Berjalan tanpa arah. Itu yang selalu aku lakukan ketika benar benar merasa lelah. Secara emosional, aku memang merasa mudah lelah dan dalam kondisi itu aku mudah tersinggung dengan hal sekecil apapun.
Awalnya aku menganggap itu hal biasa. Hanya saja semakin lama aku semakin bosan merasakannya. Aku menyadari banyak hal tapi juga bisa dengan mudahnya mengabaikan hal itu.
Aku merindukanmu. Langkah yang awalnya aku kira tidak berarah, ternyata memiliki ujung yang sama. Makam ayahku. Walaupun hanya dari kejauhan, aku bisa merasa lebih tenang dan hanya itulah alasanku bisa menangis dengan lega.
Aku bukanlah anak yang baik, aku sering mengabaikan ucapan ibu, aku sering mengabaikan nasehat dari orang yang lebih tua dan berpengalaman, aku sering melanggar larangan yang telah diperingatkan kepadaku. Sekilas aku sadar, tapi dengan mudahnya aku bilang, "tidak apa-apa." Kemudian melimpahkan kesalahan kepada ibu yang aku anggap terlalu lembut dan memanjakanku. Jika belum puas, aku beralasan karena aku tumbuh tanpa seorang ayah yang selalu menjadi figur tegas dalam sebuah keluarga. Sebegitu tidak maunya aku salah sendirian, kemudian mencari orang lain agar ikut menanggung rasa bersalah.
Sekilas, wajahnya, tatapan matanya, garis wajahnya, suara tawanya, bentuk senyuman di bibirnya, semua tergambar hanya sekilas namun sangat berbekas.
"Aku benar-benar minta maaf." Hanya itu yang selalu aku katakan di depan pintu masuk pemakaman, kemudian kembali berjalan untuk pulang.
Komentar
Posting Komentar