Langsung ke konten utama

Manusia Bumi

Perjalanan kami masih berlanjut. Minke sibuk memberi kabar pasangannya karena hari ini tepat hari perayaan hubungan mereka. Raka sibuk mengurus pekerjaan yang sengaja ia tinggalkan. Robi sibuk mengedit hasil foto langitnya. Sedangkan aku, selalu sibuk memperhatikan mereka.

“Kita nanti foto bareng, kan?” tanyaku, membuat mereka kompak menoleh ke arahku. Aku hanya tersenyum.

“Berat loh, Na kalau kamu sampai kangen sama kita.” Kata Raka yang kemudian menutup laptopnya.

“Loh...justru fotonya bisa jadi obat kangen.” Kataku.

“Saya kasih tahu, Na. Yang namanya rindu itu obatnya bertemu.” Ucap Minke.

“Kalau gitu, kita langgar aja kesepakatan buat nggak saling tuker nomor atau sosial media.” Kata Robi.

“Yaaa...jangann...” ucapku. “Satu foto sebagai tanda kita pernah bertemu. Lagian, ini kan pengalaman perdana kita juga ikut treveling sama orang asing.”

“Oke deh, nggak masalah. Lagian apa susahnya sih foto bareng.” Kata Raka.

“Makasih, Pak Ketua.” Ucapku.

“Sama-sama, anggota. Jangan minta lebih yaaa..”

“Nanti kita kemana?” tanya Minke.

“Bukit Cendana,” kata Robi.

Raka mengangguk sambil mengacungkan jempol.

“Semua persiapan sudah saya siapkan. Jadi nanti pukul 04.00 sore kita berangkat. Setelah persiapan urusan tenda selesai, seperti biasa, game dimulai.” Kata Robi.

“Oke...” ucapku.

“Tinggal Minke sama Kana. Saya berharap Kana yang dapet.” Kata Raka.

“Kenapa?”

“Saya penasaran aja sama kamu. Menurut pandangan saya, mata sama ekspresi wajah kamu itu nggak sama.”

Aku hanya tersenyum, “kita lihat nanti,”

Waktu baru pukul 12.00, kami mulai bersiap untuk perjalanan ke bukit dan perjalanan pulang. Setelah selesai bersiap aku beristirahat sejenak.

“Jadwal berubah...kita berangkat sekarang.” Kata Raka menggunakan HT.

Aku bergegas merapihkan kamar dan membawa tasku keluar. Perjalanan terakhir dimulai.

Perjalanan menuju Bukit Cendana lumayan lama, sekitar 2 jam perjalanan. Tapi pemandangan selama di perjalanan benar-benar membuat kami terkesima, tidak sebatas pepohonan rindang dengan udara yang sejuk, tapi puncak-puncak gunung yang terlihat sangat dekat, suara ombak, suara burung, juga manusia-manusianya yang ramah. Semuanya terlihat tenang dan membuat tenang. Hingga perjalanan 2 jam itu terasa lebih singkat dari dugaan kami.

Raka mulai membagi tugas, aku jelas urusan dapur, sedangkan sisanya mengurus tenda dan api unggun. Suasana bukit sedang tidak terlalu ramai pengunjung, maklumlah ini hari biasa. Berbeda ketika di akhir pekan, pengelola bukit mengatakan, seketika tempat ini menjadi lautan manusia dengan teropong bintang.

Di waktu santai, aku melihat Robi yang sudah mempersiapkan teropong miliknya. Wajahnya terlihat sangat sumringah ketika membidik langit dengan teropongnya. Sedangkan Raka kembali sibuk dengan buku bacaannya yang setebal bantal portable miliku, ditemani secangkir teh hijau favoritnya. Kalau Minke, dia merebahkan tubuhnya di sebelah tempat duduk Raka, kemudian berpindah didekat Robi, dan biasanya ketika dia mulai tidak diacuhkan, Minke akan mendatangiku untuk mendengarkan keluhannya.

