Langsung ke konten utama

WAKTU INDONESIA BERCERITA : KEKHAWATIRAN

Gara-gara drama Twenty Five Twenty One, gue jadi pengen bahas soal kekhawatiran. Gue baru sadar, kekhawatiran-kekhawatiran yang kita rasakan itu berkembang sesuai usia kita juga. Dulu waktu kita masih kecil, hal yang paling kita khawatirkan baru sebatas apa yang kita miliki direbut oleh orang lain. Misalnya, mainan, makanan, orang tua kita. Setelah bertambah usia, mungkin di sekitaran kelas 5 SD ke atas, udah mulai mikir ujian kenaikan kelas, ujian kelulusan, PR sekolah, mungkin juga mulai ada rasa khawatir ditinggal teman, atau ke atas lagi, takut kehilangan orang yang kita suka. Naik lagi usia 20-an, usia kuliah, udah mulai tuh khawatir perihal beban keluarga, harus bisa segera lulus dan dapet kerja, mulai juga ribet mikir pasangan, soal pekerjaan, soal pernikahan. Dan seterusnya sampai kita mati nanti. 

Gue baru sadar setelah gue nonton drama itu, memang bener ya semua hal yang berkaitan dengan hidup ini pada akhirnya juga ikut berkembang dengan kita, atau justru karena tuntutan itu kita sendiri juga berkembang menjadi lebih besar, agar bisa menghadapi segala kekhawatiran itu. Walaupun ada kalanya kita kalah, tapi kita masih ada tenaga aja gitu buat berdiri terus jalan lagi. Walaupun mungkin ada yang sampai depresi tapi untung aja masih mau berjuang untuk bangkit lagi. 

Dan gue rasa tingkat kekhawatiran setiap orangnya juga berbeda-beda. Kalau di usia 23-an ke atas yang paling sering ganggu adalah masalah keuangan. Di usia itu kita udah mikir nggak enak kalau belum kerja, nggak enak kalau apa-apa minta orang tua. Belum lagi kalau lingkungannya agak resek dengan pertanyaan-pertanyaan yang “bukan urusan lo juga” untuk tahu itu. Perbandingan-perbandingan nggak penting, yang akhirnya menjadi pemicu orang bisa down, bisa keganggu kesehatan mentalnya. Bagi orang-orang yang kemampuan ekonominya menengah ke bawah, hal itu menjadi kekhawatiran dan masalah yang cukup terasa berat, tapi beda lagi dengan orang-orang yang kemampuan ekonominya menengah ke atas, mungkin hal itu bukanlah masalah yang berat-berat amat. Kekhawatiran mereka udah beda lagi dan juga akan berbeda di pandangan orang-orang dengan ekonomi menengah ke bawah.

Itu baru 1 hal, di usia 23 tahun zaman sekarang, udah diribetin perkara pasangan. Dikit-dikit, “kok sendirian, mana pasangannya?” – “kapan nikah?” – “kapan punya pacar?” padahal untuk memiliki orang itu juga nggak gampang, nggak semua orang bisa dan mau untuk pacaran, adakalanya orang pengen mengenal – dekat – serius – langsung nikah tanpa ada drama-drama, walaupun itu susah banget. Menurut gue untuk memiliki hubungan dengan orang lain itu berarti kita siap membagi, baik waktu, mungkin juga separuh cerita kehidupan kita, mungkin juga sedikit kebahagiaan demi kebahagiaan dia. Karena dalam hubungan itu bukan Cuma ada aku tapi juga ada dia yang perlu dipikirkan perasaannya. Kalau masih egois, yaa mau sampai lebaran kelelawar nggak akan langgeng sampai pernikahan. Apalagi kalau niat nyari pasangan itu karena biar sama kayak yang lain, biar nggak diceng-cengin, yaa makin salah.

Tapi kembali lagi deh, karakter, cara berpikir, cara menanggapi sebuah masalah, cara memaknai sebuah tragedi pada kehidupan setiap orangnya itu berbeda-beda. Sebagai contohnya gue sendiri dengan opini ini, mungkin di luaran sana ada juga yang nggak setuju. Yang jelas, tujuan manusia pada umumnya selalu pengen hidupnya baik-baik aja, bisa ngerasain bahagia, nggak banyak masalah. Banyak-banyakin bersyukur dan ikhlas adalah cara yang paling tepat biar kita ngerasa hidup ini cukup. Toh semua terjadi bukan tanpa alasan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...