Aku berjalan dengan mantap seperti biasa. Dalam pikiranku sudah penuh dengan rencana yang akan aku lakukan di tempat kerja nanti. Senyumku dibalik masker hitam terkembang cukup lebar, hingga membuat mataku sedikit menyipit seolah-olah juga ikut tersenyum. Tidak lama kemudian aku mendapat pesan, dari Roni rekan kerjaku. Aku semakin senang karena aku tahu, sejak kehadirannya ada sesuatu yang berubah dalam hidupku. Walaupun aku tahu, itu sebuah kesalahan yang berbahaya. Roni ini bukam sekedar rekan kerja seperti yang lain, yang hanya datang kemudian bekerja hingga jam pulang. Dia cukup memperhatikan keadaan sekitarnya, ketika dia tidak nyaman dia mencoba mencari sumbernya kemudian memperbaikinya, contohnya keberadaanku. Aku bukan tipe orang yang bisa terbuka dalam hal pergaulan dengan orang baru. Aku hanya akan diam kalau tidak diajak bicara. Ketika mengajak bicara, hanya menggunakan kata seperlunya tanpa ada basa-basi ditambah dengan nada datar yang membuat kesan menyebalkan. Roni yang t...