Langsung ke konten utama

OTEM : SENGAJA

Sengaja melakukan kesalahan biar dia tegur, sengaja mengulang-ulang pertanyaan biar bisa ngobrol, sengaja ngebiarin barang ketinggal biar dia ingetin. Sengaja nggak tahu  kalau dia niat ngejailin gue biar dia bisa ketawa karena merasa menang dan berhasil dengan rencananya.

Gue senang ketika gue nggak kerja terus dia kirim pesan nanyain, “kenapa?” apakah gue baik-baik aja? Kalau sakit, “udah minum obat atau belum? - Udah makan atau belum?” Gue seneng ketika gue yang tiba-tiba diem terus dia chat, “kenapa?- apa yang salah? - ada masalah apa?” gue juga senang ketika malam hari entah sengaja atau sekedar mengisi waktu luang, dia chat ke gue. Gue selalu senang entah sengaja atau karena sudah menjadi kebiasaan, dia selalu mengirim pesan ke gue walaupun satu kali.

Entah sengaja atau salah satu rencana jailnya, dia mengatakan rindu, dia memuji gue cantik. Gue senang dengan semua yang dia lakukan ke gue, sekalipun itu sebuah kritikan, karena pada akhirnya hanya omongannya yang gue dengarkan dengan baik.

Tapi, ketika memandangnya dari belakang seperti ini. Membuat gue sadar, sudah terlampau jauh aku berjalan mengikutinya. Tanpa sadar dinding harapanku pun sudah terbangun tinggi melampaui jangkauan tanganku. Tanpa sadar, hatiku sendiri sudah cukup terluka dan jauh dari kata baik-baik saja.

Dan akhirnya, aku memilih untuk membuat dinding lain, yang lebih tinggi dari harapanku. Akan aku jadikan pembatas perasaanku agar tidak terlampau jauh lagi. Aku tidak suka hanya berdua dan bercanda dengannya lagi, aku selalu berharap ada orang lain yang bisa menemaninya berbicara. Tidak masalah denganku yang akan kembali diam, karena pada dasarnya aku pendiam. Aku selalu berharap dia kan baik-baik saja, masih dengan tawa yang sama, masih dengan candaan yang sama, masih dengan ceria yang sama. Aku akan diam dan mendengarkan secara diam-diam, mendengar suaranya saja mungkin sudah lebih dari cukup. Untuk sisanya, biar aku biasakan sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...