Langsung ke konten utama

WAKTU INDONESIA BERCERITA : TEMAN

Teman tapi menikah, teman tapi saling suka, teman tapi mesra, teman tapi boong.

Terlewat dari itu semua, yang perlu digaris bawahi adalah rasa nyaman yang pernah dia kasih ke kita, atau hal-hal lain yang membuat kita bilang, “Oh ini nih, namanya temen.”

Menurut gue temenan itu adalah hubungan dua arah. Bukan lo yang selalu ada pas dia sedih, terus ketika udah kelar masalahnya dia bahagia bareng yang lain. Orang yang awalnya bakalan ngatain kita kalau ngelakuin kesalahan yang sama tapi habis itu tetep dikasih tahu lagi. Orang yang intinya entah keduanya atau ketiga keempat, kelimanya selalu dateng ke lingkaran itu baik seneng maupun susah. Itu temenan akrab sih lebih tepatnya. Beda lagi sama rekan ya, menurut gue itu hanya sebatas kerja sama, saling menghormati untuk kepentingan yang sama.

Gue pernah beberapa kali ngerasa dihubungan Cuma gue yang nganggep temen, setelah tahu ohh ternyata dia hangout sama ini ya, oh liburan ke sini sama sinu ya giliran putus, nangisnya ke gue, minta solusinya ke gue dan pas gue butuh dia ngrespon siih, tapi selalu bilang bentar ya gue ini dulu itu dulu. Ya…nggak papa sih, emang Cuma gue yang nggak ada kesibukan setiap waktunya.

Gue rasa kalau ada hubungan seperti itu mungkin alangkah baiknya koreksi aja sih, nggak usah nyalahin orang lain yang nggak ngehargain kita atau Cuma sekedar manfaatin kebaikan kita. Kasarannya gini dia nggak nganggep lo, dia manfaatin lo ya…karena lo Cuma bisa diambil bagian itunya. Selebihnya lo menyebalkan buat dia, lo tidak gaul, lo tidak selevel, lo tidak bla…bla…blaa lainnya yang menurut orang lain membuat lo menjadi tidak sefrekuensi sama dia. Tapi bukan berarti lo harus menyamakan atau berubah karena satu orang ini, tetep jadi orang yang nyaman buat diri lo sendiri dan lama kelamaan lo akan nemuin orang yang nyaman sama lo-lo nyaman sama dia.

Temenan beda jenis, sah-sah aja sih. Manusia temenan sama hewan, manusia juga ada yang punya temen makhluk halus, manusia juga ada yang sering ngajakin ngobrol taneman pas siram-siram, yang beda jenis sampai beda alam aja bisa, apalagi Cuma beda jenis kelamin. Perkara baper-baperan itu urusan per-individunya. Gue rasa mengenal seseorang sebelum meng-klaim “ini temen gue” itu perlu, termasuk mengetahui dia ini orang yang baperan nggak sih?! Dia ini ada pasangannya nggak? Salah-salah nanti ya emang bakal bisa bikin sakit hati. Kalau emang nggak mau bikin baper ya milih antara nggak usah temenen atau batasi perhatian, jangan nyalahin orang lainnya yang baperan. Karena pada dasarnya baperan itu masih manusiawi, dia masih punya perasaan yang ibaratnya masih baru banget, lugu, polos, belum pernah disakitin yang sampai bikin perasaannya mati. Baik itu cewek atau cowoknya ya, karena cewek pun nggak menutup kemungkinan bakalan bikin ngarep cowok. Jadi mengenal dan beretika dalam pertemanan itu perlu kalau pengen hubungan pertemanan beda jenis kelamin ini berjalan baik. Dan menurut gue terus terang sejak awal atas tujuan kedatangannya itu juga perlu. Apakah memang murni mau temenan atau niat ngedeketin karena suka, intinya alasan awal lo sampai mau deket atau kenal lebih sama dia itu apa. Cewek juga kalau misal nggak ada niat lebih dari temen, pas dikasih perhatian lebih jangan dimakan dong, bisa bikin salah paham cowok juga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...