Nggak tahu gue harus cerita mulai dari mana. Yang gue percaya sampai detik ini adalah apapun yang terjadi tentu ada alasannya.
Kami selesai.
Behh...padahal mulai aja belum. Ulang-ulang. Yang serius
Kita mau bahas Break It apa gue sih?!
Mari kita satukan semuanya.
Huh, harus ya drama-drama gini. Hahaha. Sebenernya dalam proses nulis ini nggak gampang. Berulang kali gue hapus gue ketik lagi, begitu terus sampai jam menunjukkan pukul 06.00, padahal gue udah diem di depan laptop setengah jam yang lalu. Tapi gue harus ngeluarin semua ini dari kotaknya, kalau emang gue masih pengen waras.
Gue nggak nyangka aja akan sejauh dan serumit dan sesulit ini. Gue juga tidak memprediksi bahwa hal ini akan terjadi. Keputusan pertama yang gue ambil saat itu adalah gue kembali menghubungi seseorang. Kemudian kami terlibat dalam sebuah obrolan yang lama-lama membuat gue memutuskan untuk jujur atas perasaan gue. Itu adalah keputusan kedua yang sepertinya menjadi titik awal kerumitan ini.
Ketika gue ulas kembali, kenapa gue jujur waktu itu, ya tentu saja gue nggak mau bohong dan melihat responnya yang terlihat baik dan tidak terlalu dingin, akhirnya gue berani mengatakannya sekalipun kami belum pernah bertemu secara langsung. Pernah sih tapi Cuma sama-sama lihat aja, bukan yang kenalan terus ngobrol.
Kemudian semua berjalan cukup baik sampai akhirnya gue kembali terserang overthinking dan yang lainnya, ini sekawanan kampret yang datengnya kroyokan terus ngerusak semua sistem dalam tubuh gue. Nggak Cuma hubungan gue dengan dia, tapi juga suasana di tempat kerja, performance gue saat kerja menjadi menurun semua. Ya, selalu seperti itu.
Akhirnya sampai titik dimana gue kembali memikiran situasi kami. Dari apa yang gue pahami, kayaknya dia emang diburu untuk segera menikah. Sedangkan gue tetap belum bisa. Di situasi yang “spesial” di diri gue ini, pertanyaan-pertanyaan itu justru sedikit mengganggu dan membuat gue sedikit kesal. Karena pada dasarnya dari awal gue benar-benar menekankan bahwa gue belum siap dan tidak menahan atau meminta dia untuk menunggu gue siap.
Sampai akhirnya kami sama-sama memutuskan untuk berhenti. Dia akan menunggu orang yang memang serius dan siap diajak menikah dan gue melanjutkan terapi hidup untuk bertahan hidup. Kami selesai.
Dari kejadian itu, untuk pertama kalinya gue menerima perasaan yang tidak bertepuk sebelah tangan setelah sekian lama gue menyukai seseorang. Yaaa walaupun benar-benar singkat dan sedikit membuat gue bertanya-tanya. Untuk pertama kalinya, gue menyukai seseorang dengan versi yang berbeda. Dimana gue berusaha untuk menyerahkan semuanya ke Yang Maha Kuasa. Untuk pertama kalinya gue tidak menahan dan meminta orang yang gue suka untuk tetap. Untuk pertama kalinya, gue melepaskan orang yang suka begitu mudah.
Itu namanya lo nggak serius...
Kagak gitu juga...
Gue serius, sejak awal gue memang tertarik. Tujuan gue membangun sebuah obrolan dengannya juga untuk mengenal seperti apa dia, yaa walaupun nggak akan akurat-akurat amat hasilnya. Tapi setidaknya gue bisa melihat secara garis besarnya seperti apa dia berinteraksi dengan orang lain. Gue memang berniat untuk melupakan, karena akses komunikasi yang benar-benar terbatas dan tidak menghasilkan apa-apa. Tapi nyatanya juga susah. Akhrinya gue mencoba memberanikan diri lagi untuk mencari tahu tentangnya dari pihak lain. Gue kembali mencari topik obrolan dan menghasilkan keputusan pertama itu.
Terus? Kenapa lo ngomongin ini?
Karena ini cerita gue dengan seseorang yang mengajarkan gue tentang satu hal
Selama ini gue hanya tahu tentang teorinya, bahwa tidak ada gunanya lo berharap kepada seseorang, apabila lo mencintai orang tersebut melebih cinta lo kepada Tuhan lo juga Tuhan-nya. Dan dengan dia, gue melakukan hal itu. Dari awal gue berasa pasrah aja, gue suka, gue juga berharap bahwa dialah orang yang gue cari selama ini. Tapi disisi lain, ada perasaan dimana lebih baik gue pasrah aja, gue berdoa agar diberi yang terbaik buat dunia dan kehidupan akhirat gue nantinya. Hanya dari situ, gue tahu batasan berharap makanya dari awal gue membebaskan dia, mau nunggu silakan mau pergi silakan. Dari situ juga, ketika gue dihadapkan oleh keputusan yang mungkin terdengar tidak menyenangkan, gue menerima. Karena itu juga sudah masuk dalam prediksi gue ketika gue memutuskan keputusan kedua. Cepat atau lambat gue akan benar-benar melepaskan dan kehilangan, karena memang situasi gue yang belum benar-benar baik.
Gue tidak menangis, gue juga tidak frustasi karena harus kembali merasakan patah hati. Itulah poinnya, mengikhlaskan, dimana gue benar-benar bisa melepas tanpa keberatan dan kembali meminta kepada Tuhan untuk ganti yang lebih baik lagi.
Gue hanya seseorang yang juga baru belajar dewasa. Kami sama-sama terbawa emosi bahagia yang akhirnya memutuskan sesuatu hal terlalu cepat, lupa bahwa apapun keputusannya pasti akan membawa dampak kedepannya. Kami hanya dua orang yang sepertinya bertemu untuk saling mengajarkan tentang “sesuatu” agar menjadi lebih baik dilain waktu. Jadi, terima kasih, karena sudah ada dalam bagian ini.
Komentar
Posting Komentar