iya. Ya udah sana masuk, istirahat, nanti gue WA kalau udah sampai.”
“Idih...dasar.”
“Kenapa? Biasanya gitu kan?!”
“Kedengerannya jadi aneh aja, lo nggak pernah bilang gitu.”
“Iya ya. Hahahah ya udah sana.”
“Hemmm...” gue masuk dan menutup gerbang.
Suara motor Dito berlalu dan saat itu juga gue merasa Dito, orang yang selama ini gue anggap bayangan mungkin adalah sebenar-benarnya seseorang. Nggak peduli ada atau tidaknya cahaya, dia tetap ada dengan tulus.
Komentar
Posting Komentar