Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2023

SEPENGGAL CERITA : PASRAH

Aku merebahkan seluruh tubuhku, masih lengkap dengan sepatu dan totebag, setelah seharian bekerja. Ya...rasanya malas sekali, walaupun sekedar melepaskan keduanya. Rasanya semua energiku telah habis-lenyap entah ke mana. Yang aku tahu...seharian ini pikiranku sudah tersita olehmu. Aku kembali bingung dengan sikapmu. Walau setelah dipikir-pikir, tidak ada yang membingungkan. Kau tidak pernah mengabariku, mengirim pesan. Kau juga tidak menjanjikan apapun, memperlakukanku dengan spesial-tanpa pertemuan. Itu sudah cukup untuk disimpulkan bahwa kita tidak lebih dari sebatas kenalan. Mungkin, memang aku yang membuat situasi itu menjadi runyam, untuk diriku sendiri. Mungkin, ketika aku memilih untuk pasrah atas semuanya kepada Ya Rabb, aku tidak akan segila ini. Berulang kali aku hanya menghela napas dan kembali memikirkan semuanya. Mengulang lagi ingatan sejak awal kita berkenalan. Kemudian, Adam menelponku. “Dimana lo, Ci?” tanyanya tanpa salam pembuka. “Di rumah, baru pulang.” Jawa...

OTEM : 0304

Biar aku menarik napas terlebih dahulu. Akhir-akhir ini, aku merasa sedikit sesak dengan situasi kondisi dalam diriku. Huuuuuh....aku bingung mengatakannya kepada-Mu, Ya Rabb. Walaupun aku tahu Engkau tahu apa yang aku maksud. Tapi...tanpa 2 rakaat salam aku tidak yakin dengan apa yang aku ucapkan. Aku juga tidak mantap saat menceritakan semua keluh kesahku. Berikan aku kekuatan setidaknya sampai aku bisa beribadah kepadamu. Dan untukmu...orang yang ingin aku adukan kepada Rabbi-ku. Semoga kau baik-baik saja di sana, semoga apa yang kau cita-citakan berhasil tercapai, semoga hidup yang kau jalani baik-baik saja. Semoga...semua akan baik-baik saja. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin ku katakan kepadamu. Ada banyak pertanyaan yang ingin aku temui jawabannya dari mu. Tapi salah satu temanku bilang, “tidak semua pertanyaan harus ada jawabannya” karena ketidakadajawaban tersebut bisa saja menjadi jawaban. Aku berpikir, pilihanmu untuk tidak membalasku mungkin juga bentuk jawaban ...

1 TAHUN

“Kamu tahukan, yang namanya pernikahan itu bukan upacara yang diartikan 1 kali dalam seumur hidup Cuma di mulut saja. Pernikahan itu, satu bagian yang ada dalam hidup kamu yang harus kamu pegang erat-erat baik di sini, di sini, dan di sini.” Ucap Ibu sambil menunjuk kepala, mulut, dan dada secara berurutan. “Ibu nggak pernah nyuruh kamu buru-buru buat nikah, ibu nggak pernah meminta calon suami kamu harus ini-harus itu, tapi...ibu emang nggak setuju kalau kamu memilih untuk nggak nikah apapun itu alasannya.” Lanjutnya. “Kamu itu punya agama, kamu juga belajar agama nggak Cuma waktu kecil, kamu udah tahukan caranya kalau kamu bingung sama sebuah pilihan?! Minta petunjuk dari Allah, shalat istikhoroh, doa minta pilihan yang terbaik buat kamu, di dunia maupun di akhiratnya.” Ibu tersenyum sambil meraih tanganku. “Kalian yang sepakat sama hal itu, kalau memang dia datang dan menagih janji ya kamu harus ikut menepati. Kalau seandainya dia nggak datang, kamu boleh datang lebih dulu unt...

OTEM : HILAL

Hilal. Hilal. Hilal. Biarkan aku terus menyebut namamu. Hahahaha. Entah kenapa, menyebut namamu sangat menyenangkan. Bahkan...asal kau tahu, ketika aku tidak bisa tidur aku akan menyebut namamu berkali-kali, sambil membuka pesanmu, dengan harapan kau online malam itu. Hilal, yang sebenarnya bukan nama aslimu. Ini adalah namamu dalam duniaku. Entah pencerahan-ide dari mana, kehadiranmu aku ibaratkan layaknya hilal saat menjelang bulan ramadhan atau bulan syawal. Kau...adalah awal dalam duniaku. Harapannya. Perkara kenyataannya, aku serahkan sepenuhnya kepada Allah. Jadi, tolong ijinkan aku menyebut nama itu saat ini sampai nanti...kalau kita berjodoh. 😆 Entah sudah berapa kali aku membicarakanmu dalam duniaku. Kau, selalu menjadi topik terhangat walaupun hanya aku ulang-ulang. Mengingat, kau dan aku tidak memiliki banyak waktu untuk saling mengenal, menjalin sebuah komunikasi. Kau...selalu menjadi alasan untukku tersenyum setelah merasakan kelelahan karena situasi duniaku. Ka...

