Langsung ke konten utama

WAKTU INDONESIA BERCERITA : DUNIA

Entah saking luasnya dunia atau pengetahuan gue yang sempit tentang dunia ini, gue jadi sering salah paham dengan orang. Orang yang memang dasarnya baik ke semua orang gue artikan dia perhatian, atau jahatnya dia mau manfaatin gue, minta tolong ke gue.

Parahnya kalau sampai gue nyangka dia suka sama gue, yang padahal aslinya Cuma berbuat baik seperti apa yang biasa dia lakukan ke orang-orang. Dan ya, gue melakukan itu akhir-akhir ini.

Dia adalah seorang laki-laki yang setelah gue perhatikan memang baik ke semua orang. Tapi dia juga punya jiwa iseng yang cukup tinggi, bercanda yang lumayan ngeri juga, karena sering kali nyangkut soal perasaan. Entah bagian perhatian, yang kadang diwaktu sepertiga malam bangunin, di jam makan siang ngingetin, di jam tidur juga nyuruh tidur, itu termasuk perilaku baik yang dia lakukan ke semua orang atau hanya kepada gue. Entah, kalimat pujian gue baik, gue manis, itu benar dari hatinya atau sebatas bercandaan dia. Yang jelas, buat gue, semua perlakuan itu sudah berhasil membuat gue beneran suka sama dia. 

Mungkin kalau situasinya kita sama-sama sendiri, nggak ada masalah. Tapi kenyataannya nggak seperti itu, dia sudah memiliki pasangan. Gue yang mungkin terlihat gampang terbawa perasaan, selalu nyalahin diri gue sendiri. Tapi gue juga sempet bilang ke dia untuk berhenti ngasih perhatian yang nggak ada manfaatnya juga buat dia. Hanya saja, dia orang yang keras kepala dan semaunya. Bahkan kadang sampai saat ini dia masih melakukan hal itu.

Capek. Mau nyetop perasaan sendiri kesulitan karena masih ada aksi. Memaksa dia untuk berhenti juga makin kesulitan. Sampai akhirnya gue mencoba membiarkan, tapi namanya juga perasaan, selalu berakhir sama. Susahnya tuh bagian ini, ketika dia mungkin akhirnya hilang, gue merasa kurang, ketika dia ngomongin pasangannya, gue malah cemburu. Perasaan gue yang sudah terlanjur sampai titik itu, jadi siksaan sendiri buat gue.

Kenapa nggak dari awal putus komunikasi? Berhubung dia adalah rekan kerja gue, berhubung gue belum siap nyari kerjaan baru yang susah dapetnya, gue nggak bisa apa-apa juga. Dan sekarang, gue hanya bisa untuk benar-benar mendiamkan dia di chat. Gue memukul mundur semua rasa itu walaupun susah. Kadang juga nyerah, tapi gue harus ingat, nggak ada masa depan ketika gue tetap dengan perasaan itu. Gue juga hanya membuang waktu dan tenaga apabila tetap dengan perasaan itu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...