Aku merebahkan seluruh tubuhku, masih lengkap dengan
sepatu dan totebag, setelah seharian bekerja. Ya...rasanya malas sekali,
walaupun sekedar melepaskan keduanya. Rasanya semua energiku telah habis-lenyap
entah ke mana. Yang aku tahu...seharian ini pikiranku sudah tersita olehmu.
Aku kembali bingung dengan sikapmu. Walau setelah
dipikir-pikir, tidak ada yang membingungkan. Kau tidak pernah mengabariku,
mengirim pesan. Kau juga tidak menjanjikan apapun, memperlakukanku dengan
spesial-tanpa pertemuan. Itu sudah cukup untuk disimpulkan bahwa kita tidak
lebih dari sebatas kenalan.
Mungkin, memang aku yang membuat situasi itu menjadi
runyam, untuk diriku sendiri. Mungkin, ketika aku memilih untuk pasrah atas
semuanya kepada Ya Rabb, aku tidak akan segila ini. Berulang kali aku hanya
menghela napas dan kembali memikirkan semuanya. Mengulang lagi ingatan sejak
awal kita berkenalan. Kemudian, Adam menelponku.
“Dimana lo, Ci?” tanyanya tanpa salam pembuka.
“Di rumah, baru pulang.” Jawabku.
“Lemes amat, puasa lo?” tanyanya lagi.
“Huh...iya puass...a,” jawabku asal. Maaf jika
sedikit...hemm. itu kebiasaan aku dan Adam ketika bercanda.
“Hahahaha,” dia tertawa. Aku bisa membayangkan wajahnya
saat menanggapi candaan semacam ini.
“Kenapa?” tanyaku.
“Mau gue wawancara atau lo cerita sendiri? Gue dapet
kabar dari Mike kalau lo 0% hari ini. Kayak mayat hidup.” Jawabnya.
Sekilas tentang Adam. Dia adalah rekan kerjaku, kami
bertahun-tahun bekerja sama dalam satu tim. Tapi untuk tahun ini
dipindahtugaskan di bagian lain. Kami sangat dekat dan akrab apalagi untuk
masalah curhat tentang kehidupan. Jadi, jangan bertanya-tanya apalagi
berperasangka buruk dengan kedekatanku dan Adam.
“Lagi capek aja, banyak pikiran soal...dia. Nanti juga
balik lagi.” Jawabku. Aku memang sedang malas menceritakan masalah yang lagi
penat-penatnya.
“Yaaaa...iya sih, kayaknya emang lo lebih baik diem dulu.
Jangan nekat, loh. Inget, kerjaan lo belum ada yang bisa gantiin. Jangan sampai
gue balik ke bagian itu lagi dan gantiin lo. Capekkk!!!”
“Nggak, sih. Paling antimo 2 butir.”
“Sekalian aja 10, Ci. Nanggung!”
“Katanya jangan nekat, gimana, sih!!”
“Gini, Ci. Emang sih gue bukan orang yang bener. Tapi,
gue pernah denger, untuk pertama kalinya gue denger nasehat dari ulama, dan gue
inget.” Ucapnya dengan sungguh-sungguh. Walaupun dengan nada yang terdengar
sungguh-sungguh, aku tahu wajahnya pasti tetap terlihat kocak. “Dia bilang
gini, jangan terlalu dikejar, jika memang jalannya pasti Allah lancarkan,
karena yang menjadi takdirmu, akan mencari jalannya untuk menemukanmu. Gitu.”
Lanjutnya.
Aku belum menanggapi. Sebagian otakku mulai mencerna
kalimat itu dan sebagian lainnya sudah setuju mengatakan, ya benar. Takdir
memang tidak akan tersesat atau bahkan tertukar dengan takdir lain.
“Dan kalau lo udah engap banget sama situasi ini. Pasrah aja.
Cowok itu tahu kok, Ci. Kalau emang lo yang dia pengen ya pasti lo akan
diperjuangkan. Mungkin, caranya beda-beda dan memang ada kemungkinan dengan
diamnya laki-laki itu bentuk perjuangan buat orang yang dia suka. Tapi kalau
bukan lo, mau lo jungkir balik PP Bumi-Mars, dia nggak akan peduli. Lo kayang-kayang
sambil bilang, aku bakalan ngelakuin semua buat kamu, paling lo langsung
di sulap jadi kalajengking.”
Aku masih belum memberikan reaksi. Aku menangis.
“Ini saran masukan, ya. Gue sebagai orang yang lumayan
tahu soal lo, ngerasa perlu kasih masukan aja. Lo tuh...pinter dalam banyak
hal, tapi pasti goblok soal perasaan.” Ucapnya lagi.
“Ci...hidup kan lo?”
“Iya...lagi mikir.”
“Gue kira boker.”
“Pengennya, sih. Siapa tahu dapet ide.”
“Ci...ini bukan soal kerjaan. Plis deh, bedaan cari Ilham
sama cari ide.”
“Iya...”
“Pasrah aja deh, Ci. Gue rasa lo nggak perlu sekeras ini
berusaha buat orang yang dari awal udah ngelepasin lo. Mau lo paksa pake cara
apa aja kalau dia nggak mau ya jawabannya nggak. Yang ada malah lo yang
kesiksa, kalau dia tahu, dia juga pasti ngerasa salah karena bikin anak orang
asing jadi kayak gini. Masih banyak kesempatan, masih banyak laki yang mau sama
lo. Kalau lo males nyari, gue bantuin. Mike juga pasti mau bantuin.”
“Kalau lo yang nyari pasti salah arah semua, sih.”
“Yaa...gimana, kalangan umum.”
“Makasih, deh. Nanti gue pikirin lagi. Capek.”
“Iya, gue tahu. Kelihatan dari awal. Inget, Ci. Semua udah
ada yang ngatur dan pasti nggak akan salah dan...itu yang terbaik buat
kehidupan lo meskipun lo ngerasainnya agak pait.”
“Iya...makasih.”
“Sama-sama. Kabarin ya kalau udah minim antimo 2 butir.”
“Nggak jadi 10?”
“Ini kalau malaikat Izrail ada di samping lo, mampus lo. Langsung
cabut aja, Om!”
“Hahaha, sok akrab banget lo manggil Om.”
“Akhirnya...ketawa kan. Maaf Malaikat, maaf. Nggak
bermaksud ngelunjak. Saya juga belum siap.”
“Udah, ya. Gue mau beres-beres dulu.”
“Oke. See you, next episode. Gue harap lo mikirin
baik-baik soal ini. Jangan sampai lo nguras air mata-darah-keringat Cuma buat
satu laki-laki yang belum suka sama lo. Dia, sih...belum tahu aja Uci tuh...”
“Dammm...nggak jadi kalau lo lanjutin ngomong.”
“Hhahaha...iya, maaf. Oke, selamat istirahat.”
Aku menutup panggilan tersebut dan bergegas merapikan semuanya, termasuk pikiranku sendiri.
Komentar
Posting Komentar