Langsung ke konten utama

WAKTU INDONESIA BERCERITA : KERJAAN

"Lo sekolah yang pinter, nilai bagus, kerja dengan gaji yang besar” Itu sih yang sering gue denger.

“Capek wajar, tapi jangan jadiin itu alesan buat lo males!!!”-“Inget! Nyari kerjaan susah!”-“Bersyukur kamu masih dipercaya sama atasamu!”

Kalimat-kalimat yang ada diotak gue selalu tentang lo harus kerja-kerja-kerja. Jangan sampai kecewain atasan lo, bikin marah rekan kerja lo, bikin kabur klien. Hahaha…lama-lama itu mirip tekanan sih, berasa berjalan atau tidaknya tempat kerja lo jadi tanggung jawab lo sendiri. Padahal bukan lo yang punya.

Gue udah kerja sekitar 4 tahunan setelah lulus SMK. Itu emang kemauan gue karena gue tidak begitu tertarik dengan kuliah. Saat itu yang ada dipikiran gue, kuliah Cuma bakal nambah ribet gue dan keluarga. Karena kemampuan berpikir gue yang pas-pasan dan ekonomi keluarga yang nggak bagus-bagus amat. “Kan ada beasiswa,” emang bener, tapi gue nggak akan lolos, karena pihak kampus pun membatasi jumlahnya, juga mempertimbangkan nilai calon mahasiswa pastinya.

Di tahun pertama gue kerja, rasanya enak nggak enak. Bagian enaknya ketika untuk pertama kalinya gue kerja dan berhubungan dengan orang di luar sana, mereka menyukai gue, cara kerja gue, sikap gue, hasil kerjanya. Nggak enaknya ketika, untuk pertama kalinya gue mendapatkan proyek besar, dan gue gugup sampai blank.Gue lupa apa yang klien gue bilang, jadi waktu itu ada kesalahan dan untuk usaha yang belum besar, kami rugi. Sejak saat itu sampai sekarang, gue selalu takut ngerjain proyek yang memiliki nilai dan risiko besar menurut gue.

Di tahun kedua, gue pindah tempat kerja, adapun jenis pekerjaannya masih sama. Dan kekhawatiran gue makin banyak lagi. Gue termasuk orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan dan suasana baru. Bisa dikatakan tempat kerja gue yang kedua ini besar. Setiap hari dari pagi sampai sore nggak pernah sepi pelanggan. Dengan perbedaan suasana itu gue mulai gugup lagi dan sering melakukan kesalahan. Setiap harinya pun, setiap kali gue berangkat, gue udah gugup duluan membayangkan akan serame apa hari ini. Bahkan ketika 1 minggu kerja rasanya gue mau keluar. Tapi keluarga gue bilang salah satu dari kalimat-kalimat yang tadi. Dan gue hanya bisa bertahan.

Gue bertahan, walaupun kadang 1 minggu gue absen 2 atau 1 kali. Mungkin karena pikiran gue sendiri akhirnya gue kena asam lambung. Gue merasa tahun-tahun itu gue nggak pernah tenang, pikiran gue berisik, dan tetap tidak siap untuk kerja. Tapi di sisi lain, gue cukup menarik untuk beberapa pelanggan di sana, mereka senang dengan hasil kerjaan gue dan mempercayakan beberapa proyek besar kepada gue. Perlahan gue juga bisa terbiasa dengan suasana ramai itu, proyek besar juga gue terima ketika gue mampu ngerjainnya. Tapi ketakutan gue mulai naik lagi. Yaitu diri gue sendiri.

Gue takut hanya karena gue mampu akhirnya gue meremehkan yang lainnya dan berlaku seenaknya. Gue takut ketika semuanya justru gue pegang dan ternyata gue tidak mampu, gue hanya merepotkan orang lain. Ketika akhirnya kemampuan dan kualitas kerjaan gue tidak seimbang dengan seiring berjalannya waktu dan gue gagal, rasanya itu seperti gue yang menyebabkan kegagalan itu. Di sisi lain, gue juga nggak bisa terus memaksakan diri untuk IYA kesemua hal, untuk terus kerja sekalipun udah lewat jam kerja. Tapi ketika gue berpikir untuk berhenti, kalimat-kalimat itu datang lagi dan mulai berisik di kepala. Ketakutan tentang kehilangan kepercayaan klien, aduan dari klien ke atasan, dan berakhir teguran dari atasan.

Sesekali gue mengambil waktu untuk rehat, gue mencoba merunut semua kejadian yang membuat gue merasa lelah dan kehilangan semangat. Nggak sepenuhnya itu salah klien ketika meminta gue mengerjakan sesuatu di luar jam kerja, karena mereka juga didesak pihak lain, begitu juga pihak lain yang mungkin memang diburu oleh orang yang lebih berkuasa. Tidak juga dengan rekan kerja atau atasan gue, mereka memberi gue pilihan untuk menerima dan menolak, mereka juga tidak keberatan untuk membantu selama bisa. Tapi terlepas dari itu mereka juga memiliki kerjaan lain yang sama gentingnya. Gue hanya berpikir, yang ada disini dipercaya oleh orang di luar sana, beberapa orang lebih percaya dengan si A, si B, dan seterusnya. Ya udah, yang terpenting kerjakan aja, sebisa mungkin, sekuat mungkin, kerjakan apa yang menjadi bagian masing-masing sampai tuntas, kemudian rehat. Karena pada dasarnya kami semua juga kelelahan, hanya saja gue yang paling tidak bisa menahan diantara rekan kerja lainnya.

Gue mencoba untuk mengerti kondisi semua orang di sini, yaa…karena pada dasarnya itu semua simbol simbiosis mutualisme, mereka meminta kami ngerjain tugasnya karena dia tidak mampu, kami bekerja pagi-sore karena butuh uang dari mereka. Suka ketawa aja ketika harus melihat, mendengar, merasakan kenyataan yang…lucu. Mau tidak mau, sebisa mungkin, orang yang tidak terlahir dengan kekayaan harus berjuang untuk punya uang, karena sebelum menuju ke kehidupan kedua kita butuh uang untuk bernapas lebih lega.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...