Aku merebahkan seluruh tubuhku, masih lengkap dengan sepatu dan totebag, setelah seharian bekerja. Ya...rasanya malas sekali, walaupun sekedar melepaskan keduanya. Rasanya semua energiku telah habis-lenyap entah ke mana. Yang aku tahu...seharian ini pikiranku sudah tersita olehmu. Aku kembali bingung dengan sikapmu. Walau setelah dipikir-pikir, tidak ada yang membingungkan. Kau tidak pernah mengabariku, mengirim pesan. Kau juga tidak menjanjikan apapun, memperlakukanku dengan spesial-tanpa pertemuan. Itu sudah cukup untuk disimpulkan bahwa kita tidak lebih dari sebatas kenalan. Mungkin, memang aku yang membuat situasi itu menjadi runyam, untuk diriku sendiri. Mungkin, ketika aku memilih untuk pasrah atas semuanya kepada Ya Rabb, aku tidak akan segila ini. Berulang kali aku hanya menghela napas dan kembali memikirkan semuanya. Mengulang lagi ingatan sejak awal kita berkenalan. Kemudian, Adam menelponku. “Dimana lo, Ci?” tanyanya tanpa salam pembuka. “Di rumah, baru pulang.” Jawa...