Langsung ke konten utama

OPINI : WARNA

Tiba-tiba aja gue pengen bahas soal ini, hanya karena kepikiran kenapa ya gue bisa suka banget sama ini warna? dan denger-denger juga bahwa pilihan warna yang kita suka itu bisa menunjukkan perilaku manusianya.

Sebelumnya, kita kenalan dulu sama warna. Dari laman wikipedia.com, warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Contohnya warna biru yang memiliki panjang gelombang 460 nanometer.

Dikutip dari epsikologi.com, psikologi warna merupakan cabang dari ilmu psikologi yang mempelajari tentang warna sebagai faktor yang mempengaruhi perilaku manusia. Ilmu ini mempelajari tentang pengaruh warna terhadap emosi dan juga perilaku manusia. Hal ini disebabkan karena setiap warna memiliki efek emosi, perubahan suasana hati bahkan dapat mempengaruhi produktivitas seseorang. 

Nggak Cuma itu aja, warna juga menjadi bentuk komunikasi non verbal yang mana bisa mengungkapkan pesan secara instan dan lebih bermakna. Maka dari itu, dalam dunia bisnis mengenal arti warna itu penting untuk menentukan warna sebuah produk (kemasan, papan iklan, dsb).

Perlu diingat bahwa pengaruh warna terhadap psikologi setiap orang pasti berbeda-beda. Hal ini dapat dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, pengalaman, selera, ataupun budaya masing-masing.  Namun ada beberapa jenis warna yang diartikan sama oleh kebanyakan orang. Misalnya, kelompok warna merah yang meliputi warna merah, jingga, dan kuning.  Kelompok warna ini dikenal dengan warna hangat, dapat membangkitkan berbagai emosi, mulai dari perasaan hangat dan nyaman hingga perasaan marah dan kebencian. Ada juga kelompok warna biru yang meliputi warna biru, ungu, dan hijau. Warna-warna ini dikenal sebagai warna dingin, kadang dideskripsikan sebagai ketenangan, namun juga memiliki arti perasaan sedih atau diabaikan.  (sehatq.com)

Kalau gue sendiri, dulu waktu kecil suka banget sama warna merah muda, lucu aja gitu, manis-manis, cantik. Tapi makin bertambah usia, warna yang gue suka bukannya makin terang malah makin gelap. Sampai detik ini warna hitam ada warna favorit gue. Mulai dari tema HP, settingan Laptop, koleksi baju. Nggak tahu kenapa gue nyaman aja pakai warna hitam dalam sehari-hari gue, walaupun banyak yang bilang kelihatan suram hidupnya. Dalam ilmu psikologi warna, warna hitam umumnya menggambarkan kemisteriusan, keberanian, kekuatan, atau rasa tidak bahagia. Hitam sering digunakan sebagai simbol ancaman atau kekuatan, namun juga dapat menjadi indikator kekuatan. Dalam budaya lain, hitam juga dikaitkan dengan kematian dan perasaan berkabung. Tapi dalam fashion, warna hitam akan membuat tubuh kita terlihat langsing. Kalau bagi gue sendiri, warna hitam memiliki arti kenyamanan. Seperti yang gue bilang sebelumnya bahwa gue ngrasa nyaman gitu aja dengan warna hitam dalam kehidupan gue.

Sebelumnya gue juga suka sama warna cokelat, apalagi cokelat tua. Sekarangpun sebenernya masih suka terutama untuk koleksi jam tangan, berasa cocok aja kalau makai jam tangan cokelat. Nah, dalam dunia psikologi warna, warna cokelat umumnya menggambarkan kekuatan, keamanan, alam, dan isolasi. Cokelat dianggap dapat membangkitkan kekuatan dan ketahanan. Warna ini juga sering dikaitkan dengan kehangatan. Namun, cokelat juga dapat menciptakan perasaan sepi, sedih, dan terasingkan. Kalau nggak salah, dulu gue mikir warna cokelat itu bisa membuat gue semangat lagi, karena gue membayangkan itu cokelat yang akan mengembalikan mood gue.

Gue juga suka warna abu-abu, yang mana abu-abu adalah warna netral, umumnya dianggap sebagai spektrum warna yang paling dingin. Kadang-kadang dapat dianggap murung atau menyedihkan.

Dari 3 warna itu, gue baru sadar juga bahwa ketiga-tiganya menggambarkan aura negatif, hahaha. Yaaa…walaupun mungkin memang ada benarnya. Dari dulu gue melihat diri gue yang memang selalu diliputi perasaan sendiri, sedih, merasa tidak beruntung, dan lainnya. Bahkan mungkin sampai sekarang gue juga masih merasakan hal yang sama, bedanya sedikit demi sedikit gue bisa mengatasinya, jadi nggak terasa berat banget.

Kayaknya sih gitu aja, kalau ada yang penasaran dengan arti warna yang kalian suka, kalian bisa cek di internet karena gue juga nemunya di sana, atau bisa juga kalian baca buku yang membahas tentang psikologi warna. Sekian dan terima kasih.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...