Langsung ke konten utama

OTEM : SATU HARI DI BULAN JUNI

Jadi gimana? 1 bulan yang jadi percobaan soal emosimu sendiri. 1 bulan yang melegakan di lain sisi. 1 bulan yang berbeda karena harus kehilangan seseorang dalam keluarga. 1 bulan yang sempat membuat ricuh perasaan. Semuanya menyenangkan.
Walaupun secara emosi masih belum bisa tertata sempurna, setidaknya kamu tahu bahwa cara ini nggak berhasil. Makanya sekarang coba nyari solusi yang lebih gampang lagi.
Kekhawatiran tentang perasaan yang salah, penyesalan karena memiliki perasaan itu akhirnya berakhir dengan baik-baik saja. Karena kita sama-sama tahu jalan mana yang harus diambil untuk pulang.
Walaupun menyedihkan, kematian memang harus ada, bukan. Mungkin jalan terbaik kali ini harus ditinggalkan dengan atas nama kematian. Dan itu tidak apa-apa, karena kematian hanya tentang giliran.
Dan tentang apa yang kita rasakan, perasaan yang kita miliki. Aku sendiri juga tidak pernah tahu pasti bagaimana. Sesekali kehilangan, sesekali merindukan, sesekali merasa bosan. Mungkin itu juga yang membuat semua terlihat ambigu. Takut kehilangan tapi enggan memegang. Dan titiknya masih sama, gelap, tak jelas. Aku juga tahu menunggu akan menjadi membosankan, maka dari itu aku sendiri bertekad untuk benar-benar melepaskan.
Setidaknya dikesempatan kali ini, di bulan Juni, kita masih bisa kembali belajar dan menata ulang dekorasinya. Bersyukurlah masih bisa bernapas dan memiliki kesempatan ini. Terima kasih atas kerja kerasnya bulan kemarin, sekalipun ada sedikit tangis dan kekecewaan, tapi tetap ada senyum dan tawa di setiap harinya. Terima kasih karena tidak lagi sering menyalahkan diri sendiri. Selamat istirahat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...