Langsung ke konten utama

WIB : SALAH BACA

Setelah sekian lama, episode WIB ini sedang jeda, akhirnya kembali dengan nuansa bangke banget hahahaha.

Sebelumnya, gue sempet bingung ini cerita bagusnya gue taruh di kolom OTEM atau WIB, karena dibilang OTEM masuk juga, karena gue kepikirannya tengah malem, tapi kebanyakan konten OTEM itu lebih ke kalimat kalimat yang gue pikir lebih serius lebih puitis, sedangkan WIB ini curhatan tongkrongan gitu gayanya. Akhirnya gue memutuskan untuk ngomongin Salah Baca ini di WIB.

Keresahan gue dimulai dari saat gue kepikiran, kadang ada orang yang nulis, udah bener ngasih tanda bacanya, tapi beberapa orang kadang salah bacanya, entah diterobos, atau malah bikin tanda baca tambahan yang menurutnya lebih bagus atau lebih terdengar enak gitu. Hal itu bakalan merubah arti dari kalimatnya. Dari situ gue Cuma mikir, yaa nggak salah juga sih, orang punya selera masing-masing, karena punya pikiran masing-masing juga. Jadi nggak heran juga, kalau ada satu kalimat tapi bisa diartikan banyak hal oleh banyak orang.

Keresahan itu berlanjut jadi lawak, kalau salah baca mantra, dukun-dukun juga pasti gagal dalam melakukan pekerjaannya. Gue bukan penganut keyakinan dukun sih, tapi ya pasti adalah mungkin khilaf atau lupa, atau apa gitu. Ditambah lagi, salah baca Maps, yang rata-rata dilakukan oleh perempuan, itu juga bakal menyesatkan, nggak akan sampai tujuan.

Sampai akhirnya, gue kepikiran tentang salah baca tanda atau sinyal/kode dari lawan jenis. Iya, ujung-ujungnya ngomongin soal perasaan. Yang mana hal ini gue alamin sendiri. Seperti yang sudah gue ceritakan di postingan sebelum-sebelumnya, gue pernah karena salah baca kode akhirnya gue kejebak sendiri. Karena kesalahan terjemahan itu udah terlanjur merusak pikiran gue dan menimbulkan keyakinan-keyakinan sendiri. Susah bet lupanya, gue sampai mikir apa tuh laki harus ngebenci gue dulu biar gue bias lepas dari perasaan ini, bahkan sampai ke bawa mimpi, di mana cowok yang gue maksud ini beneran diemin gue.

Mungkin yang bener adalah kita emang harus berhati-hati, selalu mengecek ulang, entah dengan ditanyakan, diteliti kembali, atau bentuk pengecekan lainnya. Kalau soal kode lawan jenis, yang harus ditanyakan maksud dan tujuannya, niatnya, perlu dikomunikasikan secara serius, apalagi kalau itu terjadi di usia-usia seperempat abad ini. Jangan sampai kita kembali membuang-buang waktu untuk sesuatu yang abu-abu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...