Langsung ke konten utama

WAKTU INDONESIA BERCERITA : TUTUP BUKU

Tahun 2021 sebentar lagi berakhir. Betapa menyenangkan dan mengejutkan semua kejadian di tahun ini. Entah drama Covid, drama percintaan, drama kehidupan, sesuatu yang tidak pernah kita duga kedatangan sampai hal-hal yang sudah coba kita rencanakan. Alhamdulillah semua masih bisa dinikmati dan diambil pelajarannya.

Tiba-tiba aja gue keinget jaman-jamannya gue deket sama seseorang. Yang bisa tiap malam chatting, saling nanya gimana hari ini, apa kesibukannya. Saling pamit tiap kali mau ada kegiatan yang nggak memungkinkan ngakses HP. Saling mengingatkan untuk ibadah dan kebutuhan umum manusia, aka makan. Sayangnya, hanya sebentar dan mungkin nggak akan ada kelanjutannya. Sialnya, sudah lebih dari 3 bulan aku tidak bisa sesantai itu setiap mendengar atau mengingat hal-hal yang berkaitan dengannya.

Kadang ada keinginan untuk kembali menyimpan nomornya, melihat kegiatannya dari story, tapi rasanya akan semakin menyulitkan perjalananku untuk mengikhlaskan. Kadang ada keinginan untuk menghubunginya sekedar menanyakan “Apa kabar?” tapi kenapa terdengar aku benar-benar satu-satunya orang yang tidak bisa lupa, walaupun memang seperti itu kenyataannya.

Mungkin sama seperti ketika aku memberikan kesan pertama kepadanya. Cukup aku sampaikan melalui tulisan. Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal walaupun singkat. Terima kasih juga sudah menjadi teman yang baik, menjadi pendengar yang baik, menjadi penasehat yang baik. Terima kasih karena sudah merubah sedikit banyak hal dalam kehidupanku. Semoga saja kehidupan tahun depan kita sama-sama menemukan kebahagiaan yang kita harapkan masing-masing. Semoga saja kedepannya semuanya juga akan membaik.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...