Langsung ke konten utama

MULAI DARI NOL

Gara-gara bangun kepagian dan nggak bisa tidur lagi, akhirnya gue memutuskan untuk nulis. Tapi, pas mikir mau nulis apa, bisa-bisanya gue nguap berkali-kali. Sama nih, pas lagi ikut kajian, behh……nguapnya bukan lagi keluar air mata, ingus juga keluar. Tapi pas kelar kajian, beh………berasa habis cuci mata gitu, bening bersinar, ingus juga tiba-tiba kering sendiri. Hahaha bener-bener deh keadaan lagi mempermainkan gue.

Huh, nggak kehitung “huh” keberapa sejak kemarin. Sampai temen kerja gue bilang, “Huh-Heh-Huh-Heh ini kalau keluar keong udah bisa lari tuh keong.” Tapi bukannya keadaan sekarang emang bikin hela napas, yak! Udah seneng-seneng New Normal malah ada covid varian baru, malah kasusnya nambah lagi, PPKM lagi. Di tempat gue hampir tiap hari ada kabar kematian dan kebanyakan karena covid. Emang yang paling bener, kita jaga diri kita masing-masing, iya, masing-masing. Selalu pakai masker, selalu cuci tangan atau pakai handsanitizer, sebisa mungkin ngejaga jarak, iya, jarak. Kalau nggak perlu-perlu amat nggak usah pergi, kecuali kalau berburu makanan, itu langsung gaslah, karena berburu makanan bisa jadi obat gantiin ketemu sama temen-temen. Dosisinya beda 11-12 lah, bisa jadi salah satu cara kita untuk menjaga kewarasan. Doa-doanya juga dipertebal, ibadahnya makin diperketat. Saling mengingatkan aja sih sebagai sesama manusia.

Mulai dari nol, nggak tahu kenapa kalimat itu tiba-tiba muncul aja di otak gue. Padahal gue nggak isi bensin atau tukang ngisi bensin. Tapi rasanya, kalimat itu bisa menjabarkan banyak hal. Kalau diucapin pas lebaran, artinya semua kesalahan selama 1 tahun itu dihapus pas hari lebaran, nah barulah habis itu bikin skor baru lagi. Kalau diucapin di pom bensin ya meteran penujuknya dari nol. Kalau diucapin sama orang yang habis putus, kurang lebih ya kita ulang dari awal, samalah kayak, “kita ulangin dari awal ya-kita mulai dari awal ya” tapi asli itu kalau diterapin disebuah hubungan, agak susah sob.

Ibaratnya gini, kertas HVS nih, ukuran bebaslah F4 boleh, A4 boleh, A3-manila silakan. Dateng nih, 2 orang sama-sama pegang spidol, merk bebas dah, snowman, joyko, kenko, apalah. Terus mulai nih nulis, bebas dari sembarang ujung, sampai akhirnya ketemu tuh, nyobakan nulis berdua, tapi ternyata di simpang lima salah satunya bikin salah, entah karena coretannya nindih, atau malah nyoretnya nggak searah, atau pas nyoba digabungin coretannya dari awal (pertemuan) nggak nyambung, akhirnya ada sedikit perdebatan. Di situasi itu ada beberapa pilihan, kita bisa aja milih, “oke deh lanjutin masing-masing aja.” Atau, “ini nih gue ada tipx, kita hapus bagian yang salah aja, terus mulai dari awal.” Menurut gue semuanya sah-sah aja, nggak ada pilihan salah atau benar, karena keduanya solusi. Tinggal gimana cara 2 orang itu berdiskusi untuk membuat sebuah keputusan.

Keduanya juga punya risiko masing-masing, bisa aja kalau kita milih yang pertama mungkin sempat berat di awal tapi semuanya perlahan membaik, lo bisa jalan sesuai apa yang lo mau, gambaran yang udah lo bayangin, bisa aja terwujud. Kalau yang kita mulai dari awal atau pilihan kedua, ya ada kemungkinan berhasil. Tentunya dibarengi diskusi yang baik, merencanakan gambaran dan diputuskan berdua. Mungkin bakalan ada perbedaan pendapat, terus ungkit-ungkit bekas yang udah nyoba dihapus tadi. Tapi selama komunikasi yang dijalin itu baik, nggak besar ego, mau saling mendengarkan dan bertenggang rasa semua pasti baik-baik aja.

Itu yang gue pelajari selama pandemi ini. Pekerjaan yang serba online, laporan online, materi pembelajaran disuguhkan juga bentuk file bukan lembaran kertas/buku lagi. Yang artinya itu nambah job list-gue. Kadang semuanya minta cepet, minta didahuluin, padahal yang harusnya didahuluin itu perkara Allah. Belum lagi kalau ada revisi-an, ini kepala isinya berasa orang ribut. Pengen deh sekali-kali bilang, “Woyy!! Gue nangis nih!!! Denger kagak!! Otak gue meledak denger omongan lu semua!!!” haaha enak kali ya bisa omong gitu ke klien, walaupun habis itu bisa aja pada nggak dateng lagi.

Kalau kejadiannya di kondisi normal mungkin itu bakal kerasa biasa, karena setelah kita capek kita bisa main-kumpul sama temen terus sharing. Tapi kalau kondisi PPKM gini mau sharing lewat zoom, video call, telpon, chat, ya nggak ada seru-serunya. Ya kalau sinyalnya mendukung, kalau nggak, yang ada malah nambah masalah lagi, bisa salah paham, bisa salah ketik.

Ini baru urusan pekerjaan, belum urusan dari lapis lainnya. Bener-bener dah, kalau keluarnya barengan bisa meledak beneran ini otak. Bener-bener kita dituntut untuk survive kalau emang masih pengen hidup. Nyari hiburan dari diri sendiri untuk diri sendiri, menenangkan diri dengan tetap di rumah, nguatin ati sendiri. Beruntunglah mereka yang punya temen yang baik, yang bisa support terus walaupun nggak bisa ketemu langsung, punya keluarga yang bisa membantu juga, saling menghibur pas capek-capeknya, punya peliharaan mungkin yang bisa jadi pengganti temen, punya pasangan juga yang bisa selalu menguatkan. Bersyukurlah, karena itu menjadi nikmat rizki yang cukup susah dicari.

Tapi……charger-an gue ilang. Jadi mari kita selesai di sini aja. Hahaha. Terima kasih, semoga pandemi selesai tahun ini. Ya paling nggak bisalah kita balik ke New Normal lagi, nggak ada PPKM kegiatan berjalan lancar walaupun tetap menjaga prokes. Semoga dunia nggak bercanda lagi, malaikat Izrail juga kelar panennya, biar manusia bisa panen padi, jagung, brambang, semangka, melon, dan sebangsanya. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...