Langsung ke konten utama

1 TAHUN

“Kamu tahukan, yang namanya pernikahan itu bukan upacara yang diartikan 1 kali dalam seumur hidup Cuma di mulut saja. Pernikahan itu, satu bagian yang ada dalam hidup kamu yang harus kamu pegang erat-erat baik di sini, di sini, dan di sini.” Ucap Ibu sambil menunjuk kepala, mulut, dan dada secara berurutan.

“Ibu nggak pernah nyuruh kamu buru-buru buat nikah, ibu nggak pernah meminta calon suami kamu harus ini-harus itu, tapi...ibu emang nggak setuju kalau kamu memilih untuk nggak nikah apapun itu alasannya.” Lanjutnya.

“Kamu itu punya agama, kamu juga belajar agama nggak Cuma waktu kecil, kamu udah tahukan caranya kalau kamu bingung sama sebuah pilihan?! Minta petunjuk dari Allah, shalat istikhoroh, doa minta pilihan yang terbaik buat kamu, di dunia maupun di akhiratnya.” Ibu tersenyum sambil meraih tanganku.

“Kalian yang sepakat sama hal itu, kalau memang dia datang dan menagih janji ya kamu harus ikut menepati. Kalau seandainya dia nggak datang, kamu boleh datang lebih dulu untuk menagihnya. Karena itu urusan sesama manusia, kalau kamu nggak selesain, dan salah satu diantara kalian ada yang nggak ridho, bisa jadi masalah di akhirat.”

Aku hanya bisa diam. Selalu seperti ini, setiap kali aku menceritakan keresahanku dalam hal perasaan, tidak ada satu katapun yang bisa aku keluarkan entah untuk membantah ataupun mengiyakan ucapan Ibu.

Sejak aku dan Jaga membuat keputusan itu, kami tidak lagi menjalin komunikasi. Bahkan ketika aku mencoba untuk kembali berkomunikasi rasanya Jaga menjadi seseorang yang asing bagiku.

Bulan Mei 2022, lebaran ke-3, genap 1 tahun perjanjian kami. Menjalani hari-hari sebelum hari itu aku menjadi lebih banyak berdiam diri. Sesi wawancara kepada si perasaan lebih sering daripada kepada si pikiran. Walaupun sesekali ditengah-tengah wawancara dengan si perasaan, si pikiran juga ikut menyela, begitu juga sebaliknya.

Entah, perasaanku yang memang selama ini diam-diam tumbuh atau karena selama ini aku tidak lagi bertemu dengan orang lain yang mengenak di hatiku. Nama Jaga masih ada bahkan selalu menjadi nama pertama yang muncul ketika aku sedang merenung atau berdiam diri mengisi energi dalam diriku. Nama Jaga, juga menjadi nama pertama yang terbesit ketika ada laki-laki yang menanyakan tentang pasanganku. Jaga menjadi nama yang akan aku sebutkan ketika aku ingin berbohong perihal pasangan. Mungkin juga Jaga menjadi alasanku melakukan kebohongan itu. Mungkin itu alasanku memberinya nama Jaga, karena sampai saat ini masih Jaga yang memenuhi hati dan pikiranku sekalipun beberapa kali aku dekat dengan laki-laki lain, dan aku berharap dia akan menepati janjinya tahun ini.

“Na...ada tamu, katanya mau ketemu kamu.” Seru Ibu sambil mengetuk pintu kamarku.

Aku bergegas merapikan penampilanku yang terlihat kusut kemudian keluar.

“Ibu nggak jamin sih, tapi kayaknya itu yang kamu tungguin.” Kata Ibu sedikit berbisik.

Aku langsung berjalan menuju ruang tamu dan benar kata Ibu, ada Jaga yang sedang duduk.

Ibu meraih lenganku, “Ingat ya...tenang. Apapun yang terjadi, kamu harus tenang.” Ucapnya kemudian melepaskannya.

“Ehem...hai...” ucapku dengan sedikit tersenyum dan melambaikan tangan.

Ini adalah pertemuan kedua kami setelah perkenalan singkat itu.

“Hai,” balasnya sambil tersenyum.

“Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?” tanyaku.

“Biar kamu kaget, hhahaha.” Jawabnya.

