Langsung ke konten utama

WAKTU INDONESIA BERCERITA : KEHILANGAN

Cepat atau lambat manusia pasti mengalami kehilangan sih, sekalipun itu hanya hal kecil, dan itu nggak papa. Nggak papa kita menangis, kecewa, sampai kita bisa menerima kehilangan itu. Dan sama halnya dengan masalah, kehilangan juga nggak bisa dibanding-bandingkan, “halah baru juga pisah pas pacaran. Halah Cuma pensil. Halah Cuma ini” karena kita nggak tahu ada arti apa dibalik benda atau bahkan seseorang itu.

Sejauh ini kehilangan terberat gue masih tentang kehilangan sosok Ayah dalam hidup gue. Dulu gue sempet iri sama abang-abang gue yang selalu punya cerita sama Ayah. Sedangkan gue sama sekali nggak ingat banyak hal momen-momen bareng beliau. Tapi satu hal yang gue yakini bahwa Ayah paling sayang sama gue.

Karena gue belum pernah pacaran jadi kehilangan atas seorang pasangan itu belum pernah. Tapi kehilangan pas belum milikin sering sih, hampir setiap kali gue suka sama seseorang pasti gue kehilangan orang itu. Dan rasanya selalu sama, pasti sedih beberapa hari kemudian bertingkah konyol dan bodoh di hari berikutnya.

Pada dasarnya gue adalah orang yang hobi merawat kenangan. Jadi untuk menerima-mengikhlaskan kenangan atas seseorang atau benda yang sudah tidak menjadi milik gue itu perlu waktu yang cukup lama. Terakhir kali gue mencoba move on itu perlu sekitar 3 tahun untuk biasa aja. Perasaan rindu atas hal itu semua pun nggak menutup kemungkinan tiba-tiba dateng, apalagi pas nggak ada kerjaan dan Cuma bengong, itu pasti di pikiran gue dulu gue pernah deh ke sini sama dia. Dulu ini dulu itu yang pada akhirnya gue akan senyum-senyum sendiri.

Kehilangan adalah salah satu proses dalam kehidupan kita, dimana setelah kehilangan tentunya akan muncul sesuatu yang baru, tentunya membuat kita menjadi lebih baik. Dan sejauh ini, kehilangan-kehilangan yang gue alami masih bisa menjadi pelajaran dan gue terima dengan baik. Bagaimanapun juga, semua pasti ada hikmahnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...