Waktu santai kami sampai pukul 07.00 malam, selepas itu Robi akan membuat api unggun, aku menyiapkan cemilan, Minke dan Raka menyusun permainan.

“Akhirnyaaa...waktu yang dinantikan.” Seru Minke.

“Tapi...berhubung ini malam terakhir kita waktunya pengembalian alat komunikasi dan barang lain dari pihak travel.” Kata Raka kemudian mengedarkan sebuah kardus.

“Selanjutnya...pensi.” kata Minke kemudian memetik gitarnya sembarang.

“Nggak, itu skip aja.” Kata Raka.

“Ehh, gitukan jadwalnya.” Kata Minke.

“Jelek...”

“Udah...nggak papalah, kan terakhir kali.” Ucapku.

Kami mulai bernyanyi layaknya anak-anak kamping. Robi hanya ikut sesekali, teropongnya benar-benar sudah mengalihkan perhatiannya. Dan Raka sesekali akan melemparkan kulit kacang ke arahnya agar ikut bermain dengan kami.

“Dah...capek saya.” Kata Minke.

“Gimana perjalanannya? Serukan?” tanya Raka.

“Seru...saya nggak nyangka ada manusia seperti kalian.” Ucapku.

“Sama kalau itu.” Kata Minke.

“Sebenernya saya pengen jalan lagi sama kalian. Tapi saya dikasih tahu pihak travel, kalau kita ikut lagi, kita nggak bakalan jadi partner jalan untuk kedua kalinya.”

“Emang udah bener sih kita langgar aja peraturan buat tukeran info pribadi.” Kata Minke.

“Jangan...kita percaya aja sama Pena Tuhan. Kalau memang kita punya takdir ketemu lagi, pasti kita bakalan ketemu.” Ucapku.

“Emang permainan misterius kayak takdir itu paling seru.” Kata Raka.

“Saya sebagai ketua selama perjalanan 3 hari 3 malam, sangat berterima kasih sama kalian, udah membuat perjalanan ini berjalan dengan baik dan sangat menyenangkan. Saya minta maaf kalau mungkin selama mengatur perjalanan, sempat bikin kalian nggak enak hati.”

“Sama-sama pak ketua,” ucapku.

“Sama-sama, Ka...kita juga pasti pernah bikin kamu marah.”

“Dari kalian, ada yang mau ngomong nggak?” Raka mulai mengedarkan pandangan, yang terakhir tertuju pada Robi.

“Nggak, sih. Udah terwakilkan.” Kata Robi.

“Oke...kalau gitu kita mulai game andalannn...” seru Raka.

Minke langsung mengeluarkan botol bekas beer di malam pertama perjalanan kami. Minke kemudian memutar botol tersebut sebanyak tiga kali. Dan putaran terakhir benar mengarahku.

“Akhirrrnyyaaaa....bener-bener pas.” Seru Raka.

“Untung selamatttt.” Seru Minke.

“Pertanyaan matematika untuk Kana, yang akan menjadi penentu jumlah pertanyaan dalam permainan ini. Apa kamu siap?!!” tanya Robi layaknya wasit.

“Oke!!!” seruku.

“Pilih amplop A atau B?”

“B...”.

Robi membuka amplop tersebut, “8 – 2 x 2 : 2 sama dengan ....”

“6?”

“Oke, silakan bagi yang mau bertanya.” Robi mempersilakan.

“Saya dulu...” seru Raka. “Kenapa Travel with Strangers?”

“Menurut saya seru, kayak namanya, perjalanan dengan orang asing, kita nggak tahu sama siapa, kita nggak tahu bakalan seru atau nggak, dan itu bikin saya merasa penasaran.”

“Nggak penting itu, Ka.” Kata Minke.

“Pemanasan dulu,”

“Tinggal 5 yaaa” seruku.

“Saya...” ucap Robi sambil mengacungkan tangan. “Kenapa Alkana?” tanyanya kemudian.

