Langsung ke konten utama

Manusia Langit

“Sejak kapan kamu suka alam?” tanya Raka kepada Robi.

Sekarang adalah gilirannya menceritakan tentang alasannya mengikuti perjalanan random ini. Perjalanan 3 hari 3 malam dengan orang-orang yang tidak mengenal satu sama lain dan menjalankan misi bersama. Regu kami dipimpin oleh laki-laki bernama Raka dan beranggotakan 3 orang, aku, Robi, dan Minke. Entah harus bersyukur atau pergi ketika tahu bahwa hanya aku perempuan dalam regu ini. Awalnya aku kira Minke adalah seorang perempuan, ternyata dia laki-laki juga.

Di antara mereka, sosok Robi yang membuatku sangat penasaran. Bisa-bisanya ketika pertama kali aku melihatnya, ada semua emosi dalam wajahnya, rasa bahagia yang berdampingan dengan sedih, rasa penasaran yang berselimut ragu, rasa tertarik tapi penuh ketakutan.

“2 tahun yang lalu.” Jawabnya sambil mengingat-ingat.

“Apa yang pertamanya?” tanyaku.

“Emmm...pantai.” jawabnya kemudian menoleh ke arahku.

“Aku kira, planet-planet dulu.” Ucapku.

“Seiring berjalannya waktu...sampai akhirnya suka sama langit dan isinya.”

Aku mengangguk. Belum puas dengan jawabannya, aku kembali bertanya.

“Sama siapa?” tanyaku.

“Apanya?”

“Pertama kali ke pantai sampai akhirnya kamu terkesan.”

Sepertinya pertanyaan kali ini tepat seperti yang aku maksudkan. Robi terlihat mengingat-ingat, tak lama kemudian dia duduk bersila.

“Bakal panjang, sih kayaknya.” Komentar Raka.

Aku melakukan hal yang sama dengannya, “Kalau kamu mau cerita, kita bakalan dengerin.” Ucapku ketika melihat raut wajah Robi yang ragu.

Cerita...dimulai.

Dia seorang perempuan. Perempuan pertama yang dekat dengan Robi setelah lama tidak berpacaran. Seorang perempuan yang tidak pernah bisa ditebak pikirannya, karena apa yang terlihat dari wajahnya tidak mencerminkan apa yang dia pikirkan. Perempuan itu tidak menyukai keramaian, dia selalu mengatakan, “telingaku sakit kalau dengar banyak suara,” tapi dia suka mendengarkan musik dengan volume cukup keras.

Tapi dia juga tidak menyukai kesepian. Menurutnya sepi justru lebih ramai daripada ramai yang sebenarnya. Yang dia maksud adalah isi kepalanya, mulut perasaannya, sampai-sampai membuatnya bergidik ngeri.

“Untuk pertama kalinya, pantai menjadi tempat paling teduh dan paling nyaman, yang aku rasakan. Karena perempuan itu. Dia yang menutup suara ombak dan angin dengan ceritanya dan dia yang memberi naungan dari panas matahari dengan senyum dan tawanya.” Kata Robi.

“Sedalam itu, ya?!” tanyaku.

“Sedalam itu kesan pertamaku, sampai aku juga tidak bisa menghindari kemungkinan untuk jatuh hati dengannya.”

“Terus?” tanya Minke yang mulai penasaran.

“Dia menghilang.” Robi menatap api unggun dengan bibir tersenyum getir. Aku yakin dia tidak akan menangis di sini, tapi entah nanti.

“Terakhir yang sempat kami bicarakan adalah tentang gunung. Saya coba telpon, nomornya nggak aktif. Saya coba tanya ke temennya, juga nggak ada yang tahu. Saya coba ke rumahnya, tapi kosong dan tetangganya nggak ada yang tahu. Saya coba lebih sabar dengan menunggu dia, tetep kirim pesan ke nomornya, saya kasih tahu semua isi perasaan saya dan pikiran saya saat itu, tapi nggak ada balasan. Sampai akhirnya saya nunggu 1 bulan, dan tetap nggak ada kabar.” Kata Robi. Tiba-tiba dia melihat ke arahku sambil tersenyum.

“Kenapa?” tanyaku.

