Langsung ke konten utama

Bertemu Kamu (Lagi)

Hari-hari menjelang lebaran, masih sama seperti tahun kemarin. Pekerjaan yang adaaa saja tingkahnya, entah datengnya H-2 hari libur sebelum lebaran yang minta selesainya secepatnya, padahal kerjaannya perlu waktu buat proses dan mikirnya. Yaaa...ditambah ekstra bonus datengnya berjamaah. Paling oke sih itu. Mau ngeluh tapi kasihan karena mengingat mereka dalam rantai kejar-mengejar, yang akhirnya memaksa aku juga masuk dalam rantai tersebut sebagai pungkasannya.

Untung saja, dalam situasi dan kondisi yang serba ribut itu, Allah masih memberi nikmat kesehatan dan waktu yang cukup untuk sekedar merebahkan punggung lansia dalam tubuh muda ini. Untung saja, Allah memberikan sosok ibu yang pengertian karena setiap malam hari sebelum shalat tarawih, selalu menyempatkan waktu buat pijit tipis-tipis. Cobaannya pas tengah-tengah mijit ada ponakan yang rewel maksa masuk ke kamar kemudian berujung rusuh.

Di suatu malam seperti biasanya itu, akhirnya aku meminta Ibu untuk berhenti memijit. Yaa...saat itu aku merasa benar-benar lelah baik luar maupun dalam. Aku memilih rebahan, menutupi kedua telingaku dengan bantal. Mendengar ramainya suara ponakkanku itu malah membuatku kesal. Entah memang biasanya sesensitif itu atau karena aku perlu waktu tenang untuk memulihkan energi dalam. Tapi, ada satu hal yang sebenarnya lebih menyebalkan daripada ramainya ocehan ponakanku. Dalam diam seperti itu, pikiran yang malah memaksa berjalan kemana-mana dan berujung membawa sebuah potongan kenangan. Sekalipun aku sadar, sekalipun aku tahu itu akan terjadi, entah kenapa aku tidak bisa menghindarinya, jangankan menghindari, mencegah itu datang saja aku tidak bisa.

Malam itu, pikiran mengajakku menjelajahi waktu, lebih tepatnya satu tahun yang lalu. Saat itu aku mengenal seseorang yang akan aku kenalkan sebagai Jaga. Singkatnya aku mengajaknya berkenalan, kemudian berlanjut ke berkirim pesan. Baru beberapa minggu kami sudah terlihat sangat akrab, mungkin karena hampir setiap hari kami berkirim pesan dan membicarakan banyak hal. Sampai akhirnya, Jaga sedikit penasaran tentang alasanku berkenalan dan lebih banyak menanyakan perihal dirinya. Ada sedikit keraguan untukku mengakui alasan yang sebenarnya, karena aku takut alasan ini juga terlalu dini aku katakan. Tapi, disisi lain ada aku yang lebih mengutamakan kejujuran agar perjalanan hubungan ini bisa dikatakan baik-baik saja.

Akhirnya aku mengakui perasaanku, aku mengakui awal dari keberanianku hingga sampai dititik berkenalan dengannya. Dan mengejutkannya, dia pun merasakan hal itu, walaupun mungkin tidak sepenuhnya sama sepertiku, tapi dia senang dengan pribadiku.

“Saya ngerasa nyaman setiap ngobrolin banyak hal sama kamu. Sepertinya saya juga mulai tertarik.”

Itu kalimat yang sedikit-banyak aku ingat dari balasan pesannya.

Tapi, dititik itu, entah aku yang akhirnya berubah perasaan atau aku yang takut akan harapanku setelahnya. Aku selalu mempertanyakan kebenaran perasaan itu kepadanya. Dan mungkin itu yang akhirnya membuat dia malah ragu denganku. Genap 1 bulan, kami akhirnya sepakat untuk menunggu 1 tahun. Apabila selama 1 tahun itu aku dan dia masih memiliki perasaan yang sama, seharusnya sudah tidak ada lagi pertanyaan itu.

“Jadi...”

Setelah perjalanan dengan alur mundur itu selesai, aku berhenti disebuah pertanyaan dari diriku sendiri. “Jadi, bagaimana perasaanmu?”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...