Langsung ke konten utama

OTEM : PLOT TWIST - BUKAN AKU

Hahaha. Biarkan aku tertawa dulu sebelum menceritakan hal ini.

Desember 2056 untuk pertama kalinya kita bertemu. Saat itu, kau mengenakan kemeja hijau army dan celana jeans, sedangkan aku mengenakan hijab kuning, kaos hitam dengan outer dan celana kulot warna biru tua.

Kau tersenyum canggung saat bertemu pandang denganku. Singkat, langsung mengalihkan pandangan ke orang ketiga dalam pertemuan itu. Tak lupa kau mengucapkan salam dengan suara beratmu itu. Dan...sial, serangan pertama yang berhasil menggetarkan hatiku.

Tanpa menjaga image atau semacamnya, aku memperkenalkan diri secara singkat. Tapi ketahuilah, aku sangat deg-degan saat itu. Hampir saja ucapanku terdengar belepotan karena hal itu. Entah dengan malu, canggung, atau perasaan lain, kau melakukan hal yang sama. Secara singkat.

Selanjutnya, aku memberikan daftar menu dan menyuruhmu untuk memesan sesukamu. Tapi, sekali lagi, entah malu, canggung, atau perasaan lain, kau malah bingung dan memilih, “samain aja,”

Sambil menunggu pesanan kami, aku mencoba membuka percakapan, walaupun selalu kau jawab dengan jawaban singkat. Padahal aku tidak menyertakan empat titik di belakangnya. Aku justru menyediakan garis panjang berbaris-baris, agar kau bisa menjawab dengan penjelasan yang panjang. Sesekali kau juga melemparkan pertanyaan yang selalu sigap aku jawab dengan penjelasan, sekalipun itu tidak penting.

Huuh...lama-lama kau kehabisan topik. Kau juga hanya diam dan bermain dengan ponselmu. Benar saja, tak lama kemudian, temanmu menelpon, kau berpamitan lebih dulu. Dan percakapan yang terakhir adalah, “Coba bilang ke bapak-ibu, soal pertemuan ini.” Saran dari orang ketiga.

Kau tahu, aku sangat menunggu jawabanmu soal itu. Aku berharap, ada titik terang yang setidaknya bisa menggeser langkahku satu langkah saja.

Dua hari kemudian, kau mengirimiku pesan. Katamu, kau belum siap, dan kebetulan kedua orang tuamu belum mengijinkan untuk membawa hubungan ini ke langkah serius. Apa boleh buat. Aku juga tidak menanyakan perihal alasannya, entah karena keluarga, entah karena biaya, atau karena itu aku dengan segala kondisi ku.

Aku mencoba menerima situasi itu. Aku mencoba menerima bahwa aku gagal lagi kali ini. Aku sempat ingin berjuang dan bertahan dengan bertaruh membuang waktuku untuk menunggu hingga kau mendapat ijin dari orang tuamu. Tapi...kau menyarankanku untuk berhenti saja, karena besar kemungkinan akan berakhir menyakitkan.

Baiklah. Aku menuruti saranmu dengan terus merapalkan doa meminta kaulah jodohku. Sampai akhirnya baru lewat dua atau tiga bulan, kau menikah. Tapi jelas bukan denganku.

Aku terkejut. Sedih. Kecewa. Dan banyak bertanya. Kenapa bisa semudah itu kau siap menikah? Kenapa orang tuamu juga memberi ijin? Tapi...ya sudahlah. Mungkin siap yang kau katakan saat itu...sekedar kata lain dari bukan aku yang kau dan keluargamu inginkan. Mulai saat ini, doa terakhirku untukmu adalah semoga kau bahagia dan aku...bisa segera lupa dengan cerita singkat dan tidak lengkap ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...