Tekanan. Awalnya gue hanya mengenal sebatas rumus besar gaya dibagi luas permukaan dalam ilmu fisika. Tapi semakin kesini rumus yang lebih pas dalam kehidupan sehari-hari justru besar beban dibagi waktu. Dimana semakin besar beban dengan perbandingan waktu yang sedikit, maka tekanan hidup lo pastinya berat, hahaha. Gue nemuin rumus itu pas lagi bengong nggak jelas, momennya juga pas karena akhir-akhir ini kondisi mood gue naik turun makin nggak jelas. Mungkin karena gang mental disorder ini mainnya kroyokan ya, jadi kepancing sama hal sepele aja bisa pecah perang dunia yang kesekian kalinya di dunia gue sendiri tentunya.
Itu hanya sebatas pikiran bloon gue pas lagi banyak pikiran sih. Haha, kebiasaan yang kalau gue pikir aneh banget. Padahal posisinya baru banyak pikiran, yang rasanya tuh saking banyaknya kita kayak nggak bisa mikir, kelihatan goblok dan kosong gitu tatapannya, tapi sebenernya juga mikir, tapi yang dipikir random banget, nggak ada yang penting sama sekali. Contohnya soal rumus tadi. Tapi emang gitu kali ya, kayak yang dibilang Baskara “Hindia”, kadang ketika lo diem atau mungkin pas lagi ngelakuin sesuatu, pikiran lo bisa tiba-tiba mikir hal-hal random, bisa tiba-tiba kepikiran harga rumah, atau tayangan bola minggu depan, sampai pertanyaan bodoh seperti “ukuran tai semut seberapa ya?!” Hal-hal yang kalau dipikir baik-baik, dalam kondisi normal itu bodoh sekali. Seolah-olah banyak sekali waktu luang sampai-sampai mikirin ukuran tai semut.
Sebenernya kalau gue mau sabar lebih lama lagi mungkin gue bisa ngontrol mood gue yang udah kayak angin topan ini sih. Karena korbannya orang sekitar juga, yang nggak tahu apa-apa. Tapi ya gimana, udah bawaan dan susah untuk menata ulang. Gue pikir pola pikir gue sekarang ini, mungkin juga kalian, itu ditata pas kita masih usia anak PAUD/TK. Jadi ketika penataan awalnya sedikit ricuh tanpa perbaikan disetiap pertambahan usianya, ya pas gedhe besar kemungkinan nggak cocok sama situasinya dan perbaikannya pun bakalan susah.
Gue mencoba mengenal diri gue sendiri dengan melihat orang di sekitar gue. Ada orang yang dia sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja tapi masih bisa enjoy sama orang lain. Ada orang yang dalam kondisi tidak baik-baik langsung ngajakin temennya nongkrong terus dia curhat. Ada orang yang tidak baik-baik saja dan kelihatan kalau dia tidak baik-baik saja, tapi bisa masa bodo, fokus aja sama yang lagi dikerjain. Sedangkan gue adalah orang yang ekspresif, ketika gue seneng semua badan gue seolah-olah memperlihatkan hal itu, begitu juga ketika gue sedih atau marah, kecewa. Makanya sering banget gue ditegur sama orang karena perasaan gue terlalu kelihatan.
Gue sebenernya capek sih punya sifat seperti itu, gue juga sadar banyak orang yang pasti nggak betah sama orang seperti gue. Bersyukurnya gue masih memiliki kelebihan yang dibutuhkan oleh orang lain, jadi gue masih dipertahankan, hahaha. Selain ekspresif, gue juga orang yang overthinking, hal-hal kecil, hal-hal remeh aja bisa gue pikirin berhari-hari. Yang paling sering gue lakuin sih, pas gue mau ketemu atau pergi ke suatu acara, yang orang-orangnya mungkin sedikit asing atau karena udah lama nggak ketemu, gue selalu nge-ide aja ngerancang nanti kalau ketemu nyapanya gimana ya, enaknya gue bahas apa ya kalau pas sama-sama diem dan ketika waktunya udah tiba, apa yang gue rencanakan di pikirkan itu nggak bisa gue lakuin, terus situasinya menurut gue nggak sesuai ekspektasi, yang akhirnya gue akan kecewa sendiri. Bahkan gue juga pernah ngebatalin dateng ke acara karena dalam bayangan gue itu nggak akan cocok sama sekali, gue berpikiran, teman akrab biasanya nggak ada, mereka udah ada temen akrab masing-masing, ya gue sendirian dong sampai akhirnya gue batalin dan tidur di rumah.
Ekspresif, overthinking, nggak akan jauh-jauh amat dengan baper juga. Itu semacam paket komplit kalau diibaratin menu ayam geprek tetangga gue. Dan itu bener-bener yang bikin nyiksa gue sampai saat ini. Perubahan mood yang menurut gue cukup mengganggu untuk gue berhubungan dengan orang diluar circle terdekat gue, dan pastinya akan menjadi penilaian pertama yang buruk buat orang itu. Mungkin juga, gue termasuk orang yang tidak bisa ditebak, karena gue menyadari bahwa gue sering berbohong atas perasaan gue sendiri. Bukan sekedar gue kenapa-kenapa terus bilangnya nggak papa. Kadang perasaan suka-tidak suka, bisa gue manipulasi dan tentunya gue sendiri yang rugi akan hal itu.
Sejauh ini, gue masih sebatas diam. Gue masih egois dengan tetap seperti ini, yang sadar tapi masih nggak berubah. Karena untuk berubah nggak akan semudah apa yang gue pikirkan, nggak semudah yang orang saranin, nggak bisa gitu aja. Beberapa orang terdekat gue sering nyuruh gue untuk cerita, mungkin sesekali gue cerita tapi rasanya bukan pokok masalahnya yang gue ceritakan, entah sengaja atau tidak, tapi gue lebih sering seperti itu. Selain itu gue bukan orang yang gampang untuk ngomong, walaupun secara tingkah laku gue ekspresif tapi kalau ngomong gue nggak pernah bisa to the point. Yang ada dipikiran gue, ketika gue ingin menceritakan masalah A berarti gue harus ngejelasin dari awal biar ni orang nggak salah paham sama cerita gue, dan kalau itu butuh waktu lama, ada kemungkin orangnya nggak paham, atau mudah bosen, gue memilih untuk nggak cerita dan akhirnya gue pendem sendiri.
Tipe orang yang nggak mau ribet tapi secara nggak langsung gue memperibet hidup gue sendiri dengan hal-hal itu. Tapi gue bener-bener bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang yang tersisa sampai detik ini, entah mereka menganggap gue atau nggak, tapi gue anggap karena keberadaannya yang masih bersama gue, masih mau bertahan walaupun banyak sekali kekurangan gue yang mungkin merugikan, menyebalkan dan banyak hal. Masih mau dengerin gue ngomong sembarang, masih percaya dan mau bercerita ke gue, butuhin gue. Semoga aja betah terus sampai kita kepisah batas waktu masing-masing.
Komentar
Posting Komentar