“Mana berhasil lagi.” Ucapku.

“Emm...lagi kosong nggak?” tanyanya kemudian.

“Kosong sih, kebetulan kantor juga udah libur.” Jawabku.

“Rencananya mau saya ajak buka puasa di luar, kalau kamu nggak keberatan.”

“Boleh, lagian jadwal buka bersama tahun ini lagi nggak padet.”

“Sama sih kalau itu,”

“Ya udah, saya siap-siap dulu.”

“Oke, nggak usah buru-buru, santai aja.”

“Siap.”

Aku kembali ke kamar untuk persiapan. Untung saja aku memiliki bakat terpendam mandi dalam waktu yang singkat, juga dandan ala kadarnya yang tetap kelihatan oke. Perlu waktu 15 menit untuk selesai melakukan hal tersebut. Waktu yang aku nantikan telah tiba.

“Aku pamit ya, Bu.” Ucapku sambil bersalaman dan mencium tangannya.

“Ingat ya...”

“Iya, Bu.”

Aku berjalan keluar dan menemui Jaga sudah berdiri di luar rumah.

“Ayo,”

“Cepet banget, nggak mandi ya?”

“Dih...ini nih, kelebihan saya dibanding perempuan-perempuan lain,”

“Hahaha, bersih nggak mandinya?”

“Udahlah, jangan dibahas kalau soal itu. Buang-buang waktu.”

“Ya udah. Kamu mau request tempat makannya?”

“Nggak, terserah, dimana aja, apa aja makanannya kalau buat buka puasa, saya setuju.”

“Oke, kalau gitu karena saya lagi pengen makan sate kambing, kita buka puasa sate kambing.”

“Boleh, saya suka kok sama sate kambing.”

Jaga tersenyum kemudian menganggukkan kepala. Dia berjalan menuju mobilnya kemudian membukakan pintu penumpang bagian depan.

“Silakan masuk lebih dulu.” Ucapnya kemudian.

“Padahal saya nggak lagi sakit loh,” kataku.

Lagi-lagi Jaga hanya tersenyum.

Seperti tebakanku, warung Pak Jenggot menjadi tujuan buka puasa kami. Dia sering sekali menyebutkan warung itu saat membicarakan makanan. Sesampainya di sana dia juga segera memesan menu makanan dan minuman.

“Kamu selalu setuju sama omongan orang?” tanya Jaga kepadaku.

“Nggak juga, tapi lebih banyak setujunya.” Jawabku.

“Alasannya?”

“Emmmm...tergantung. Tergantung siapa orangnya, tergantung hal apa yang lagi dibicarakan, tergantung untung-ruginya buat saya sendiri.”

“Kalau tadi, pas milih tempat makan, alasannya apa?”

“Semuanya, orang puasa itu apa aja bisa dimakan karena laper. Saya juga suka sama sate kambing, dan kebetulan kamu yang nanya.”

Jaga hanya tersenyum.

“Udah lama ya, kamu apa kabar?”

“Hahaha...kenapa kedengeran telat banget ya kalau basa-basi.”

“Yaaa...saya emang lagi nggak basa-basi. Saya nanya beneran,”

“Baik...bisa dibilang baik, karena saya masih sehat, saya bisa kerja full, puasanya juga lancar. Kamu sendiri?”

“Nahhh...ini baru basa-basi.”

“Ya...biar imbang. Kitakan lagi ngobrol bukan wawancara.”

“Awalnya baik-baik aja sih, tapi akhir-akhir ini agak ribet gitu. Pikiran sama perasaan suka debat sendiri pas saya mau istirahat. Kadang pas udah tenang semuanya, perasaan nyela aja bangunin saya sama pikiran buat bahas hal lain.”

Kami berhenti sejenak karena makanan pesanan kami datang. Ditambah beberapa detik kemudian adzan magrib berkumandang, tanda waktunya untuk berbuka puasa.

“Enakkan?” tanya Jaga disela-sela makan.

“Iya, ternyata apa yang kamu omongin bener, loh.” Jawabku.

“Pelan-pelan aja makannya, saya nggak akan ambil punya kamu.”

“Hahaha, bukan gitu. Terlalu semangat karena enak banget.”

