“Kenapa sih, kita?” tanyaku dalam hati.
Ya...aku hanya bisa mengeluarkan semuanya hanya dalam hati. Pernah aku utarakan kepadamu, tapi kamu hanya diam saja. Atau malah mempertanyakan kembali, kenapa gimana? Yang jelas-jelas itu tidak perlu aku jawab.
“Kita ini apa?” banyak hal yang kita lewati tapi tidak juga memperjelas jawaban dari pertanyaan itu.
Sialnya! Aku sudah menganggapmu lebih dan sangat berarti karena membuka banyak hal dalam hidupku. Susah memang terlalu dekat dengan lawan jenis yang hobinya bercanda. Saking seringnya bercanda, jadi nggak sadar apa yang dilakukan itu serius atau bercanda.
Dan sekarang, kita benar-benar menjadi manusia yang asing. Manusia yang sama-sama membutakan mata, tidak melihat satu sama lain. Tidak lagi bertegur sapa. Tidak lagi peduli. Dia. Perlu aku ralat, tidak denganku. Mungkin, bisa saja aku sepertimu. Tapi ternyata tidak semudah itu.
Hampir gila aku menutup mata, menutup telinga dan menghentikan saraf reflek untuk tidak dekat denganmu. Tidak mencampuri urusanmu. Hampir saja aku juga menekan diriku sendiri untuk tidak marah di hadapanmu karena ketidakterimaanku atas situasi ini. Hampir saja aku juga ingin membunuh semua rasa itu. Tapi selalu gagal.
Aku mengakui, dirimu memang membuatku gila. Tapi aku juga yakin, ini hanya perkara terbiasa. Mungkin perlu waktu lama, tapi aku yakin situasi ini juga akan menjadi hal yang biasa. Seperti hubungan kita ini. Dua orang-lain.
Komentar
Posting Komentar