Sebuah lagu bukan kaleng-kaleng. Hahha
Arash Buana, sedikit bahas penyanyi ya. Berdasarkan Wikipedia Indonesia, Arash Buana (kelahiran Jakarta 12 Juni 2003) seorang penyanyi, penulis lagu, actor dan presenter. Gila nggak tuh, masih muda tapi bakatnya kayak sate, rentengan. Dia mulai aktif di tahun 2012 sampai sekarang, pernah main di Filosofi Kopi (2015) dan punya 17 singel. Pertama kalinya gue tahu Arash Buana ini lewat lagu yang Depressed Sometimes yang di rilis 2020. Pertama denger langsung nancep aja gitu dikepala, enak suaranya dan gue suka sama gitarannya. Habis itu, gue mulai nyari lagu lainnya, ada I’ll be friends with you, Say you’re done with me, dan yang terbaru LMAO I Just broke up yang dirilis di tahun ini.
Tapi, untuk kali ini gue mau bahas yang Say you’re done with me. Sekilas cerita aja, karena kemampuan berbahasa inggris gue cethek, gue nyoba nyari terjemahan liriknya dan yang nggak gue sangka, gue nemu terjemahan dari bahasa inggris ke bahasa jawa coba. Bahh……heran aja, biasanya kan ke bahasa Indonesia itu cukup ya, lah bahasa jawa dong…lebih memudahkan gue memang.
Kembali ke lagunya, kurang lebih lagu ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang dia ngerasa nggak pantes buat si perempuan yang dia suka ini dan meminta si perempuan untuk bilang “kita udahan aja” walaupun menyakitkan buat si laki-laki itu lebih baik daripada si laki-laki ini lihat si perempuannya sakit hati melulu pas bareng dia. Itu sepahamnya gue ya, untuk lebih lengkapnya bisa googling atau dengerin sendiri, atau bisa cek di video yang gue bilang tadi.
Sedikit curhat, nggak sih, emang tujuan gue nulis ini buat curhat, mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam pikiran gue. Kurang lebih hampir sama sih sama seperti yang gue alamin. Baru-baru ini, gue harus merelakan seseorang yang sempat gue harapkan bisa jadi masa depan gue karena satu dan lain hal. Perkenalan kami bisa dibilang sangat singkat sekali, awalnya gue yang ngeberaniin untuk kirim pesan ke dia dan berujung kenalan secara resmi, karena sebelumnya Cuma sekedar tahu. Ngobrol-ngobrol-ngobrol, sampai gue akhirnya jujur soal perasaan gue, tujuan gue chat dia duluan dan sebagainya. Alhasil dia menghargai itu dan merasa nyaman. Tapi karena tujuan kami berbeda saat itu akhirnya kami memutuskan untuk membatasi komunikasi. Keputusan itu gue yang bilang, tapi gue juga yang ngerasa nggak nyaman dan pengen chat dia lagi. Sampai akhirnya lebaran, dengan alibi “Mohon Maaf Lahir Batin” gue berani kirim chat ke dia. Saat itu gue mulai ngerasa beda, entah emang saat itu situasi dia juga beda atau gimana. Kembali lagi, kami nggak komunikasi lagi dan barulah akhir-akhir ini komunikasi kami lumayan sering. Sekedar bercanda, atau ngebahas cerita-cerita, sembarang kalir lah.
Nah di sini nih, karena sejak awal tujuan kami beda, maka di akhir ini pun kami masih beda. Dia akhirnya bilang ke gue, ada alasan yang menghabat hubungan kami untuk saat ini dan mungkin juga kedepannya. Detik itu, gue mulai sadar kalau ada fakta “tujuan berbeda” tadi. Padahal kalau gue sadar, gue nggak akan sedalam ini jatuhnya, berekspektasi tinggi, dan sebagainya. Dia juga sering bilang ke gue untuk secukupnya, nggak terlalu berharap dan lainnya. Tapi kembali lagi, gue selalu melupakan fakta dan memilih ngerjain ego gue dengan dalih, “gue bisa kok ngatasinnya” semisal gue akhirnya kecewa gue bisa untuk baik-baik aja, dan misal-misal lainnya. Sok-sokan kuat, padahal pas dihadepin beneran ilang guenya.
