Langsung ke konten utama

SEPENGGAL CERITA : PASRAH

Aku merebahkan seluruh tubuhku, masih lengkap dengan sepatu dan totebag, setelah seharian bekerja. Ya...rasanya malas sekali, walaupun sekedar melepaskan keduanya. Rasanya semua energiku telah habis-lenyap entah ke mana. Yang aku tahu...seharian ini pikiranku sudah tersita olehmu.

Aku kembali bingung dengan sikapmu. Walau setelah dipikir-pikir, tidak ada yang membingungkan. Kau tidak pernah mengabariku, mengirim pesan. Kau juga tidak menjanjikan apapun, memperlakukanku dengan spesial-tanpa pertemuan. Itu sudah cukup untuk disimpulkan bahwa kita tidak lebih dari sebatas kenalan.

Mungkin, memang aku yang membuat situasi itu menjadi runyam, untuk diriku sendiri. Mungkin, ketika aku memilih untuk pasrah atas semuanya kepada Ya Rabb, aku tidak akan segila ini. Berulang kali aku hanya menghela napas dan kembali memikirkan semuanya. Mengulang lagi ingatan sejak awal kita berkenalan. Kemudian, Adam menelponku.

“Dimana lo, Ci?” tanyanya tanpa salam pembuka.

“Di rumah, baru pulang.” Jawabku.

“Lemes amat, puasa lo?” tanyanya lagi.

“Huh...iya puass...a,” jawabku asal. Maaf jika sedikit...hemm. itu kebiasaan aku dan Adam ketika bercanda.

“Hahahaha,” dia tertawa. Aku bisa membayangkan wajahnya saat menanggapi candaan semacam ini.

“Kenapa?” tanyaku.

“Mau gue wawancara atau lo cerita sendiri? Gue dapet kabar dari Mike kalau lo 0% hari ini. Kayak mayat hidup.” Jawabnya.

Sekilas tentang Adam. Dia adalah rekan kerjaku, kami bertahun-tahun bekerja sama dalam satu tim. Tapi untuk tahun ini dipindahtugaskan di bagian lain. Kami sangat dekat dan akrab apalagi untuk masalah curhat tentang kehidupan. Jadi, jangan bertanya-tanya apalagi berperasangka buruk dengan kedekatanku dan Adam.

“Lagi capek aja, banyak pikiran soal...dia. Nanti juga balik lagi.” Jawabku. Aku memang sedang malas menceritakan masalah yang lagi penat-penatnya.

“Yaaaa...iya sih, kayaknya emang lo lebih baik diem dulu. Jangan nekat, loh. Inget, kerjaan lo belum ada yang bisa gantiin. Jangan sampai gue balik ke bagian itu lagi dan gantiin lo. Capekkk!!!”

“Nggak, sih. Paling antimo 2 butir.”

“Sekalian aja 10, Ci. Nanggung!”

“Katanya jangan nekat, gimana, sih!!”

“Gini, Ci. Emang sih gue bukan orang yang bener. Tapi, gue pernah denger, untuk pertama kalinya gue denger nasehat dari ulama, dan gue inget.” Ucapnya dengan sungguh-sungguh. Walaupun dengan nada yang terdengar sungguh-sungguh, aku tahu wajahnya pasti tetap terlihat kocak. “Dia bilang gini, jangan terlalu dikejar, jika memang jalannya pasti Allah lancarkan, karena yang menjadi takdirmu, akan mencari jalannya untuk menemukanmu. Gitu.” Lanjutnya.

Aku belum menanggapi. Sebagian otakku mulai mencerna kalimat itu dan sebagian lainnya sudah setuju mengatakan, ya benar. Takdir memang tidak akan tersesat atau bahkan tertukar dengan takdir lain.

“Dan kalau lo udah engap banget sama situasi ini. Pasrah aja. Cowok itu tahu kok, Ci. Kalau emang lo yang dia pengen ya pasti lo akan diperjuangkan. Mungkin, caranya beda-beda dan memang ada kemungkinan dengan diamnya laki-laki itu bentuk perjuangan buat orang yang dia suka. Tapi kalau bukan lo, mau lo jungkir balik PP Bumi-Mars, dia nggak akan peduli. Lo kayang-kayang sambil bilang, aku bakalan ngelakuin semua buat kamu, paling lo langsung di sulap jadi kalajengking.”

Aku masih belum memberikan reaksi. Aku menangis.

“Ini saran masukan, ya. Gue sebagai orang yang lumayan tahu soal lo, ngerasa perlu kasih masukan aja. Lo tuh...pinter dalam banyak hal, tapi pasti goblok soal perasaan.” Ucapnya lagi.

“Ci...hidup kan lo?”

“Iya...lagi mikir.”

“Gue kira boker.”

“Pengennya, sih. Siapa tahu dapet ide.”

“Ci...ini bukan soal kerjaan. Plis deh, bedaan cari Ilham sama cari ide.”

“Iya...”

“Pasrah aja deh, Ci. Gue rasa lo nggak perlu sekeras ini berusaha buat orang yang dari awal udah ngelepasin lo. Mau lo paksa pake cara apa aja kalau dia nggak mau ya jawabannya nggak. Yang ada malah lo yang kesiksa, kalau dia tahu, dia juga pasti ngerasa salah karena bikin anak orang asing jadi kayak gini. Masih banyak kesempatan, masih banyak laki yang mau sama lo. Kalau lo males nyari, gue bantuin. Mike juga pasti mau bantuin.”

“Kalau lo yang nyari pasti salah arah semua, sih.”

“Yaa...gimana, kalangan umum.”

“Makasih, deh. Nanti gue pikirin lagi. Capek.”

“Iya, gue tahu. Kelihatan dari awal. Inget, Ci. Semua udah ada yang ngatur dan pasti nggak akan salah dan...itu yang terbaik buat kehidupan lo meskipun lo ngerasainnya agak pait.”

“Iya...makasih.”

“Sama-sama. Kabarin ya kalau udah minim antimo 2 butir.”

“Nggak jadi 10?”

“Ini kalau malaikat Izrail ada di samping lo, mampus lo. Langsung cabut aja, Om!”

“Hahaha, sok akrab banget lo manggil Om.”

“Akhirnya...ketawa kan. Maaf Malaikat, maaf. Nggak bermaksud ngelunjak. Saya juga belum siap.”

“Udah, ya. Gue mau beres-beres dulu.”

“Oke. See you, next episode. Gue harap lo mikirin baik-baik soal ini. Jangan sampai lo nguras air mata-darah-keringat Cuma buat satu laki-laki yang belum suka sama lo. Dia, sih...belum tahu aja Uci tuh...”

“Dammm...nggak jadi kalau lo lanjutin ngomong.”

“Hhahaha...iya, maaf. Oke, selamat istirahat.”

Aku menutup panggilan tersebut dan bergegas merapikan semuanya, termasuk pikiranku sendiri.   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...