Angin semakin dingin. Aku dan Tara juga lebih banyak terdiam. Aku melirik ke arah asbak di sampingnya. Laki-laki 26 tahun ini sudah menghabiskan lima batang rokok selama 3 jam. “Terakhir deh,” ucapnya kemudian menyundutkan sisa rokoknya. “Apa?” tanyaku. “Apa sih yang lagi lo cari sekarang?” tanya Tara. Dia merubah posisi duduknya menghadap ke arahku. Bersila. Rambutnya yang panjang mulai diikat. Ini sesuatu yang serius, batinku. “Apa ya?!” ucapku sebagai awal jawaban, walaupun sebenarnya aku juga tidak tahu akan menjawab apa. Pertanyaan itu justru yang membuatku berpikir tentang apa yang aku cari saat ini. “Soal pasangan, deh.” Pancingnya. “Semuanya gue buat ngalir aja,” ucapku. “Bohong!” “Lah...beneran. Dari dulu gue terbiasa buat rencana panjang, harapan-harapan di masa yang akan datang. Tapi kebetulan hampir semuanya belum berhasil. Gue kecewa, sedih, stres. Berulang kali terus seperti itu. Capek, bosen, gitu-gitu aja. Ya udah, sekarang gue pasrah. Gue tetep ada rencana, tapi sebata...