Gue rasa, minggu ini gue sedikit aktif dan kreatif ya. Ada beberapa tulisan yang akhirnya kelar gue kerjakan. Otak gue juga ngide yang lumayan. Ditambah asupan-asupan lagu baru rilis yang langsung klik dan menambah inspirasi serta kesadaran tentang hidup gue sendiri (hahaha).
Seperti judul curhat kali ini, Saujana. Lagu milik Bilal Indrajaya yang dirilis bulan Agustus 2022 ini berhasil membuat gue bercerita tentang apa yang sedang terjadi dalam kehidupan gue baru-baru ini.
Gue pernah menceritakan sedikit tentang orang ini, yang intinya gue merasa dekat dengan orang ini, dan gue juga merasa punya banyak kesamaan yang membuat gue nyaman sama dia. Dengan dia gue mengenal diri gue sendiri dan mulai sedikit merubah diri gue sendiri agar bisa menjadi manusia yang sedikit lebih nyaman untuk orang lain. Sayangnya, kesadaran gue nggak begitu mantrep dalam pikiran gue, sampai akhirnya itu nggak bisa gue pegang sebagai pondasi awal biar gue bisa berteman dengan dia.
Singkatnya, gue kembali diam karena hal sepele, yang kembali menghadirkan pikiran, "iya ya, gue sama dia emang bener-bener nggak bisa jadi temen biasa dan baik-baik aja. selalu gue baper sama semua omongan dia." Gue sampai sekarang beneran menjaga jarak sama dia, padahal pas bercandaan sama dia, itu seru banget. Tapi kembali lagi, ada waktu-waktu tertentu yang gue nggak bisa nerima candaan dia. Selain itu, kayaknya gue sama dia emang nggak bisa jadi temen, karena gue yang pernah suka sama dia. Dulu mungkin gue ngerasa bersalah karena dia tipe orang yang kalau nggak diajak ngobrol bisa gila. Tapi berhubung udah ada orang lain yang bisa menjadi temen dia ngobrol saat gue diem gini, gue lebih santai dan mungkin diemnya gue bakalan lebih lama.
Tapi bukan berarti ini silent treatment yang marahnya diem itu. Gue melakukan interaksi sama dia seperlunya aja, kalau gue butuh ya gue akan ngomong dengan baik, nggak terus yang jutek kayak orang marah. Gue juga diem-diem peduli sama dia, gue perhatiin dia, iyaaa...jengkel juga gue, cuma karena gue masih merasa dia itu penting, karena gue masih punya perasaan buat dia.
Hehh, kalau aja lo baca cerita ini, gue yakin lo ketawa menang karena bikin anak orang bisa gila sama lo. Tapi gue juga berharap lo menyadari satu hal, jangan berpikir gue benci sama lo, atau marah sama lo, atau lo punya kesalahan fatal, gue melakukan hal ini karena pengen menjaga jarak dan membiasakan dengan jarak itu. Gimanapun, gue sadar kalau sampai kapanpun, lo sama gue itu nggak akan bisa sama. Karena lo udah punya rumah. Gue juga berniat untuk menjaga perasaan gue sendiri biar nggak terlalu sakit lagi. Terima kasih karena udah mengajarkan semua ini walaupun lo nggak menyadari itu. Semoga kita emang bisa jadi temen baik kayak yang lainnya. Yang bisa bercanda seleluasa mungkin nggak baper-baperan.
Komentar
Posting Komentar