Kalau ngomongin soal ilmu jiwa, kesehatan mental, pasti nggak akan ada berhentinya. Sama halnya tentang perasaan, topik kedua menurut gue yang nggak ada habisnya untuk dibahas. Gue juga pernah menyinggung tentang kesehatan mental dalam blog ini. Gue juga banyak menceritakan banyak hal yang gue rasa itu berkaitan dengan kondisi kesehatan mental gue.
Kali ini, gue sedikit tertarik tentang kepribadian manusia. Dari hasil pencarian google, sebuah artikel ilmiah menuliskan bahwa kepribadian merupakan kebiasaan, sikap, sifat yang dimiliki seseorang yang berkembang ketika seseorang berhubungan dengan orang lain. Tentunya setiap orang akan memiliki kepribadian yang berbeda-beda, sekalipun itu dalam satu keluarga. Adapun faktor yang mempengaruhi kepribadian seseorang antara lain :
- Faktor Keturunan, yang meliputi watak, tempramen (respon terhadap sesuatu), kecerdasan
- Lingkungan, meliputi ketekunan, ambisi, kejujuran
- Kebudayaan, contohnya cara berbicara, yang mana setiap daerah memiliki khasnya masing-masing. Orang Jogja yang rata-rata berbicara dengan lemah lembut apabila dihadapkan dengan orang Flores (yang mana mereka terbiasa dengan nada keras) tentu saja akan kaget
- Pengalaman kelompok sosial, contohnya kelompok bergaul
- Pengalaman unik, contoh paling dekat adalah pengalaman dalam keluarga. Seperti perlakuan orang tua terhadap masing-masing anaknya.
Macam-macam kepribadian yang umumnya diketahui seperti introvert, ekstrovert, dan ambivert. Ketiga kepribadian tersebut diungkapkan oleh Carl Gustav. Secara singkatnya, orang yang memiliki kepribadian introvert ialah mereka yang berfokus pada diri sendiri dan lebih menyukai kesendirian. Mereka lebih suka sibuk dengan pikiran dan dunianya sendiri. Mungkin terkesan tertutup dan tidak asik, tapi mereke merupakan orang yang memiliki tingkat konsentrasi yang lebih tinggi, mandiri.
Sedangkan ekstrovert adalah kebalikan dari introvert, mereka lebih menyukai kehidupan di luar, senang berinteraksi dengan orang lain dan lebih terbuka. Mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan orang baru, suka bercerita, dan tentu saja memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Mereka juga sering mendahulukan tindakan daripada pikiran.
Adapun tipe terakhir dari pendapat Gustav, yaitu ambivert, kepribadian yang merupakan perpaduan dari intro dan ekstro-vert. Mereka menjalani kehidupannya lebih seimbang karena mereka tahu kapan harus menjadi seorang intro dan kapan harus menjadi ekstro-vert.
Mungkin kalau boleh milih, udah pasti gue milih ambivert. Gue rasa itu juga akan mempermudah hidup lo. Udah pasti juga si ambivert adalah orang yang peka baik dalam lingkungan maupun dirinya sendiri. Sampai detik gue menulis opini ini, gue belum tahu pasti apa kepribadian gue. Mungkin gue akan menilai bahwa gue seorang yang introvert. Gue adalah orang yang pemalu, dulu gue sering diledekin karena tiap kali jalan pasti nunduk. Gue juga orang yang sangat sulit dalam hal beradaptasi, gue akan menjadi pendiam ketika di dekat orang-orang yang nggak gue kenal atau lingkungan baru. Karena dari kecil gue nggak pernah main jauh dari rumah, gue nggak suka pergi keluar kecuali terpaksa (undangan nikah, acara keluarga) dan karena bertemu dengan orang yang cocok sama gue. Iya, walaupun lebih menyukai kesendirian, tapi bukan berarti nggak ada temen. Setahu gue, introvert tetap memiliki teman tapi nggak sebanyak ekstrovert yang mungkin malah semua orang dia anggap temen.
Tapi, dibalik itu semua, kadang gue merasa menjadi orang ekstrovert, orang yang sangat ramah, orang yang banyak ngomong, aktif bergerak, ketawa-ketawa, nggak ada capeknya. Walupun mungkin akan ada waktunya gue akan kembali menjadi pendiam dan bikin orang lain jadi bingung harus gimana. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Mungkin energi ekstrovert gue udah habis dan sekarang baru ngecharge dengan menjadi introvert.
Bentar...sebenernya apa sih yang mau lo omongin?
Seperti judul yang akhirnya gue pilih itu, mengenal untuk dikenal, singkatnya adalah sebelum orang lain menilai diri lo entah dengan istilah seperti introvert-ekstrovert, atau mungkin dengan istilah bahasa biasa seperti orang pemalu, pemarah, alangkah baiknya lo mengenali diri lo sendiri. Sebatas pengamatan gue, sebelum adanya wabah virus corona yang masuk ke Indonesia (tahun 2019-an) kebanyakan orang di Indonesia tidak begitu paham dengan kesehatan mental, ilmu kejiwaan. Kebanyakan orang justru menilai orang yang mengalami kecemasan berlebih atau orang yang diketahui memiliki gangguan jiwa dikatakan orang gila atau kurangnya dalam beribadah. Padahal faktor yang menyebabkan adanya gangguan mental itu banyak dan tidak semua yang mengalami gangguan mental itu berarti orang gila.
Gue yang melihat dari apa yang gue alami sendiri, peran ibadah atau hubungan dengan Sang Pencipta itu cukup berpengaruh. Karena Allah-lah segalanya, yang menghadirkan peristiwa dalam hidup kita. Secara logika ketika lo lebih mendekat kepada Allah dan meminta untuk diberi ketenangan dalm hidup, tentu saja hidup lo akan jauh dari kecemasan yang berlebih, akan diberi banyak kesabaran untuk menerima banyak hal yang mungkin tidak lo harapkan. Selain itu, memilih lingkungan yang tepat itu juga perlu, terutama lingkungan yang hampir separuh lebih dari waktu lo dihabiskan di tempat tersebut. Memiliki teman yang baik, yang bisa mengerti dan mau mendengarkan dengan baik, agar bisa sharing pengalaman hidup masing-masing.
Intinya mulai saat ini, belajar untuk mengenali diri sendiri, lebih sadar dan peka terhadap kondisi diri sendiri, karena siapa lagi yang paling peduli kepada kita selain diri sendiri. Kalau misal ada temen yang kelihatannya mengalami gejala-gejala kecemasan atau depresi, coba bantu dengan memperhatikan, mengajak berbicara, menjadi pendengar yang baik.
Komentar
Posting Komentar