Langsung ke konten utama

OTEM : AKU PERNAH BILANG

Masalah sama kamu itu, selalu berat. Tapi jika itu kamu, aku selalu berusaha untuk mampu. Nggak tahu kenapa akhirnya selalu kamu. Sampai detik ini aku juga masih bingung. Selalu kamu yang akhirnya membuat aku kembali tertawa dan menjadi diriku sepenuhnya. Bahkan soal suasana hatiku, juga bergantung sama kamu. Kalau kamu lagi nggak baik-baik aja dan aku yang kena, aku jadi ngerasa salah aja nggak bisa lebih berhati-hati bersikap sama kamu. Selalu kamu yang akhirnya berhasil membuat aku menangis cuma karena kamu diemin aku atau ngomong dengan nada yang nggak enak ke aku, sampai aku ngerasa salah sendiri. Ngerasa salah karena nggak tahu kalau kamu lagi nggak baik-baik aja. Ngerasa salah karena nggak tahu harus gimana, biar kamu bisa baik-baik aja.

Kamu ini sebenernya siapa? Kenapa sebegitu hebatnya? Sampai merubah banyak hal dalam hidupku, selama beberapa tahun belakangan ini. Kenapa juga kita bisa memiliki banyak kesamaan yang akhirnya membuat kita sama-sama nyaman tapi nggak bisa sama-sama. Kenapa juga banyak kebetulan yang sama-sama kita alami. Kenapa kita yang cuma bisa bercanda dan ketawa seseru itu, sedangkan ketika aku dengan yang lain, aku nggak ngerasa sama kayak serunya pas sama kamu. Kenapa juga akhirnya kamu bilang suka padahal kamu tahu kita nggak bisa bersama. Walaupun aku nggak tahu, kamu serius atau bercanda.

Kamu ini, orang yang terasa deket sekaligus jauh dalam waktu yang sama. Aku bisa lihat kamu ketawa, aku bisa lihat kamu marah, tapi aku juga nggak tahu apa itu karena aku? Apa itu beneran? Kamu ini, orang yang aku mau tapi saat ini dunia nggak mau kita. Dan sebisaku cuma membiaskan pikiran dan berusaha baik-baik aja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...