“Menurut kamu, saya dateng tepat waktu atau nggak sekarang?”

“Tepat waktu, karena...tapi kamu jangan gimana-gimana ya. Ini kan menurut saya. Tepat waktu karena saya berharap kamu dateng secepatnya.”

“Kalau boleh tahu, yang bikin ribet akhir-akhir ini apa?”

Aku berhenti menyuapkan makanan kemudian meletakkan sendok dan garpu.

“Karena kamu. Hahaha, itu juga gara-gara si pikiran sama si perasaan yang ngajakin saya tour masa lalu dan ternyata itu soal kamu. Saya jadi inget kesepakatan yang kita buat. Kebetulan besok lebaran ke-3 tepat 1 tahunnya, kan?! Saya jadi mikir, kamu bakalan dateng atau nggak. Makin ke sini jatuhnya saya berharap kamu dateng.”

“Kangen yaaaa?” tanyanya dengan nada bercanda.

“Hahaha...nanti kalau saya jawab beneran malah bikin kamu nggak enak hati. Lagian harusnya udah kelihatan sih dari jawaban saya tadi.”

“Iya, saya tahu kok. Terima kasih ya kalau saya masih dikasih waktu sampai selama ini.”

“Saya Cuma menjaga janji aja, sih. Yaaa...walaupun nggak ada kata janji tapi kesepakatan soal ini udah saya anggap janji, buat saya sendiri.

“Kalau gitu, berarti kamu udah ada jawabannya?”

“Masih ditanya ya?”

“Yaa...siapa tahu apa yang kamu bilang tadi ternyata biar nggak merasa ada ikatan lagi.”

“Emmm...kayaknya nggak seru deh kalau saya duluan. Boleh nggak kalau kamu duluan,”

“Saya cerita dulu ya, waktu-waktu yang saya lewati selama ini.” Kata Jaga, dia meletakkan alat makannya dan membenahi posisi duduknya.

“Satu bulan setelah kita bikin kesepakatan itu, saya masih baik-baik saja. Ibu saya kadang nanyain kamu. Saya Cuma bilang biar ibu sabar dulu. Dua sampai tiga bulan kemudian, bapak sama ibu ngajak saya bicara soal pernikahan. Mereka bilang biar saya segera nyari pasangan. Tapi saya masih belum mau, saya masih kepikiran sama kamu. Saat itu ibu sama bapak masih mengerti saya. Tapi nggak lagi setelah penyakit jantung bapak kambuh. Ibu mendesak saya untuk berkenalan dengan perempuan yang ternyata diam-diam disiapkan oleh bapak. Waktu itu saya pikir ini hanya soal kenalan, nggak ada salahnya untuk kenalan. Akhirnya saya bertemu sama perempuan itu.”

“Terus, bapak sekarang udah sehat?” potongku.

“Anehnya itu...dokter yang awalnya menyarankan untuk opname 1 minggu, baru jalan 5 hari bapak diijinkan pulang.”

“Terus?”

“Saya kalah. Saya kalah sama prinsip saya itu. Saya pikir dengan hanya berkenalan semuanya selesai. Tapi ternyata terbiasa dengan bertemu perempuan itu, terbiasa berbicara dengan perempuan itu, perasaan saya ke kamu sudah berganti.”

Aku membenahi posisi dudukku.

“Pas saya sadar soal itu, saya nangis. Saya merasa bersalah sama kamu, saya juga bingung harus bilang saat itu juga atau nunggu 1 tahun sesuai kesepakatan kita. Sampai akhirnya saya ingat awal dari kesepakatan itu. Keputusan itu adalah ide kamu karena kamu yang ragu sama perasaan saya. Akhirnya saya melakukan hal itu, saya memutuskan untuk berteman dengan perempuan itu untuk mendapat perasaan yang jelas kepada perempuan itu sekaligus perasaan kepada kamu.”

“Biar saya tebak...sama seperti awal.” Potongku.

Jaga terdiam sambil menatap mataku dalam. Aku menyipitkan kedua mataku, “Kenapa?” tanyaku.

