Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2023

SEPENGGAL CERITA : LAKI-LAKI TERBATAS

Angin semakin dingin. Aku dan Tara juga lebih banyak terdiam. Aku melirik ke arah asbak di sampingnya. Laki-laki 26 tahun ini sudah menghabiskan lima batang rokok selama 3 jam. “Terakhir deh,” ucapnya kemudian menyundutkan sisa rokoknya. “Apa?” tanyaku. “Apa sih yang lagi lo cari sekarang?” tanya Tara. Dia merubah posisi duduknya menghadap ke arahku. Bersila. Rambutnya yang panjang mulai diikat. Ini sesuatu yang serius, batinku. “Apa ya?!” ucapku sebagai awal jawaban, walaupun sebenarnya aku juga tidak tahu akan menjawab apa. Pertanyaan itu justru yang membuatku berpikir tentang apa yang aku cari saat ini. “Soal pasangan, deh.” Pancingnya. “Semuanya gue buat ngalir aja,” ucapku. “Bohong!” “Lah...beneran. Dari dulu gue terbiasa buat rencana panjang, harapan-harapan di masa yang akan datang. Tapi kebetulan hampir semuanya belum berhasil. Gue kecewa, sedih, stres. Berulang kali terus seperti itu. Capek, bosen, gitu-gitu aja. Ya udah, sekarang gue pasrah. Gue tetep ada rencana, tapi sebata...

SEPENGGAL CERITA : TIBA-TIBA

Kau menyender ke bahuku. Secara tiba-tiba saja. Sama halnya kau yang datang kepadaku saat itu. Sama juga seperti ajakanmu untuk melihat sunset di pantai sore ini. Aku diam. Kau diam. Hanya suara ombak dan semilir angin yang membuat sore itu sedikit dalam. “Kenapa ya kita harus ketemu?” tanyamu kepadaku. Secara tiba-tiba. Aku berpikir. “Iya juga, ya.” Batinku. Kita sudah kenal 2 tahun lamanya. Kita juga cukup menghabiskan waktu selama 2 tahun itu. Tapi kita tidak memiliki hubungan apapun selain...berteman. “Kamu pernah mikirin itu nggak, sih?” tanyamu lagi. Mungkin karena aku tidak kunjung menjawab pertanyaan pertamanya. “Emmm...sebelumnya nggak sih. Baru kepikiran juga.” Jawabku. “Terus? Menurut kamu? Kenapa?” tanyamu lagi. “Nggak tahu juga. Sejauh ini ya aku nikmatin aja sih. Sampai kadang lupa kalau kamu ternyata udah ada yang punya, hahaha.” Kekehku. “Sama, kadang aku juga ngerasa kayak gitu. Aku ngerasa kalau aku itu punya kamu, bukan Bagas.” Ucapmu dengan suara yang melemah. “Mung...

SEPENGGAL CERITA : 0226-ARSIP

Aku kembali mengecek pesan dalam arsip whatsapp-ku. Pesanmu, yang terakhir kau balas setelah 3 hari aku mengirimnya. Tentu saja tidak ada balasan lagi darimu. Sekalipun balasanku mengandung pertanyaan, yang...aku rasa bukan retoris. Aku menghela napas. Seperti biasa, sedih. Karena aku berharap kau membalasnya sekalipun itu sudah lewat 2 minggu atau bahkan 1 bulan. Tenang saja, untukmu, tidak ada masa tenggang, tidak ada tanggal kadaluarsa. Sebenarnya, aku ingin mengirimu pesan lagi. Waktu itu aku sedang lelah dengan banyak hal dan perlu meluapkan semua itu. Tapi...logikaku kembali berjalan dan mengatakan, “mending nggak usah.” Aku bukan seseorang yang kau tunggu pesannya, bahkan mungkin pesanku juga kau arsipkan bersama room chat yang menurutmu “mengganggu”. Aku juga bukan orang yang penting, sehingga harus kau balas setiap pesannya. Dan...mungkin bukan aku pilihanmu. Bukan aku yang kau nantikan. Dan pertemuan waktu itu, memang bukan awal yang selalu aku sebut Hilal.

SEPENGGAL CERITA : DUA ORANG-LAIN

“Kenapa sih, kita?” tanyaku dalam hati. Ya...aku hanya bisa mengeluarkan semuanya hanya dalam hati. Pernah aku utarakan kepadamu, tapi kamu hanya diam saja. Atau malah mempertanyakan kembali, kenapa gimana? Yang jelas-jelas itu tidak perlu aku jawab. “Kita ini apa?” banyak hal yang kita lewati tapi tidak juga memperjelas jawaban dari pertanyaan itu. Sialnya! Aku sudah menganggapmu lebih dan sangat berarti karena membuka banyak hal dalam hidupku. Susah memang terlalu dekat dengan lawan jenis yang hobinya bercanda. Saking seringnya  bercanda, jadi nggak sadar apa yang dilakukan itu serius atau bercanda. Dan sekarang, kita benar-benar menjadi manusia yang asing. Manusia yang sama-sama membutakan mata, tidak melihat satu sama lain. Tidak lagi bertegur sapa. Tidak lagi peduli. Dia. Perlu aku ralat, tidak denganku. Mungkin, bisa saja aku sepertimu. Tapi ternyata tidak semudah itu.  Hampir gila aku menutup mata, menutup telinga dan menghentikan saraf reflek untuk tidak dekat denga...