Langsung ke konten utama

BEROPINI : BAHAGIA ITU SEDERHANA

Dulu ketika gue denger kalimat itu dalam hati, omong kosong sekali sih, karena bahagia itu perlu usaha loh, bahagia itu perlu uang dan uang itu susah nyarinya. Tapi seiring berjalannya waktu, gue mulai paham dengan poin kalimat itu. 

Sederhana, sesuai dengan artinya yang tidak berlebihan, tidak banyak kesulitannya. Dengan pemikiran gue yang dulu jelas konsep bahagia itu sederhana nggak masuk, karena standar kebahagiaan yang gue buat sendiri. Standar kebahagiaan sendiri juga dipengaruhi sama banyak hal, situasi kondisi misalnya. Dulu ketika masih menjadi anak sekolahan, dimana kita dikasih uang jajan, dikasih kebebasan buat main, tanggung jawab kita sebatas menjaga diri sendiri dan nilai di sekolah, standar bahagianya ya dengan bisa jajan dan kumpul sama temen itu udah bahagia banget. Berbeda dengan orang yang memasuki usia 20-an, selesai sekolah tanggung jawabnya udah tentang diri sendiri, masa depan, pekerjaan, pasangan, dan semacamnya. Standarnya pun jadi udah beda, mulai fokus tentang pekerjaan, mulai banyak pertimbangan pas mau keluarin duit, mulai pemilih juga kalau nyari pasangan. Ada waktu luang sedikit aja milih digunain buat rebahan daripada pergi sama temen dan itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri untuk kalangan orang dengan gaya hidup sebagai pekerja keras.

Sama halnya dengan standar pas kita nyari pasangan yang semakin lama bukannya semakin naik malah semakin standar banget, yang penting nerima apa adanya, bisa diajak komunikasi dengan baik, bisa saling ngerti dan saling menghibur itu cukup, karena ketika kita udah nemu titik nyamannya semua perkara jadi ngikut iya aja dibelakangnya. 

Kembali lagi ke sederhana, definisi sederhana itu sendiri juga akan memiliki wujud yang berbeda-beda setiap orangnya. Bagi orang kaya mungkin dengan main ke mall itu hal paling sederhana yang bisa membuat mereka bahagia, tapi bagi orang belum kaya main ke mall Cuma akan membuang uang dan waktu yang bagi mereka bisa menghasilkan uang. Bagi orang kaya mungkin rebahan menjadi aktifitas bermalas-malasan, tapi bagi orang yang belum kaya rebahan adalah proses pengembalian daya dan mood serta kebahagiaan. Selain situasi kondisi itu, kemampuan dalam bersyukur juga mempengaruhi standar kebahagiaan kita. Karena ketika kita bisa menghargai sedikit saja nikmat yang Tuhan kasih ke kita itu adalah kebahagiaan, karena Tuhan akan membalasnya dengan nikmat-nikmat lain yang tidak pernah kita bayangkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...