Langsung ke konten utama

SEPENGGAL CERITA : SAMA-KAMU

“Pernah nggak lo ketemu sama lo sendiri di badan orang lain?” tanyaku. Sebagai pembuka obrolan setelah hening yang panjang.

“Pernah, untuk pertama kalinya, dan itu lo orangnya.” Jawabmu, lengkap sebelum aku bertanya.

“Sama berarti.” Ucapku mengiyakan dengan mantab.

“Emang sama kita, tuh.” Tambahmu yang kembali memunculkan hening.

“Kok bisa ya?! Cuma kita atau masih ada orang lain kira-kira?” tanyaku.

“Nggak tahu, sih. Mungkin ini juga salah satu bukti omongan lo soal pertemuan nggak selalu soal cinta, soal memiliki, tapi bisa hal lain.” Jawabmu, yang ternyata masih mengingat sepotong kalimat dariku. Jarang-jarang kau mengingat apa yang kita bicarakan, karena biasanya kita hanya berdebat tidak jelas, bercanda yang sama nggak jelasnya. Cuma kita yang paham dan Cuma kita yang ketawa. Entah saking annoying-nya atau saking nggak lucunya.

“Hahaha, bisa jadi. Karena nyatanya kita ketemu untuk tahu diri sendiri.” Kataku. Aku sudah kehabisan topik. Kau juga lebih banyak diam dari biasanya. Entah canggung atau memang suasananya lebih mendukung untuk merenung daripada berisik tidak penting.

Aku juga tidak tahu, kenapa kita sama-sama mengiyakan ajakan yang “bercanda” ini. Padahal ini malam minggu dan ada orang yang sedang menunggu ajakan mainmu atau sekedar pesan, ‘Aku udah pulang. Gimana hari ini?’ atau pesan-pesan yang lebih mesra lainnya.

“Lo mau nikah nggak?” tanyamu secara tiba-tiba.

“Ha?” tanyaku. Bukan karena tidak mendengar, secara jarak kita cukup dekat. Aku terkejut karena mendengar pertanyaan asing itu yang mungkin lebih umum ditanyakan oleh seorang laki-laki.

“Nikah?” ulangmu sambil menoleh ke arahku. Saat itu aku gugup karena melihat wajahmu yang cukup dekat. Sial! Perasaanku memang tidak berubah kepadamu.

“Ya mau, tapi nggak sekarang.” Jawabku. Mencoba untuk tenang.

Kamu kembali diam dan menatap langit sore itu. Andai saja kamu masih sendiri, mungkin pertanyaan itu akan aku jadikan gerbang untuk menjalin hubungan serius denganmu. Karena, kamu masih menjadi pilihan hatiku saat ini dan mungkin sampai nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...