Langsung ke konten utama

WAKTU INDONESIA BERCERITA : JODOH

Jika aku memang tercipta untukmu, jodoh pasti bertemu….banyak lagu yang terdengar ohh sangat mudah sekali menemukan jodoh tapi kenyataannya behh…emang kedah sabar euyy.

Gue belum ada target sih, tapi kalau ditanya ya paling nggak usia 25 lah, katanya itu usia yang matang buat menikah. Kalau disuruh pilih model taaruf atau temen tapi komitmen, untuk saat ini gue pilih temen tapi komitmen. Jadi kita udah sama-sama tahu sama-sama ada tujuan ke sana, saling ngenal tanpa harus pacaran, walaupun tetep aja bakalan disalahin sama para tetua di keluarga gue.

Mungkin karena zaman sekarang juga sih, jadi pola pikir gue lebih baik perindividunya kenal sendiri dulu sebelum akhirnya menikah, karena yang akan menjalani kehidupan itu dua orang ini bukan keluarga masing-masing atau orang lain. Tapi dengan taaruf pun semua juga akan baik-baik aja, pada dasarnya yang memilih untuk taaruf itu pasti orang yang baik dan tahu konsepnya, jadi ya kalau bisa ma…ikutan taaruf aja, pasti berkah juga karena berdasarkan syariat di agama islam.

Gue pernah sekali ditawarin buat taaruf tapi karena gue belum siap jadi gue nolak. Nggak nyesel juga sih, karena gue ngerasa belum pantas aja. Tapi pas ditawarin yang kedua juga sama jawabannya, masih belum siap. Beberapa temen gue bilang lu kalau nungguin siap sampai gunung Krakatau anaknya di deket merapi juga nggak akan siap dan itu bener, apalagi buat gue yang overthinkingnya lumayan, mau ukuran tahun pakai jari pun mungkin masih belum siap.

Tapi pada dasarnya emang penting untuk mempersiapkan diri menuju ke kehidupan yang sebenarnya menurut gue. Secara kemandirian, ketrampilan baik dapur baik dijahit menjahit, make up, dan segalanya itu perlu. Mental kita, baik untuk menghadapi masalah dalam lingkungan baru, yang harus dipikir berdua aja, menghadapi anak, ngeladeni suami juga. Di bayangan gue itu semua hal yang ribet setelah nyari uang buat hidup, sihh.

Kalau soal kriteria, gue rasa makin bertambahnya usia lo, kriterianya bener-bener nggak muluk-muluk kayak harus ganteng, harus kaya, harus putih, harus bersih, mulus, mengkilap. Yang penting sama-sama mau, mau berjuang bareng, mau menjalin komunikasi yang baik, mau ngertiin satu sama lain, mau diskusi, pokoknya semua yang berhubungan dengan komunikasi antara kedua pihak, itu sih menurut gue yang penting. Perkara uang kalau emang mau sama-sama berjuang pasti juga bisa, mau bagi tugas rumah, nggak perhitungan aku yang nyari uang, kamu yang urus rumah sama anak itu bener-bener idaman menurut gue. Perkara cantik atau ganteng pun semua bisa dibuat, karena skin care udah ada, make up juga ada, amanlah.

Alasan paling atas kenapa gue belum menikah, selain kesiapan tadi karena emang belum nemu orang yang bener-bener bisa bikin gue mikir oke, gue mau nikah sama lo, gue harus nikah, terakhir gue mau mikir gitu udah nggak dapet restu dari berbagai pihak soalnya hhaha. Tapi gue mikirnya santai sih, secara gue masih belum puas aja dengan hasil kerja gue, gue juga belum sepenuhnya menjadi orang yang dewasa untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Nggak lucu aja kalau tiap minggunya gue tiba-tiba diem, ngamuk nggak jelas, lama-lama beneran dipulangin ke rumah ibu malahan.

Gue lebih percaya bahwa semua “akan” pada waktunya, Tuhan jelas menciptakan makhluknya secara berpasang-pasangan, dan gue yakin itu. Jadi ketika dalam perjalanan gue gagal lagi-gagal lagi, ya udah ambil aja pelajarannya, sedih sebentar terus jalan lagi. Siapa tahu 100 meter di depan lo akan ketemu sama jodohnya. Kalau kata Hindia “Besok Mungkin Kita Sampai” entah itu soal kesuksesan lo dari segi keuangan, cita-cita, keimanan lo, soal pernikahan, udah ada waktunya masing-masing dan yang jelas setiap orang beda-beda.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...