Aku berjalan dengan mantap seperti biasa. Dalam pikiranku sudah penuh dengan rencana yang akan aku lakukan di tempat kerja nanti. Senyumku dibalik masker hitam terkembang cukup lebar, hingga membuat mataku sedikit menyipit seolah-olah juga ikut tersenyum.
Tidak lama kemudian aku mendapat pesan, dari Roni rekan kerjaku. Aku semakin senang karena aku tahu, sejak kehadirannya ada sesuatu yang berubah dalam hidupku. Walaupun aku tahu, itu sebuah kesalahan yang berbahaya.
Roni ini bukam sekedar rekan kerja seperti yang lain, yang hanya datang kemudian bekerja hingga jam pulang. Dia cukup memperhatikan keadaan sekitarnya, ketika dia tidak nyaman dia mencoba mencari sumbernya kemudian memperbaikinya, contohnya keberadaanku.
Aku bukan tipe orang yang bisa terbuka dalam hal pergaulan dengan orang baru. Aku hanya akan diam kalau tidak diajak bicara. Ketika mengajak bicara, hanya menggunakan kata seperlunya tanpa ada basa-basi ditambah dengan nada datar yang membuat kesan menyebalkan. Roni yang tidak nyaman dengan situasi itu langsung menegurku, menanyakan apa yang salah darinya, apa yang harus dia lakukan agar aku tidak secuek itu. Teguran yang dia kirim melalui pesan itu membuatku tertawa.
Aku tidak langsung membalasnya, lebih tepatnya aku tidak membalasnya sampai kami bertemu di kantor. Sesampainya di sana, aku tertawa dan ikut menjelaskan situasiku. Dia juga tertawa dan kamipun mulai dekat.
Aku tahu, awal itu bukanlah sesuatu yang baik tapi juga bukan hal buruk. Hanya saja aku yang terlalu menanggapi dengan serius, kemudian tersadar juga egois pada waktu yang bersamaan.
Roni sudah menikah, tapi aku selalu menunggu pesan yang kadang iseng dia kirimkan. Hanya sebatas bercanda, aku tahu baginya itu bercanda, tapi sayangnya aku terlena dengan candaan itu. Aku tahu, aku tersadar, tapi aku tetap egois.
Aku tidak mungkin melakukan hal macam-macam. Aku hanya akan memanfaatkan situasi itu agar aku juga lebih menikmati bekerja. Aku ingin situasi itu juga bisa membantu menjaga mood-ku. Aku tahu, ini egois, tapi memang seperti itu aku.
Aku tahu, aku sadar, cepat atau lambat kebiasaan iseng ditengah malam, bercanda yang berlebihan itu akan hilang. Karena sejak awal aku yang terlalu serius menanggapi dia yang hanya bercanda.
Komentar
Posting Komentar