Entah saking luasnya dunia atau pengetahuan gue yang sempit tentang dunia ini, gue jadi sering salah paham dengan orang. Orang yang memang dasarnya baik ke semua orang gue artikan dia perhatian, atau jahatnya dia mau manfaatin gue, minta tolong ke gue.
Parahnya kalau sampai gue nyangka dia suka sama gue, yang padahal aslinya Cuma berbuat baik seperti apa yang biasa dia lakukan ke orang-orang. Dan ya, gue melakukan itu akhir-akhir ini.
Dia adalah seorang laki-laki yang setelah gue perhatikan memang baik ke semua orang. Tapi dia juga punya jiwa iseng yang cukup tinggi, bercanda yang lumayan ngeri juga, karena sering kali nyangkut soal perasaan. Entah bagian perhatian, yang kadang diwaktu sepertiga malam bangunin, di jam makan siang ngingetin, di jam tidur juga nyuruh tidur, itu termasuk perilaku baik yang dia lakukan ke semua orang atau hanya kepada gue. Entah, kalimat pujian gue baik, gue manis, itu benar dari hatinya atau sebatas bercandaan dia. Yang jelas, buat gue, semua perlakuan itu sudah berhasil membuat gue beneran suka sama dia.
Mungkin kalau situasinya kita sama-sama sendiri, nggak ada masalah. Tapi kenyataannya nggak seperti itu, dia sudah memiliki pasangan. Gue yang mungkin terlihat gampang terbawa perasaan, selalu nyalahin diri gue sendiri. Tapi gue juga sempet bilang ke dia untuk berhenti ngasih perhatian yang nggak ada manfaatnya juga buat dia. Hanya saja, dia orang yang keras kepala dan semaunya. Bahkan kadang sampai saat ini dia masih melakukan hal itu.
Capek. Mau nyetop perasaan sendiri kesulitan karena masih ada aksi. Memaksa dia untuk berhenti juga makin kesulitan. Sampai akhirnya gue mencoba membiarkan, tapi namanya juga perasaan, selalu berakhir sama. Susahnya tuh bagian ini, ketika dia mungkin akhirnya hilang, gue merasa kurang, ketika dia ngomongin pasangannya, gue malah cemburu. Perasaan gue yang sudah terlanjur sampai titik itu, jadi siksaan sendiri buat gue.
Kenapa nggak dari awal putus komunikasi? Berhubung dia adalah rekan kerja gue, berhubung gue belum siap nyari kerjaan baru yang susah dapetnya, gue nggak bisa apa-apa juga. Dan sekarang, gue hanya bisa untuk benar-benar mendiamkan dia di chat. Gue memukul mundur semua rasa itu walaupun susah. Kadang juga nyerah, tapi gue harus ingat, nggak ada masa depan ketika gue tetap dengan perasaan itu. Gue juga hanya membuang waktu dan tenaga apabila tetap dengan perasaan itu.
Komentar
Posting Komentar