“Kocak ya, Na.” Ucap Rendi sambil memakan es krim yang dia ambil dari gubug makanan.
“Lulus gue.” Tambahnya. Senyumnya begitu lebar
seolah-olah benar-benar lulus yang menyenangkan. Padahal ini perihal dia yang
sudah selesai sebagai teman curhat Alga. Perempuan yang ia kenal sejak kuliah.
“Lima tahun gue jadi kuping ketiganya Alga. Lima tahun
gue jadi orang paling penting, sampai-sampai nomor gue ditaruh di nomor darurat
kedua. Chat di pinned. Cerita apapun dari yang nggak penting sampai paling
penting.” Rendi terdiam. Matanya memandang ke arah pelaminan. Wajahnya seketika
berubah menjadi sendu.
“Bikin gue nyaman dan butuh dia.” Lanjutnya.
“Emang, program KKN itu masalah, sih. Hahaha...atau gue
yang penakut sampai akhirnya terlambat?!”
“Ya...kalau udah gini sih, biasanya Cuma dibilang
takdirnya nggak sama lo.” Ucapku.
“Hahaha...emang paling bener.” Balasnya.
“Gue seneng kok lihat dia bahagia. Gue seneng pernah jadi
bagian hidup dia, terlepas dari anggapan dia soal gue.”
Aku menghela napas. Hening sejenak.
“Lo pernah nggak, sih. Mikir ada juga orang yang
ngerasain hal itu?”
“Maksudnya?” tanya Rendi.
“Orang yang juga lo perlakukan sama seperti Alga lakukan
ke lo.”
Rendi menatap ke arahku. Cukup lama. Mungkin dia sadar
akan maksudku.
“Kalau lo nggak mau tempat ternyaman lo hilang,
ya...segera perjelas semuanya.” Ucapku sambil terus menjilat es krim yang
semakin mencair.
Komentar
Posting Komentar