Waktu itu gue bales, “ya udah, nggak papa.” dan kalimat-kalimat sok kuat yang bisa gue katakan. Gue menunjukkan bahwa ya emang harus nggak papa, karena itu salah gue sendiri yang udah diberi peringatan tapi sok buta, sok tuli, emang sewajarnya dapet ganjaran kayak gitu. Yang kenyataannya gue kesulitan sendiri mengkondisikan semua anggota tubuh gue. Hahahha.
Reaksi pertama gue jelas sedih, terus gue mencoba hibur diri gue karena mengingat gue masih harus kerja, gue juga bercanda sama keluarga gue. Tapi…ketika gue diem, berasa kosong sob. Gimana ya, gue yakin sih beberapa orang pasti maksud dengan omongan gue. Lo bisa ketawa, lo bisa bercanda, bikin jokes, tapi habis itu udah, pas lo diem, lo sendiri, ya lo ngerasa, “Anjirrr…dia lagi yang muncul. Kenangan itu lagi yang lewat.” Emang nggak gampang ternyata. Lo nggak ada selera ngapa-ngapain, mau tidur juga nggak bisa nyenyak, berasa dipaksa buat, “udah lo sedih aja sekarang. Nangis sekalian, pokoknya sekarang lo harus sedih” tapi sebagian dari lo juga nggak mau seperti itu, karena merasa bertanggung jawab atas omongan sendiri untuk nggak papa dengan situasi tersebut.
Dari awal sampai akhir, terhitung kurang lebih 4 bulan. Dan gue pikir gue bisa melewati kesedihan ini lebih cepat dibandingkan sebelum-sebelumnya. Gue merelakan untuk bersedih saat ini, karena gue pikir itu juga perasaan gue yang harus gue ekspresikan. Semoga, cukup sampai saat ini aja. Besoknya gue bisa menjadi seperti biasanya, ketawa beneran, bercanda beneran, yang selepas itupun gue nggak akan ngerasa kenapa-kenapa.
Dengan cerita seperti ini, juga menjadi salah satu cara gue mengobati kesedihan. Nggak Cuma pas patah hati, ketika gue penat dengan urusan kerjaan, gue juga akan ngeluh seperti ini. Membahas kenapa gue harus kerja seperti ini, kenapa uang harus menjadi poin penting untuk bertahan hidup, kenapa manusia yang gue temui dan bekerja dengan gue seperti ini. Rasanya gue seperti membuang sampah dalam diri gue yang tentunya masih bisa didaur ulang, gue bisa mengambil pelajaran dari permasalahan-permasalahan itu.
Terus apa hubungannya sama lagu Arash? Ya…gue juga lagi mikir.
Jadi, sekuat-kuatnya orang menahan, selantang-lantangnya orang berteriak, ketika itu berkaitan dengan perasaan, gue rasa itu nggak semudah yang kita lihat bahwa dia mudah mengatakan, mudah memperlihatkan. Seperti lirik awalnya, “Kamu pikir aku bisa mengatasinya, meninggalkan dan menemukan orang baru, tertawa seperti tidak terjadi apa-apa, menyembunyikan kebenarannya” pada akhirnya akan ada waktunya dimana lo menangis, lo merasa terpuruk. Karena memang itu harus dilewati. Sama seperti yang gue bilang di awal, karena gue berpikir ini perkenalan singkat 4 bulan, gue bisa dengan mudah melewatinya, tapi kenyataannya juga nggak segampang itu. Lebih baik bertahan semampunya, ketika memang sudah tidak bisa lebih baik istirahat dan meluapkan semuanya. Lakukan apa aja yang saat itu pengen lo lakukan untuk diri lo sendiri. Misal lari, jalan-jalan, nge-mall, nge-game, dan nge-nge lainnya yang positif, yang bisa membuat lo semangat lagi, buat lo kembali ke mode aman, dimana lo bener baik-baik saja dan bisa menerima apapun itu situasinya.
Komentar
Posting Komentar