Langsung ke konten utama

WAKTU INDONESIA BERCERITA : AKU

Aku. Bisa disimpulkan bahwa gue ini orang yang nggak mau ribet tapi jadi ribet, orang yang nggak tahu apa-apa soal dirinya sendiri, kebanyakan sadar tapi nggak pernah usaha karena bingung sendiri harus gimana. orang yang nggak bisa berhenti mikir, bahkan saat bengong pun, itu gue tetep mikir, adalah sesuatu yang selalu ada di otak gue untuk dipikirin. Orang yang sensitif, peka, sampai-sampai ngerasa bahwa gue harus ngebuat orang di sekitar gue merasa baik-baik aja, bahagia, soal gue belakangan. Dan dari semua itu, sudah dipastikan gue adalah orang yang nggak bisa menolak, karena kembali lagi, mood seseorang, keadaan seseorang itu tanggung jawab gue.

Mungkin penilaian seseorang terhadap gue pun berbeda-beda ya. Yang bisa gue rangkum sih, kemungkinan ada orang yang menilai gue ini orang yang galak, dingin, cuek, judes, ceria, energik, kekanak-kanakan, dewasa. Karena itu yang gue rasakan sampai saat ini. Ada sesekali gue akan menjadi orang yang diem seharian dan ekspresi terlihat dibuat-buat. Ada kalanya gue seperti orang yang baru dapat rejeki miliyaran, alias bahagia banget. Tapi justru karena banyak ekspresi yang gue buat, yang gue tunjukkan ke orang, gue sendiri jadi nggak tahu sebenernya yang mana dan apa yang gue rasakan.

Hal yang sampai sekarang belum bisa gue atasi adalah menyadari perasaan gue sendiri, gue nggak tahu kalau gue ketawa seperti ini, itu gue bener bahagia atau Cuma sekedar kemarin gue udah badmood sekarang waktunya gue baik-baik aja. Perkara emosi pelan-pelan gue masih bisa kontrol itu sih, walaupun masih sering lolosnya.

Bisa dikatakan gue emang pembohong paling bodoh sih, karena membohongi diri sendiri. Mungkin gue tahu apa sebenarnya yang gue rasakan tapi yang gue perlihatkan adalah gue tidak tahu apa-apa dan yang ada, ujungnya, gue sendiri yang menyesal.

Banyak kesalahan yang gue buat sampai saat ini, mungkin bener-bener memalukan atau mengecewakan, tapi gue tidak berpikir menyesal, karena dari kesemuanya gue bisa mengambil hal positifnya.

Berpura-pura untuk baik-baik saja itu nggak masalah, tapi sadar akan perasaan yang sebenernya itu juga perlu, sesekali meluapkan apa yang dirasakan itu juga perlu. Dan gue sedang mencoba itu, lebih mengenal apa yang gue rasakan dan mencoba untuk memperlakukan rasa itu dengan tepat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...