Sengaja melakukan kesalahan biar dia tegur, sengaja mengulang-ulang pertanyaan biar bisa ngobrol, sengaja ngebiarin barang ketinggal biar dia ingetin. Sengaja nggak tahu kalau dia niat ngejailin gue biar dia bisa ketawa karena merasa menang dan berhasil dengan rencananya.
Gue senang ketika gue nggak kerja terus dia kirim pesan nanyain, “kenapa?” apakah gue baik-baik aja? Kalau sakit, “udah minum obat atau belum? - Udah makan atau belum?” Gue seneng ketika gue yang tiba-tiba diem terus dia chat, “kenapa?- apa yang salah? - ada masalah apa?” gue juga senang ketika malam hari entah sengaja atau sekedar mengisi waktu luang, dia chat ke gue. Gue selalu senang entah sengaja atau karena sudah menjadi kebiasaan, dia selalu mengirim pesan ke gue walaupun satu kali.
Entah sengaja atau salah satu rencana jailnya, dia mengatakan rindu, dia memuji gue cantik. Gue senang dengan semua yang dia lakukan ke gue, sekalipun itu sebuah kritikan, karena pada akhirnya hanya omongannya yang gue dengarkan dengan baik.
Tapi, ketika memandangnya dari belakang seperti ini. Membuat gue sadar, sudah terlampau jauh aku berjalan mengikutinya. Tanpa sadar dinding harapanku pun sudah terbangun tinggi melampaui jangkauan tanganku. Tanpa sadar, hatiku sendiri sudah cukup terluka dan jauh dari kata baik-baik saja.
Dan akhirnya, aku memilih untuk membuat dinding lain, yang lebih tinggi dari harapanku. Akan aku jadikan pembatas perasaanku agar tidak terlampau jauh lagi. Aku tidak suka hanya berdua dan bercanda dengannya lagi, aku selalu berharap ada orang lain yang bisa menemaninya berbicara. Tidak masalah denganku yang akan kembali diam, karena pada dasarnya aku pendiam. Aku selalu berharap dia kan baik-baik saja, masih dengan tawa yang sama, masih dengan candaan yang sama, masih dengan ceria yang sama. Aku akan diam dan mendengarkan secara diam-diam, mendengar suaranya saja mungkin sudah lebih dari cukup. Untuk sisanya, biar aku biasakan sendiri.
Komentar
Posting Komentar