Hari-hari menjelang lebaran, masih sama seperti tahun kemarin. Pekerjaan yang adaaa saja tingkahnya, entah datengnya H-2 hari libur sebelum lebaran yang minta selesainya secepatnya, padahal kerjaannya perlu waktu buat proses dan mikirnya. Yaaa...ditambah ekstra bonus datengnya berjamaah. Paling oke sih itu. Mau ngeluh tapi kasihan karena mengingat mereka dalam rantai kejar-mengejar, yang akhirnya memaksa aku juga masuk dalam rantai tersebut sebagai pungkasannya.
Untung saja, dalam situasi dan kondisi
yang serba ribut itu, Allah masih memberi nikmat kesehatan dan waktu yang cukup
untuk sekedar merebahkan punggung lansia dalam tubuh muda ini. Untung saja,
Allah memberikan sosok ibu yang pengertian karena setiap malam hari sebelum
shalat tarawih, selalu menyempatkan waktu buat pijit tipis-tipis. Cobaannya pas
tengah-tengah mijit ada ponakan yang rewel maksa masuk ke kamar kemudian
berujung rusuh.
Di suatu malam seperti biasanya itu,
akhirnya aku meminta Ibu untuk berhenti memijit. Yaa...saat itu aku merasa
benar-benar lelah baik luar maupun dalam. Aku memilih rebahan, menutupi kedua
telingaku dengan bantal. Mendengar ramainya suara ponakkanku itu malah
membuatku kesal. Entah memang biasanya sesensitif itu atau karena aku perlu
waktu tenang untuk memulihkan energi dalam. Tapi, ada satu hal yang sebenarnya
lebih menyebalkan daripada ramainya ocehan ponakanku. Dalam diam seperti itu,
pikiran yang malah memaksa berjalan kemana-mana dan berujung membawa sebuah
potongan kenangan. Sekalipun aku sadar, sekalipun aku tahu itu akan terjadi,
entah kenapa aku tidak bisa menghindarinya, jangankan menghindari, mencegah itu
datang saja aku tidak bisa.
Malam itu, pikiran mengajakku
menjelajahi waktu, lebih tepatnya satu tahun yang lalu. Saat itu aku mengenal
seseorang yang akan aku kenalkan sebagai Jaga. Singkatnya aku mengajaknya
berkenalan, kemudian berlanjut ke berkirim pesan. Baru beberapa minggu kami
sudah terlihat sangat akrab, mungkin karena hampir setiap hari kami berkirim
pesan dan membicarakan banyak hal. Sampai akhirnya, Jaga sedikit penasaran
tentang alasanku berkenalan dan lebih banyak menanyakan perihal dirinya. Ada
sedikit keraguan untukku mengakui alasan yang sebenarnya, karena aku takut
alasan ini juga terlalu dini aku katakan. Tapi, disisi lain ada aku yang lebih
mengutamakan kejujuran agar perjalanan hubungan ini bisa dikatakan baik-baik
saja.
Akhirnya aku mengakui perasaanku, aku
mengakui awal dari keberanianku hingga sampai dititik berkenalan dengannya. Dan
mengejutkannya, dia pun merasakan hal itu, walaupun mungkin tidak sepenuhnya
sama sepertiku, tapi dia senang dengan pribadiku.
“Saya ngerasa nyaman setiap ngobrolin
banyak hal sama kamu. Sepertinya saya juga mulai tertarik.”
Itu kalimat yang sedikit-banyak aku
ingat dari balasan pesannya.
Tapi, dititik itu, entah aku yang
akhirnya berubah perasaan atau aku yang takut akan harapanku setelahnya. Aku
selalu mempertanyakan kebenaran perasaan itu kepadanya. Dan mungkin itu yang akhirnya
membuat dia malah ragu denganku. Genap 1 bulan, kami akhirnya sepakat untuk
menunggu 1 tahun. Apabila selama 1 tahun itu aku dan dia masih memiliki
perasaan yang sama, seharusnya sudah tidak ada lagi pertanyaan itu.
“Jadi...”
Setelah perjalanan dengan alur mundur
itu selesai, aku berhenti disebuah pertanyaan dari diriku sendiri. “Jadi,
bagaimana perasaanmu?”
Komentar
Posting Komentar