Langsung ke konten utama

SEPENGGAL CERITA #4

Aku berjalan dengan mantap seperti biasa. Dalam pikiranku sudah penuh dengan rencana yang akan aku lakukan di tempat kerja nanti. Senyumku dibalik masker hitam terkembang cukup lebar, hingga membuat mataku sedikit menyipit seolah-olah juga ikut tersenyum.

Tidak lama kemudian aku mendapat pesan, dari Roni rekan kerjaku. Aku semakin senang karena aku tahu, sejak kehadirannya ada sesuatu yang berubah dalam hidupku. Walaupun aku tahu, itu sebuah kesalahan yang berbahaya.

Roni ini bukam sekedar rekan kerja seperti yang lain, yang hanya datang kemudian bekerja hingga jam pulang. Dia cukup memperhatikan keadaan sekitarnya, ketika dia tidak nyaman dia mencoba mencari sumbernya kemudian memperbaikinya, contohnya keberadaanku.

Aku bukan tipe orang yang bisa terbuka dalam hal pergaulan dengan orang baru. Aku hanya akan diam kalau tidak diajak bicara. Ketika mengajak bicara, hanya menggunakan kata seperlunya tanpa ada basa-basi ditambah dengan nada datar yang membuat kesan menyebalkan. Roni yang tidak nyaman dengan situasi itu langsung menegurku, menanyakan apa yang salah darinya, apa yang harus dia lakukan agar aku tidak secuek itu. Teguran yang dia kirim melalui pesan itu membuatku tertawa.

Aku tidak langsung membalasnya, lebih tepatnya aku tidak membalasnya sampai kami bertemu di kantor. Sesampainya di sana, aku tertawa dan ikut menjelaskan situasiku. Dia juga tertawa dan kamipun mulai dekat.

Aku tahu, awal itu bukanlah sesuatu yang baik tapi juga bukan hal buruk. Hanya saja aku yang terlalu menanggapi dengan serius, kemudian tersadar juga egois pada waktu yang bersamaan.

Roni sudah menikah, tapi aku selalu menunggu pesan yang kadang iseng dia kirimkan. Hanya sebatas bercanda, aku tahu baginya itu bercanda, tapi sayangnya aku terlena dengan candaan itu. Aku tahu, aku tersadar, tapi aku tetap egois.

Aku tidak mungkin melakukan hal macam-macam. Aku hanya akan memanfaatkan situasi itu agar aku juga lebih menikmati bekerja. Aku ingin situasi itu juga bisa membantu menjaga mood-ku. Aku tahu, ini egois, tapi memang seperti itu aku.

Aku tahu, aku sadar, cepat atau lambat kebiasaan iseng ditengah malam, bercanda yang berlebihan itu akan hilang. Karena sejak awal aku yang terlalu serius menanggapi dia yang hanya bercanda.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...