Langsung ke konten utama

SEPENGGAL CERITA : TIBA-TIBA

Kau menyender ke bahuku. Secara tiba-tiba saja. Sama halnya kau yang datang kepadaku saat itu. Sama juga seperti ajakanmu untuk melihat sunset di pantai sore ini.

Aku diam. Kau diam. Hanya suara ombak dan semilir angin yang membuat sore itu sedikit dalam.

“Kenapa ya kita harus ketemu?” tanyamu kepadaku. Secara tiba-tiba.

Aku berpikir. “Iya juga, ya.” Batinku.

Kita sudah kenal 2 tahun lamanya. Kita juga cukup menghabiskan waktu selama 2 tahun itu. Tapi kita tidak memiliki hubungan apapun selain...berteman.

“Kamu pernah mikirin itu nggak, sih?” tanyamu lagi. Mungkin karena aku tidak kunjung menjawab pertanyaan pertamanya.

“Emmm...sebelumnya nggak sih. Baru kepikiran juga.” Jawabku.

“Terus? Menurut kamu? Kenapa?” tanyamu lagi.

“Nggak tahu juga. Sejauh ini ya aku nikmatin aja sih. Sampai kadang lupa kalau kamu ternyata udah ada yang punya, hahaha.” Kekehku.

“Sama, kadang aku juga ngerasa kayak gitu. Aku ngerasa kalau aku itu punya kamu, bukan Bagas.” Ucapmu dengan suara yang melemah.

“Mungkin aku itu cobaan dalam hubungan kamu sama Bagas.” Ucapku.

“Cobaan gimana?”

“Seberapa besar perasaanmu ke Bagas, seberapa setianya kamu ke Bagas, sesabar apa kamu ngadepin situasi hubunganmu sama Bagas.”

“Terus aku gagal ya?”

“Aku nggak bilang kamu gagal. Kalau gagal...kamu udah jadian sama aku. Hahaha.”

Kamu terdiam.

“Aku harus gimana ya, Res?” tanyamu. “Jujur aja, aku nyaman sama kamu. Mungkin lama-lama juga aku bisa suka sama kamu. Tapi aku sama Bagas juga udah lama dan nggak mungkin aku ninggalin dia. Karena aku juga masih sayang sama dia. Kalau kamu ke aku gimana?”

“Aku suka sama kamu.” Jawabku dalam hati. Aku tidak pernah sampai mengatakan kalimat itu, sekalipun suasana kali ini sangat mendukung. Dan mungkin, bisa menjadi titik balik perasaanmu.

“Sama.” Jawabku. “Ya kamu coba aja merenung dulu. Nggak usah ketemu atau chat sama aku dulu. Sama halnya juga ke Bagas. Terus rasain aja gimana, mungkin bisa ngebantu.” Lanjutku. Entah benar, atau salah.

Tidak ada tanggapan darimu. Aku sendiri juga enggan bicara banyak. Aku merasa memang sudah saatnya hubungan tidak jelas ini, harus diakhiri. Selama aku masih waras dan sadar bahwa kamu memang belum berhak aku dapatkan. Karena aku tahu, perasaanmu masih sangat besar untuk kekasihmu itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...