Bertemu Kamu (Lagi)

Hari-hari menjelang lebaran, masih sama seperti tahun kemarin. Pekerjaan yang adaaa saja tingkahnya, entah datengnya H-2 hari libur sebelum lebaran yang minta selesainya secepatnya, padahal kerjaannya perlu waktu buat proses dan mikirnya. Yaaa...ditambah ekstra bonus datengnya berjamaah. Paling oke sih itu. Mau ngeluh tapi kasihan karena mengingat mereka dalam rantai kejar-mengejar, yang akhirnya memaksa aku juga masuk dalam rantai tersebut sebagai pungkasannya. Untung saja, dalam situasi dan kondisi yang serba ribut itu, Allah masih memberi nikmat kesehatan dan waktu yang cukup untuk sekedar merebahkan punggung lansia dalam tubuh muda ini. Untung saja, Allah memberikan sosok ibu yang pengertian karena setiap malam hari sebelum shalat tarawih, selalu menyempatkan waktu buat pijit tipis-tipis. Cobaannya pas tengah-tengah mijit ada ponakan yang rewel maksa masuk ke kamar kemudian berujung rusuh. Di suatu malam seperti biasanya itu, akhirnya aku meminta Ibu untuk berhenti memijit. Yaa...

Manusia Bumi

P erjalanan kami masih berlanjut. Minke sibuk memberi kabar pasangannya karena hari ini tepat hari perayaan hubungan mereka. Raka sibuk mengurus pekerjaan yang sengaja ia tinggalkan. Robi sibuk mengedit hasil foto langitnya. Sedangkan aku, selalu sibuk memperhatikan mereka. “Kita nanti foto bareng, kan?” tanyaku, membuat mereka kompak menoleh ke arahku. Aku hanya tersenyum. “Berat loh, Na kalau kamu sampai kangen sama kita.” Kata Raka yang kemudian menutup laptopnya. “Loh...justru fotonya bisa jadi obat kangen.” Kataku. “Saya kasih tahu, Na. Yang namanya rindu itu obatnya bertemu.” Ucap Minke. “Kalau gitu, kita langgar aja kesepakatan buat nggak saling tuker nomor atau sosial media.” Kata Robi. “Yaaa...jangann...” ucapku. “Satu foto sebagai tanda kita pernah bertemu. Lagian, ini kan pengalaman perdana kita juga ikut treveling sama orang asing.” “Oke deh, nggak masalah. Lagian apa susahnya sih foto bareng.” Kata Raka. “Makasih, Pak Ketua.” Ucapku. “Sama-sama, anggota. ...

SEPENGGAL CERITA : TEMAN SAMPAH

Aku khilaf. Aku menerima ajakan pergimu yang padahal hari itu kau juga akan pergi dengan perempuanmu. Tapi, aku tidak tahu ada kejadian apa sampai akhirnya kau malah pergi denganku. Dan bukannya ini juga hal biasa, karena kita sudah bisa dikatakan teman akrab. Yang perlu digaris bawahi adalah aku tidak akan merebutmu dari siapapun. Aku hanya berperan sebagai aku yang sedikit tahu tentangmu. Sebagai temanmu. “Hidup itu kocak ya,” ucapmu dalam perjalanan yang entah ke mana. Karena kau mengatakan ‘lihat aja nanti’ saat aku bertanya. “Iya, makanya kalau bisa dibilang pelawak, paling juara ya hidup. Gajinya gede, tuh.” Kataku. “Ketemu sama makhluk kayak lo juga hal paling kocak, sih. Nggak nyangka aja ada spesies unik kayak lo.” Katamu, yang aku lihat sambil melirik ke arah spion yang memantulkan bayanganku.” “Banyak testimoni yang kayak gitu.” Kataku asal. Aku sudah terlalu gugup karena untuk pertama kalinya kita berboncengan seperti ini. Rasanya campur aduk, aku takut kalau tiba...

OTEM : PLOT TWIST - BUKAN AKU

Hahaha. Biarkan aku tertawa dulu sebelum menceritakan hal ini. Desember 2056 untuk pertama kalinya kita bertemu. Saat itu, kau mengenakan kemeja hijau army dan celana jeans, sedangkan aku mengenakan hijab kuning, kaos hitam dengan outer dan celana kulot warna biru tua. Kau tersenyum canggung saat bertemu pandang denganku. Singkat, langsung mengalihkan pandangan ke orang ketiga dalam pertemuan itu. Tak lupa kau mengucapkan salam dengan suara beratmu itu. Dan...sial, serangan pertama yang berhasil menggetarkan hatiku. Tanpa menjaga image atau semacamnya, aku memperkenalkan diri secara singkat. Tapi ketahuilah, aku sangat deg-degan saat itu. Hampir saja ucapanku terdengar belepotan karena hal itu. Entah dengan malu, canggung, atau perasaan lain, kau melakukan hal yang sama. Secara singkat. Selanjutnya, aku memberikan daftar menu dan menyuruhmu untuk memesan sesukamu. Tapi, sekali lagi, entah malu, canggung, atau perasaan lain, kau malah bingung dan memilih, “samain aja,” Sambil ...