“Saya nggak tahu soal kamu. Kamu yang jujur atau kamu yang berpura-pura jujur. Seperti sekarang, saya nggak tahu kamu paham soal apa yang saya bicarakan atau nggak.”

Aku mengangguk, “Apapun itu terserah kamu, itu penilaian kamu soal saya. Saya paham, saya juga percaya kalau perasaan kamu ke saya itu berganti. Pertama, selama ini kita nggak ada komunikasi, sebelumnya kita juga hanya sebatas mengenal secara singkat. Jadi, gambarannya di antara saya dan kamu nggak ada tali yang kuat buat menjaga perasaan satu sama lain. Kenapa saya bereaksi seperti ini, saya ingat kata ibu saya, apapun yang terjadi saya harus tenang. Kalau saya nggak ingat, mungkin ditengah-tengah kamu bercerita tadi, saya udah nangis duluan.”

Jaga terdiam, entah tertegun dengan jawabanku atau dia sedang berpikir.

“Jadi perasaan kamu ke saya udah biasa saja kan?” tanyaku.

Jaga mengangguk dengan pelan.

“Saya masih sama, mungkin. Karena selama ini kamu yang selalu saya jadikan alasan ketika saya malas dekat dengan laki-laki lain. Ketika saya capek batin, ucapan kamu yang selalu saya ingat. Tapi nggak papa kalau kamu udah nggak sama. Lagian kamu juga nggak salah, kita nggak pernah bilang kalau selama 1 tahun itu kita nggak boleh deket sama orang lain. Yang terpenting buat kamu adalah, kamu udah tahu perasaan kamu, bapak-ibu kamu seneng. Urusan saya, biar jadi urusan saya sendiri. Biar kamu tenang, nih. Mulai sekarang saya buka hati buat orang lain, walaupun mungkin nggak akan secepat saya mandi tadi, saya berusaha buat ikhlas kamu sama perempuan itu. Semoga aja itu memang yang terbaik buat kamu dan saya juga mendapat ganti yang lebih baik.”

“Terima kasih ya, Na. Sebenarnya saya takut ketemu sama kamu karena ini. Rasanya saya menjadi laki-laki yang kurang ngajar karena udah nyakitin perasaan perempuan seperti kamu.”

“Yaaaa...itu artinya saya terlalu baik buat kamu, hhahaha.” Ucapku dengan tertawa.

“Nggak papa deh, kamu bilang saya kurang ajar, laki-laki brengsek, karena saya ngerasa pantas kalau kamu yang bilang itu ke saya.”

“Nggak kok, nggak bakal sampai hati saya bilang gitu.”

Aku melanjutkan makan, sambil melirik jam yang menunjukkan waktu isya.

“Eh...bentar lagi isya nih. Pulang sekarang aja ya.” Ucapku.

“Nggak mau di habisin dulu?” tanyanya.

“Pak, sisanya bisa dibungkus?” tanyaku kepada penjualnya.

“Bisa, mbak.”

Aku tersenyum ke arah Jaga, memberi isyarat untuk membungkusnya.

Selama perjalanan pulang, aku menjaga situasinya tidak jauh berbeda dengan perjalanan menuju Warung Pak Jenggot. Untung saja, pikiran dan perasaanku masih tenang.

Sesampainya di depan rumah aku dan Jaga berpapasan dengan Ibu yang berangkat ke masjid.

“Langsung masuk aja, ibu nggak kunci.” Katanya kepadaku.

Aku mengangguk dan melambaikan tangan.

“Saya langsung pulang aja ya, kayaknya masih keburu kalau shalat di masjid dekat rumah, sekalian ada kajian malam ini.”

“Oke, makasih ya udah diajak buka bersama di warung favorit kamu.”

“Hahaha...iya sama-sama. Sekali lagi saya minta maaf karena bikin kamu kecewa.”

“Nggak Cuma kecewa sih, sakit hati banget. Hahahaha, hati-hati di jalan ya. Semoga semuanya diberi kemudahan dan kelancaran.”

“Aamiin. Saya pamit.”

Aku mengangguk dan langsung keluar dari mobil. Masih tenang, bahkan rasanya sudah ikhlas. Tapi entah nanti ketika si perasaan sadar, bahwa ada satu bagian dari ruangnya sedang terluka. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...