Kalau aja bisa leluasa ngomong mungkin ini yang pengen gue omongin.
Gue capek, dan gue tahu lo akan bilang,
“ya istirahat – ya berhenti dulu.” Gue juga tahu itu, gue paham konsepnya,
kalau capek ya istirahat, kalau laper ya makan, kalau haus ya minum. Gue paham
konsep itu, tapi untuk ngelakuinnya nggak akan segampang gue atau lo bilang
kayak gitu. Otak gue terlanjur panik karena semua hal terasa datang secara
dadakan dan minta diselesaikan segera. Sampai akhirnya, perasaan gue ikutan
cemas, khawatir, mulai berperasangka yang nggak-nggak. Sedangkan gue yang
terlihat oleh orang-orang, seperti orang bodoh, diam. Kosong. Hilang fokus. Kalau
sampai parah, bisa tiba-tiba nangis. Bisa juga tiba-tiba ketawa keras. Nggak heran
kalau hal sereceh, “buang apa yang nggak kelihatan?” terus gue bilang, “buang
kentut,” dan gue akan ketawa sejadi-jadinya, seolah-olah itu lelucon paling
lucu.
Gue capek, karena gue nggak pernah tahu
kapan tawuran tak kasat mata itu datang ke kehidupan gue. Kadang gue
mengkhawatirkan waktu itu, kadang gue lupa, tapi mungkin karena banyaknya
faktor, membuat gue menduga-duga, dan akhirnya diyakini oleh perasaan dan
pikiran gue sendiri. Kemudian gue akan marah, membesar-besarkan hal kecil
karena itu benar-benar hal yang mengganggu. Sekarang gue juga paham tentang
konsep, jangan melakukan dosa sekecil apapun itu, karena hal kecil yang sering
dilakukan itu bisa menjadi kebiasaan dan akhirnya dosa yang dinilai kecil itu
akan menggunung dan disebut besar. Sama seperti itu, kekhawatiran gue yang gue
remehkan, akhirnya akan menumpuk dan meledak karena ditambah satu hal yang
disebut remeh juga.
Kalau mereka berpikir gue terlalu
kekanak-kanakkan, iya. Gue akui itu. Gue juga orang yang pemarah, nggak salah
kalau temen-temen SD gue bilang gue galak. Gue juga orang yang gegabah dalam
hal mengambil keputusan, untungnya, sekarang gue punya hakim yang bisa ngebantu
gue untuk memutuskan apa yang akan gue pilih. Gue orang yang keras kepala, gue
orang yang sensitif. Gue tahu nggak Cuma gue di dunia ini yang memiliki semua
hal itu. Tapi tetap saja, ketidakterimaan karena memiliki itu ada dalam diri
gue. Hampir tiap hari rasanya selalu ada debat di otak gue. Selalu ada yang
disalahkan kemudian menyerah karena gue memilih tidur. Untung saja, gue masih
memiliki hawa ngantuk, karena Cuma ngantuk yang bisa bikin semuanya jadi
berhenti. Walaupun nggak 100%.
Sekarang, gue Cuma diam di depan
laptop. Mikir. Gimana biar semua berjalan dengan baik. Gue tahu, terlalu
berlebihan sekali gue ingin membuat semuanya berjalan dengan baik padahal gue
juga tahu bahwa ada Allah yang lebih berkuasa dalam kehidupan ini. Tapi balik
lagi, seenggaknya baik untuk gue. Gue juga capek punya amarah yang berlebihan,
emosi yang nggak pernah bisa gue kontrol sendiri. Gue juga capek ketika marah
atau nangis. Gue juga sakit ketika ngerasain itu. Saat rasa itu muncul gue Cuma
pengen teriak, bilang, “bantu gue untuk bilang semua bakalan baik-baik aja.” Bilang,
“lo udah berusaha dengan baik.” Bilang, “ini bukan hal yang buruk yang patut lo
tangisi sesedih ini.”
Sesepi itu rasanya, sepengecut itu,
bahkan untuk mengatakan hal sebenarnya, gue selalu memilih berbohong dengan
kedok “biar dia nggak ngerasa salah”. Kadang ada juga bagian diri gue yang udah
capek ngerasa salah terus, mungkin dialah yang akhirnya menghimpun kekuatan
untuk mengeluarkan kalimat ketidakterimaan ini. Tapi gue juga segera sadar, gue
lagi capek, dan gue masih ngerasa sendiri.
Hahahaha, pada akhirnya gue hanya akan
tertawa. Gue akan berlari mencari-cari banyak hal yang sekiranya bisa ngusir
kekhawatiran itu, pikiran-pikiran tidak penting. Satu hal yang gue lupakan dari
konsep kali ini, keduanya adalah bagian dari hidup gue, untuk tenang, gue harus
menghadapi keduanya, bukan lari dari keduanya. Gue lupa, pikiran-perasaan-dan
diri gue sendiri pun memiliki otak sendiri-sendiri. Pendapat yang keluar
bukannya menjadi bahan diskusi malah menjadi saling mempengaruhi. Dan gue nggak
tahu harus gimana. Entah akan bertahan berapa lama. Entah, akan seperti apa
kalau kali ini gue gagal lagi mengatasi hal ini. Yang gue tahu, gue hampir
menyerah.
Komentar
Posting Komentar