“Saya pergi ke gunung setelah itu. Untuk pertama kalinya saya melihat kamu. Kamu naik sama rombongan, tapi baru di pos 1 kamu kelihatannya mau turun karena udah nggak kuat. Saya tahu itu kamu karena kamu masih sama.”

Aku mencoba mengingat-ingat, ya memang benar aku pernah mencoba naik gunung dan benar aku memilih turun padahal baru seperempat perjalanan. Tapi aku tidak tahu ada Robi, padahal rombongan yang dia maksud adalah orang lain yang juga sedang mendaki. Saat itu aku nekat naik gunung sendirian, dengan anggapan dijalan pasti ada orang lain.

“Itu menjadi gunung pertama dan pengalaman pertama saya mendaki. Saat itu saya sendirian. Saya Cuma ngikutin rombongan lain di belakang. Tapi saya juga nggak nemu petunjuk tentang dia. Sampai akhirnya saya dapat kabar kalau perempuan itu udah pergi jauh. Saat itu saya Cuma marah, kenapa nggak kasih tahu, kenapa nggak balas pesannya, memang sejauh apa perjalanananya sampai nggak bisa kasih kabar lewat ponsel. Temennya bilang, sejauh tempat di mana nggak ada sinyal di sana, nggak ada tukang pos, nggak ada merpati yang sanggup terbang sampai sini. Nggak ada angin yang katanya bisa membawa segalanya termasuk pesan. Saya makin marah karena saya nggak nemu maksud dia, sedangkan dia Cuma bilang, ‘renungin dulu semua kalimatku,’ kemudian pergi. Barulah setelah saya kembali ke pantai dan memikirkan kalimat itu, saya sadar bahwa tempat itu bukan lagi di atas bumi.” Robi berhenti sejenak. Kali ini dia duduk dengan memeluk kedua lututnya.

Raka merapat ke arah Robi, dia menepuk-nepuk bagian punggung Robi, layaknya menabahkan hati sahabatnya.

“Entah perasaan saya yang terlanjur dalam atau saya yang terobsesi. Saat itu saya jadi percaya bahwa orang yang sudah mati akan menjadi bintang di langit. Maka dari itu, sejak saat itu saya menyukai langit, saya melakukan perjalanan untuk melihat bintang yang menurut saya berbeda di setiap tempatnya.”

“Kamu nggak pernah pulang?” tanyaku.

“Jarang, sampai ibu saya sedih kalau saya pergi lagi.” Jawabnya.

“Sampai sekarang, kamu masih belum lupa?” tanya Minke.

“Belum lupa, tapi saya mulai bisa menerimanya.” Jawab Robi.

Aku tersenyum sambil bertepuk tangan, “Hebat loh perjalanan kamu. Hebat kamu bisa melewati itu sampai di sini.” Ucapku diikuti tepuk tangan dari yang lain.

Robi hanya mengangguk dan tak berhenti tersenyum.

“Oke....selesai untuk sesi malam ini. Kita masih ada 1 malam  besok. Siap-siap botol terakhir jadi penutup perjalanan kita.” Seru Raka kemudian mulai berkemas.

Seperti biasa aku yang mendapat jatah membersihkan bekas api unggun dan sampah. Ketika yang lain kembali ke kamar, Robi berjalan ke arahku.

“Kenapa?” tanyaku sambil terus membersihkan sampah.

“Saya senang bisa ketemu kamu di sini dan lihat kamu baik-baik aja.”

Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum, “Tapi saya nggak senang, karena Cuma kamu yang tahu saya, sedangkan saya nggak tahu kamu.”

“Kamu bisa tanya banyak hal kalau Cuma mau tahu soal saya. Itupun kalau kamu mau. Saya juga akan coba kasih tahu apa yang mau kamu tahu, kalau kamu mau.”

“Suka yaaaaa?” tanyaku mencoba menggodanya.

“Semoga, karena setelah tahu itu beneran kamu, saya kembali suka sama pantai.”

Hampir saja aku memerah, tapi aku juga harus segera tersadar, ini hanyalah sebuah perjalanan singkat dan perkenalan singkat, tidak menutup kemungkinan juga perasaan yang dia rasakan sebatas euforia yang juga singkat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...