“Saya nggak terlalu paham detailnya, Cuma ibu saya pernah bilang kalau senyawa alkana itu sebagian besar bahan yang ada di bensin, gas alam, minyak pelumas. Ketiga hal itu termasuk penting untuk kehidupan manusia dan sangat bermanfaat. Harapan ibu, saya bisa menjadi manusia yang seperti itu, menjadi alasan manusia lain untuk hidup, menjadi alasan mereka bertahan, dan bisa menyenangkan manusia lainnya.”

“Berat nggak dikasih nama itu?” tanya Raka.

“Itu kehitung pertanyaan ketiga kan?” tanyaku.

“Iya deh...iya.”

“Mungkin kalau dulu saya nggak begitu paham sama maksud ibu. Tapi semakin ke sini, saya paham dan...yaaa sedikit berat sih.”

“Apa yang bikin kamu punya perbedaan itu?” tanya Minke.

“Perbedaan?”

“Kata Raka, mata sama ekspresi wajah kamu beda. Dan setelah saya perhatikan emang bener. Kadang mata kamu itu berair tapi nada bicara kamu kayak orang dapet uang segudang. Seneng banget...tapi saya belum pernah lihat hal sebaliknya sih.”

Aku mengambil jeda cukup panjang. Aku bingung akan menjawab bagaimana.

“Sebenernya nggak ada yang nuntut saya untuk sembunyiin perasaan saya. Tapi mungkin itu kebiasaan dari kecil, ketika saya berhasil tapi nggak ada orang yang bisa saya ajak berbagi kebahagiaan saya. Begitu juga ketika saya sedih. Maka dari itu saya terbiasa diam, saya telan sendiri. Awalnya emang nggak terasa kalau ternyata pahit juga, pas kerasa pahit barulah ada ibu saya yang kasih penawarnya walaupun manisnya juga nggak akan sebanding dengan rasa pahit itu. Kalau saya rasain semuanya yang ada saya akan nangis terus terusan dan protes habis-habisan sama Tuhan. Jadi saya telan semuanya aja, lagian itu juga nggak buruk-buruk amat.”

“Saya pikir, saya akan terbiasa, tapi ternyata ketika saya mencoba untuk menyadari rasa itu lagi, rasanya masih sama seperti sebelumnya.”

“Tapi hebat, kamu bisa nutupin itu sampai sekarang,”

“Nggak juga, untuk bisa sampai saat ini saya juga pernah kalah dan marah, tapi saya selalu balik lagi. Mungkin dengan bertemu orang-orang, saya seperti menemukan alasan untuk ada, karena mereka harus saya dengarkan, harus saya pertahankan hidupnya. Walaupun itu bukan kewajiban saya, tapi saya merasa karena kita sesama manusia, yang pasti memiliki luka dalam hidupnya, pasti perlu pertolongan, pasti perlu tempat untuk beristirahat. Ketika saya ingat itu, saya ingin menjadi apa yang mereka butuhkan. Entah kenapa, saya akan jauh lebih membaik juga.”

“Kenapa waktu ke gunung kamu sendirian?” tanya Robi kemudian.

Aku terkejut mendengar pertanyaan itu, begitu juga Raka dan Minke.

“Bukannya kamu bilang dia sama rombongan?” tanya Minke.

“Ada yang belum saya ceritakan, ketika saya sampai di atas dan bertemu rombongan itu, saya tanya soal keadaan Kana. Tapi mereka bilang, kalau Kana akhirnya turun, mereka nggak mengenal Kana, karena sejak dari awal Kana hanya sendirian.”

