Langsung ke konten utama

OTEM : KU KIRA KAU RUMAH

 Ku kira kau rumah, soalnya kedatanganmu membawa atap yang nyaman, pintu yang lapang, dan ruangan yang hangat. Ya emang bener sih, lo rumah, tapi bukan untuk gue. Nyatanya, kehadiran lo kemarin sama halnya rumah sewaan, ada batas waktu untuk tinggal dan ada alasan lain bukan lagi tentang takdir.

Yaaa…ada beberapa hal yang gue benci setelah gue berpisah dengan lo. Gue malas buka Facebook, gue malas buka IG di real account, gue benci lembur sampai malem dengan kerjaan yang nggak gue suka-suka amat, gue nggak suka tidur kemaleman. Karena semua itu Cuma ngingetin momen-momen gue sama lo. Kayak malem ini, kerjaan yang sebenernya udah gue tolak tapi tetep dipaksa buat ngerjain dengan batasan waktu yang menurut gue singkat. Mau nggak mau, gue bawa pulang untuk gue kerjakan sebagian. Tapi, ya gini, gara-gara dulu gue pernah ditemenin lo lembur, sekarang jadi keinget. Lo yang ingetin buat jangan malem-malem, jangan terlalu makan banyak kalau udah malem. Kadang kalau pas jadwal lo jaga malam, lo bakalan cerita banyak hal, kita bakalan bercanda. Kalau udah malem banget, lo selalu nyuruh gue tidur. Atau kalau nggak, lo akan pamit tidur duluan, aaaa kadang juga tiba-tiba ngilang yang ternyata udah tidur.

Waktu gue nggak semangat atau nggak mood, lo bisa hibur gue. Entah kalimat pesan lo selalu terdengar lucu di benak gue. Awal-awal lo yang seneng banget, sisi lain lo yang mungkin juga kecewa, sisi lain yang serius, sisi lain yang marah, sisi lain yang cuek. Gue masih ingat, walaupun samar.

Hal ini juga yang gue benci, karena harus kembali mengingat lo, merasa menyesal karena bikin lo kecewa, sejak awal. Tapi ini takdir tentang gue yang berhubungan dengan lo. Terima kasih sudah pernah ada dan pernah memberikan sedikit energi ketika gue kehabisan itu. Terima kasih karena perpisahan kita lo abadikan begitu baik. Walaupun gue masih belum terbiasa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...