Langsung ke konten utama

OTEM : HILAL

Hilal.

Hilal.

Hilal.

Biarkan aku terus menyebut namamu. Hahahaha. Entah kenapa, menyebut namamu sangat menyenangkan. Bahkan...asal kau tahu, ketika aku tidak bisa tidur aku akan menyebut namamu berkali-kali, sambil membuka pesanmu, dengan harapan kau online malam itu.

Hilal, yang sebenarnya bukan nama aslimu. Ini adalah namamu dalam duniaku. Entah pencerahan-ide dari mana, kehadiranmu aku ibaratkan layaknya hilal saat menjelang bulan ramadhan atau bulan syawal. Kau...adalah awal dalam duniaku. Harapannya. Perkara kenyataannya, aku serahkan sepenuhnya kepada Allah. Jadi, tolong ijinkan aku menyebut nama itu saat ini sampai nanti...kalau kita berjodoh. 😆

Entah sudah berapa kali aku membicarakanmu dalam duniaku. Kau, selalu menjadi topik terhangat walaupun hanya aku ulang-ulang. Mengingat, kau dan aku tidak memiliki banyak waktu untuk saling mengenal, menjalin sebuah komunikasi. Kau...selalu menjadi alasan untukku tersenyum setelah merasakan kelelahan karena situasi duniaku. Kau juga menjadi doa utama setelah orang tua dan orang-orang terdekatku lainnya. Kau...selalu menjadi harapan untukku. Sekalipun kau melarangnya, sekalipun kau tidak sependapat denganku untuk urusan ini. Tapi...aku suka dengan alasanmu, demi kebaikan masing-masing. Agar aku tidak terluka dan kau tidak merasa melukai ku. Terima kasih. 🙏

Entah bagaimana kabarmu kali ini. Aku harap kau tetap baik-baik saja. Sedikit bocoran, aku sempat melihat postingan wajahmu dan...kau nampak baik-baik saja, dan...semakin...hahaha kau tahu maksudku kan?!😄

Maaf ya, apabila kelakuan ku kali ini membuatmu sebal atau malu (😌), atau malah marah. Ini kebiasaanku, menulis apa yang aku rasakan, karena mengatakan langsung kepadamu itu perlu A, B, C, D yang...aku rasa tidak begitu mudah. Aku juga tidak berani berjanji, setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi...aku akan berusaha untuk tidak mengganggumu dengan segala macam cara, termasuk ini ✌. Aku tidak akan berjanji apapun perihal tentangmu, aku hanya akan menjalani apa yang aku rasakan saat ini sampai waktu yang belum ditentukan. Tapi feeling-ku, aku bisa bertahan dalam waktu lama dengan perasaan yang masih aku miliki sendiri...untukmu. Feeling-ku yaa.

Terima kasih, sudah mampir sebentar ke teras. Sampai ketemu di lain waktu, di terasku yaa...jangan di teras orang lain. HEHE.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...