“Saat itu saya lagi patah hati sama Tuhan. Saat itu saya dalam kondisi sadar akan semuaaaa rasa yang saya telan. Rasa ditinggalkan seorang bapak, rasa kurang perhatian semasa kecil, rasa ketika hidup sendirian, rasanya Tuhan memberikan banyak sekali getir dalam hidup saya. Saat itu, saya juga baru saja ditinggalkan orang yang saya suka. Makanya saya pengen pergi ke tempat paling tinggi dan mengadu. Tapi saya nggak berhasil, terlalu banyak air mata yang saya tahan malah membuat badan saya jadi kehilangan tenaga. Saya menyerah pas ibu telpon dan bilang kalau saya salah nyari Tuhan di tempat paling tinggi di dunia ini. Karena sejatinya Tuhan ada di tempat paling dekat dengan diri kita, bahkan lebih dekat daripada urat nadi. Waktu itu ibu menunjuk dadanya, sambil bilang, ‘di sini’ maksudnya di hati setiap manusia.”

“Kamu nggak mau cerita soal masalah kamu ke orang lain?” tanya Minke.

“Itu yang terakhir yaa...” ucapku.

“Aaaa...kenapa pake dihitung segala sih,” seru Raka.

“Hahaha...biar adil dong.”

“Ya udah jawab pertanyaan terakhirnya.” Kata Raka.

“Bukannya saya nggak mau cerita, saya selalu pengen cerita ketika ketemu sama orang yang menurut saya tepat. Tapi saya terlalu bingung harus memulai dari mana, saya nggak bisa menyingkat cerita, saya nggak mau orang malah jadi salah paham. Maka dari itu, saya selalu perlu waktu yang lama untuk bercerita, dan saya takut kalau ternyata orang itu akan bosan mendengarkan cerita saya. Saya Cuma nggak mau kalau akhirnya mereka pergi Cuma karena malas mendengarkan saya.”

“Kamu pasti bakal nemuin orang itu nanti.” Kata Raka.

Aku mengangguk mengiyakan, begitu juga dengan Minke dan Robi.

“Nggak seru, nih, padahal masih banyak yang pengen saya tanyain.” Kata Raka.

“Pas...kita harus berkemas sekarang juga, untuk pulang.” Kata Robi sambil melihat jam tangannya.

Aku segera berdiri dan mulai berkemas seperti biasanya. Perjalanan selanjutnya adalah menuju bandara, kami akan pulang malam ini juga. Minke dan Raka terlelap selama perjalanan. Sedangkan Robi sibuk dengan tab-nya melihat hasil foto teropongnya.

“Saya boleh nanya?” tanya Robi kemudian.

“Apa?”

“Kalau kita bertemu lagi, apa saya boleh tahu soal kamu lebih dari ini?”

Aku hanya tersenyum.

“Kamu terbiasa dekat sama laki-laki?”

“Nggak juga, saya sering bertemu laki-laki dengan awalan dan akhir yang sama.”

“Berawal dari? Dan berakhir dengan?”

“Berawal dari teman kemudian berakhir tidak saling kenal.”

“Berat ya...”

“Lumayan. Sebenarnya saya juga penasaran dengan kamu. Tapi rasa takut saya lebih besar ternyata,”

“Semoga kita bertemu nanti. Kalaupun kamu nggak mau, saya maksa.”

Aku hanya tersenyum. Sesampainya di bandara, Robi memberikan cetakan foto bersama kami sebagai hadiah.

“Semoga Pena Tuhan kita segaris yang sama ya...sampai ketemu lain waktu.” Kami berpelukan di depan pintu masuk bandara. Setelah itu kami berjalan masing-masing, layaknya tidak saling mengenal.

Aku berjalan sambil menyimpan foto itu ke dalam tas. Tapi amplop berwarna ungu, yang terselip di tasku berhasil mengalihkan perhatian.

Saya nggak tahu, Bumi seperti kamu akan menyukai langit seperti apa. Tapi semoga beberapa foto langit ini berhasil membuat kamu terkesan, karena ini juga langit pertama saya, yang saya tunggu pemilik pijakannya.

Aku menoleh, mencari-cari siapa tahu Robi masih ada di belakangku. Dan benar saja, dia melambaikan tangan ke arahku. Aku mengangguk sebagai balasannya. Kemudian kembali berjalan menuju gerbang keberangkatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...