Kereta api mulai berjalan perlahan. Aku menatap ke luar jendela, kursi tunggu yang perlahan terlewatkan, rumah-rumah penduduk yang berkelebatan, dan kenangan.
Ini adalah salah satu skenario pikiranku. Pergi, sejauh-jauhnya. Hanya pergi. Cukup. Aku pikir itu akan mempermudah diriku untuk hidup. Tapi tetap saja aku menangis, aku tetap berharap ada yang menahanku. Hingga detik dimana kereta berjalan semakin cepat dan aku memang sudah tidak diharapkan.
Perjalanan yang akan aku tempuh sekitar 2 jam. Sebuah pulau yang terkenal untuk orang yang kesepian atau ingin menenangkan diri. Tidak ada manusia di sana kecuali pengunjung dan beberapa pengawas pulau. Penjual, petugas kebersihan, sopir kendaraan, semua berjalan oleh robot. Tapi pemandangan di sana benar-benar menakjubkan. Hamparan pantai dengan pasir putih, bukit hijau, pegunungan dan padang rumput. Semua ada dalam satu pulang tersebut dengan jarak yang dekat.
Terdengar mustahil, bahkan aku sendiri masih tidak percaya. Aku mulai memejamkan mata dan menikmati angin yang berhembus perlahan melewati wajahku, menyibak rambutku. Sejenak aku bisa menikmati suasana ini dan lupa bahwa aku sedang sakit.
"Tenangkan dirimu lebih dulu. Persiapkan dirimu, kemudian kau harus kembali." Aku membuka mataku dan mencari-cari suara tersebut.
"Kau terlalu takut, kau juga tidak percaya dengan dirimu sendiri bahwa kau mampu mengatasi semua ini. Perlahan, tapi pasti. Kau harus menghadapi kekhawatiranmu."
Setengah diriku kembali sadar. Aku kembali memejamkan mata dan membukannya lagi. Dan aku kembali. Di sebuah ruangan tidak terlalu luas tapi juga tidak sempit. Dengan cat putih dan beberapa lukisan yang mengisi dinding tersebut. Di sampingku ada seorang perempuan yang sedang memandangku.
"Kau selalu pergi. Ini sudah ke 5 kalinya kau pergi."
Aku hanya diam, sedetik kemudian aku beranjak dari tempat dudukku. "Mungkin aku memang belum bisa." Ucapku kemudian mengambil tasku dan keluar.
Komentar
Posting Komentar