Langsung ke konten utama

SEPENGGAL CERITA : LAKI-LAKI TERBATAS

Angin semakin dingin. Aku dan Tara juga lebih banyak terdiam. Aku melirik ke arah asbak di sampingnya. Laki-laki 26 tahun ini sudah menghabiskan lima batang rokok selama 3 jam.

“Terakhir deh,” ucapnya kemudian menyundutkan sisa rokoknya.

“Apa?” tanyaku.

“Apa sih yang lagi lo cari sekarang?” tanya Tara.

Dia merubah posisi duduknya menghadap ke arahku. Bersila. Rambutnya yang panjang mulai diikat. Ini sesuatu yang serius, batinku.

“Apa ya?!” ucapku sebagai awal jawaban, walaupun sebenarnya aku juga tidak tahu akan menjawab apa. Pertanyaan itu justru yang membuatku berpikir tentang apa yang aku cari saat ini.

“Soal pasangan, deh.” Pancingnya.

“Semuanya gue buat ngalir aja,” ucapku.

“Bohong!”

“Lah...beneran. Dari dulu gue terbiasa buat rencana panjang, harapan-harapan di masa yang akan datang. Tapi kebetulan hampir semuanya belum berhasil. Gue kecewa, sedih, stres. Berulang kali terus seperti itu. Capek, bosen, gitu-gitu aja. Ya udah, sekarang gue pasrah. Gue tetep ada rencana, tapi sebatas untuk hari ini. Gue nikmatin apa pun yang terjadi. Ikhlas. Terima. Yang penting gue udah usaha untuk hari ini.” Terangku.

Hening sejenak. Hanya suara angin yang semakin berisik dan semakin bersikeras bermain dengan anak rambutmu yang lepas dari ikatannya.

“Hidup itu udah rumit, Tar. Makanya gue nggak mau bikin makin rumit dengan pikiran gue sendiri, juga orang lain. Terserah orang mau menilai gue gimana. Toh, bener-salah itu Cuma soal persepsi orang aja, dan pasti bakalan beda-beda.

“Bener, sih.” Ucap Tara kemudian berbalik ke posisi duduknya semula.

Aku melirik jam tanganku, yang menunjukkan pukul sebelas malam.

“Balik, yuk.” Ajakku.

“Duluan aja, Na.” Kata Tara yang kembali menyulut rokok.

Aku menghela napas. “Terserah,” batinku.

Aku mengambil tasku dan memasukkan ponsel ke dalamnya.

“Gue duluan, ya.” Pamitku.

“Oke. Makasih, ya. Udah mau dengerin.”

“Sama-sama.”

Aku pulang. Tara, dia masih duduk dan mengawang. Bermain dengan kepulan asap rokoknya sendiri. Dia adalah laki-laki yang cukup berkesan bagiku. Tapi...terbatas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...