Langsung ke konten utama

FOR REVENGE JEDA

Lama banget gue nggak review lagu atau buku. Maklumlah mood baca gue agak menurun akhir-akhir ini, selain itu gue juga belum nemu buku yang rasanya pengen gue baca. Sama halnya dengan nonton drama Korea, bener-bener gue lagi males buat nonton drama kecuali dari episode awal emang udah menarik menurut gue. Itu pun gue kadang masih males juga buat nonton kelanjutannya.

Dan kali ini, gue mau review lagu dari For Revenge (fR) yang berjudul Jeda. Dari informasi yang gue temukan tentang For Revenge, band beraliran Emo/Modern Rock dari kota Bandung ini terbentuk sejak 2006 oleh Abie Nugraha, Hagie Juliandri, Boniex Noer, Arief Ismail, dan Arie Pribadi. Band ini sempat mengalami beberapa kali ganti personil dan di tahun ini mereka kembali dengan formasi Boniex (vocal), Chimot (drum), Chikal (gitar), Izha (bass) dan Pras (gitar). Adapun karya album pertama For Revenge rilis pada 2011 yaitu Fireworks, disusul album kedua dengan Second Chance, dan album ketiga bernama Auristella. (superlive.id)

Gue sendiri tahu lagu For Revenge ketika mereka merilis lagu Perayaan Patah Hati di tahun 2020 bersama Wira Nagara. Seinget gue saat itu gue lagi seneng-senengnya sama karya Wira Nagara dan muncullah rekomendasi lagu itu. Tapi setelah itu gue udah nggak ngepo-in For Revenge lagi, sampai akhirnya ada temen gue yang rekomendasiin lagu For Revenge di album Second Chance dan hampir semua lagunya gue suka. Sampailah gue tahu lagu Jakarta Hari Ini yang dirilis 30 April 2021, yang awalnya gue nggak begitu suka, cuma setelah gue denger terus-terusan di FYP tiktok, lagu ini malah berasa menjadi lagu kebangsaan patah hati gue. Sampai sekarang bahkan. Karena setelah gue dengerin dengan serius, gue resapi tiap katanya, gue dapet poin dari lagu itu. Ditambah lagi suara mbak Cynantia Pratita, vokalis dari Stereo Wall, makin jadi sih lagunya.

Oke, kembali ke topik dimana gue mau bahas lagu Jeda dari For Revenge. Gue tahu lagu ini dari Youtube, yang mana video lirik dari Jeda ini dirilis tanggal 12 Februari 2022. Lagu yang bertema Patah Hati ini dijelaskan Boniex menceritakan tentang sebuah akhir hubungan yang dimulai dengan salah akan berakhir dengan salah juga dan "Jeda" menjadi saat yang tepat untuk berhenti sejenak setelah melewati masa-masa berat, untuk merefleksikan diri dan kemudian melanjutkan kisah dalam kehidupannya. (Kompas.com)

Ini dia alasan gue kenapa bisa langsung klik sama lagunya, karena gue juga memaknai lagu ini sama seperti kata Boniex, mungkin karena gue pernah mengalami sendiri, hingga berkali-kali malahan. Mungkin kita nggak akan merasa bahwa itu salah pada awalnya, tapi setelah kita di posisi Jeda itu kita baru bisa melihat alasan kenapa sebuah hubungan itu berakhir dengan tidak baik-baik saja. Salah satunya juga pengalaman gue dengan Jamil kala itu.

Selain perihal hubungan dengan orang lain, gue mencoba menafsirkan lagu ini perlunya kita mengambil "Jeda" dalam hidup kita sendiri. Mungkin setelah kita mati-matian berusaha namun hasilnya nggak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Mungkin setelah kita berjuang mempertahankan sesuatu sampai bertaruh apa yang kita miliki dan bahkan bertaruh sesuatu yang menurut kita paling berharga, tapi tetap saja kita yang kalah. Maka dari itu perlu kita mengambil jeda untuk berhenti sejenak dari peperangan itu, beristirahat untuk melihat dan memaknai semua kejadian tidak mengenakkan itu untuk diambil hikmahnya. Setelah kita merasa baik-baik aja, setelah kita bisa menerima kejadian itu, barulah kita melanjutkan perjalanan, entah itu mencoba memperbaiki lagi, entah berusaha untuk melepaskan, mengikhlaskan semua itu. Bangkit dan merancang rencana selanjutnya agar kita nggak terpuruk dalam kenangan buruk itu.

Part yang paling ngena menurut gue adalah part terakhir, Kau berkata, "Janganlah memulai yang tak bisa kau akhiri" Dan kau berkata, "Jangan menginginkan yang tak bisa kau miliki" Dihhhh...itu bener-bener gue berasa dinasehatin sama fR, inget nohh....lo tahu nggak bisa miliki jadi nggak usah berharap lagi. Dan jujur aja, itu kalimat yang sampai sekarang, detik gue nulis review ini, masih gue renungkan dan mencoba gue yakini agar gue nggak coba-coba memulai sebuah hubungan yang salah.

Yahh...gue membenarkan bahwa lagu itu bisa menjadi obat sakit yang ada di dalam tubuh kita. Sakit yang nggak kelihatan tapi rasanya bener-bener nggak ketahan. Nggak sedikit juga kita malah lebih bisa menerima kritik dan saran dari pesan sebuah lagu daripada omongan temen atau keluarga kita sendiri. Entah karena kita mendengarkannya berkali-kali kemudian baru direnungkan atau memang cara dan kalimat yang dibungkus dengan melodi yang apik itu membuat kita lebih nyaman dengernya. Yang jelas, setiap orangnya pasti menilai dan memaknai semua hal, termasuk lagu, itu dengan cara berpikir mereka sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...