Langsung ke konten utama

OTEM : TITIK

Kalau aja bisa leluasa ngomong mungkin ini yang pengen gue omongin.

Gue capek, dan gue tahu lo akan bilang, “ya istirahat – ya berhenti dulu.” Gue juga tahu itu, gue paham konsepnya, kalau capek ya istirahat, kalau laper ya makan, kalau haus ya minum. Gue paham konsep itu, tapi untuk ngelakuinnya nggak akan segampang gue atau lo bilang kayak gitu. Otak gue terlanjur panik karena semua hal terasa datang secara dadakan dan minta diselesaikan segera. Sampai akhirnya, perasaan gue ikutan cemas, khawatir, mulai berperasangka yang nggak-nggak. Sedangkan gue yang terlihat oleh orang-orang, seperti orang bodoh, diam. Kosong. Hilang fokus. Kalau sampai parah, bisa tiba-tiba nangis. Bisa juga tiba-tiba ketawa keras. Nggak heran kalau hal sereceh, “buang apa yang nggak kelihatan?” terus gue bilang, “buang kentut,” dan gue akan ketawa sejadi-jadinya, seolah-olah itu lelucon paling lucu.

Gue capek, karena gue nggak pernah tahu kapan tawuran tak kasat mata itu datang ke kehidupan gue. Kadang gue mengkhawatirkan waktu itu, kadang gue lupa, tapi mungkin karena banyaknya faktor, membuat gue menduga-duga, dan akhirnya diyakini oleh perasaan dan pikiran gue sendiri. Kemudian gue akan marah, membesar-besarkan hal kecil karena itu benar-benar hal yang mengganggu. Sekarang gue juga paham tentang konsep, jangan melakukan dosa sekecil apapun itu, karena hal kecil yang sering dilakukan itu bisa menjadi kebiasaan dan akhirnya dosa yang dinilai kecil itu akan menggunung dan disebut besar. Sama seperti itu, kekhawatiran gue yang gue remehkan, akhirnya akan menumpuk dan meledak karena ditambah satu hal yang disebut remeh juga.

Kalau mereka berpikir gue terlalu kekanak-kanakkan, iya. Gue akui itu. Gue juga orang yang pemarah, nggak salah kalau temen-temen SD gue bilang gue galak. Gue juga orang yang gegabah dalam hal mengambil keputusan, untungnya, sekarang gue punya hakim yang bisa ngebantu gue untuk memutuskan apa yang akan gue pilih. Gue orang yang keras kepala, gue orang yang sensitif. Gue tahu nggak Cuma gue di dunia ini yang memiliki semua hal itu. Tapi tetap saja, ketidakterimaan karena memiliki itu ada dalam diri gue. Hampir tiap hari rasanya selalu ada debat di otak gue. Selalu ada yang disalahkan kemudian menyerah karena gue memilih tidur. Untung saja, gue masih memiliki hawa ngantuk, karena Cuma ngantuk yang bisa bikin semuanya jadi berhenti. Walaupun nggak 100%.

Sekarang, gue Cuma diam di depan laptop. Mikir. Gimana biar semua berjalan dengan baik. Gue tahu, terlalu berlebihan sekali gue ingin membuat semuanya berjalan dengan baik padahal gue juga tahu bahwa ada Allah yang lebih berkuasa dalam kehidupan ini. Tapi balik lagi, seenggaknya baik untuk gue. Gue juga capek punya amarah yang berlebihan, emosi yang nggak pernah bisa gue kontrol sendiri. Gue juga capek ketika marah atau nangis. Gue juga sakit ketika ngerasain itu. Saat rasa itu muncul gue Cuma pengen teriak, bilang, “bantu gue untuk bilang semua bakalan baik-baik aja.” Bilang, “lo udah berusaha dengan baik.” Bilang, “ini bukan hal yang buruk yang patut lo tangisi sesedih ini.”

Sesepi itu rasanya, sepengecut itu, bahkan untuk mengatakan hal sebenarnya, gue selalu memilih berbohong dengan kedok “biar dia nggak ngerasa salah”. Kadang ada juga bagian diri gue yang udah capek ngerasa salah terus, mungkin dialah yang akhirnya menghimpun kekuatan untuk mengeluarkan kalimat ketidakterimaan ini. Tapi gue juga segera sadar, gue lagi capek, dan gue masih ngerasa sendiri.

Hahahaha, pada akhirnya gue hanya akan tertawa. Gue akan berlari mencari-cari banyak hal yang sekiranya bisa ngusir kekhawatiran itu, pikiran-pikiran tidak penting. Satu hal yang gue lupakan dari konsep kali ini, keduanya adalah bagian dari hidup gue, untuk tenang, gue harus menghadapi keduanya, bukan lari dari keduanya. Gue lupa, pikiran-perasaan-dan diri gue sendiri pun memiliki otak sendiri-sendiri. Pendapat yang keluar bukannya menjadi bahan diskusi malah menjadi saling mempengaruhi. Dan gue nggak tahu harus gimana. Entah akan bertahan berapa lama. Entah, akan seperti apa kalau kali ini gue gagal lagi mengatasi hal ini. Yang gue tahu, gue hampir menyerah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...