Langsung ke konten utama

WAKTU INDONESIA BERCERITA : SAMA TAPI TIDAK BERSAMA

Sama tapi tidak bersama, kalimat itu pas banget buat merayakan patah hati yang kesekian kalinya. Dan sebenernya kalimat itu gue dapet ketika lagi dengerin lagu Tulus Hati-hati di Jalan. Ini seperti Hymne patah hati di dunia gue sih, sebuah lagu untuk merayakan sekaligus mengenang sebuah kisah patah hati yang entah keberapa kalinya.

Awalnya gue percaya bahwa jodoh itu cerminan diri, tapi semakin ke sini, semakin gue menemukan banyak orang, gue ragu dengan hal itu. Terlalu sama juga tidak menandakan itu jodoh kita, hampir sama juga bukan berarti itu salah satunya. Banyak orang yang ternyata sama tapi hanya sebatas lewat, banyak orang yang bagaikan cermin tapi ternyata sebatas mampir. Mungkin juga sudah pada sama rasa tapi ternyata beda dunia.

Hal itu juga yang membuat gue sedikit malas dan memilih mengalir aja soal perasaan. Kalau suka ya udah biarin suka, gue selalu percaya semua ada batas waktunya, yang artinya perasaan gue juga bisa berakhir dan tumbuh berganti dengan perasaan lainnya. Semakin ke sini juga gue makin mikir lagi soal pernikahan. Rasanya pernikahan nggak segampang tentang 2 orang yang setuju buat nikah. Nggak sesingkat tentang perasaan saat itu-beberapa bulan kedepan-1 tahun-2 tahun. Entah kenapa semuanya berasa rumit, semakin ke sini banyak hal yang gue pertimbangan untuk menuju jenjang pernikahan. Melihat situasi diri gue sendiri yang belum baik juga, emosinya masih naik-turun, tingkat kesabaran menghadapi sesuatu juga belum baik, masih ke kanak-kanakan juga, mood yang sesekali masih berantakan.

Sebagian dari diri gue sebenernya juga mikir, apa yang gue takutkan itu belum terjadi dan entah akan terjadi atau tidak, jadi jangan terlalu diambil pusing saat ini. Tapi tetep aja, gue takut dengan hal itu. Mungkin karena gue juga belum menemukan seseorang yang membuat gue yakin bahwa dengan dia semua akan baik-baik aja.

Untung aja sih, keluarga gue bukan tipikal memaksa segera nikah diusia 24 tahun ini. Jadi itungannya masih aman aja, santai. Semua bakalan ada waktunya masing-masing, dan perkara sakral ini juga bukan perlombaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...