Langsung ke konten utama

SEPENGGAL CERITA : TEMAN SAMPAH

Aku khilaf. Aku menerima ajakan pergimu yang padahal hari itu kau juga akan pergi dengan perempuanmu. Tapi, aku tidak tahu ada kejadian apa sampai akhirnya kau malah pergi denganku. Dan bukannya ini juga hal biasa, karena kita sudah bisa dikatakan teman akrab.

Yang perlu digaris bawahi adalah aku tidak akan merebutmu dari siapapun. Aku hanya berperan sebagai aku yang sedikit tahu tentangmu. Sebagai temanmu.

“Hidup itu kocak ya,” ucapmu dalam perjalanan yang entah ke mana. Karena kau mengatakan ‘lihat aja nanti’ saat aku bertanya.

“Iya, makanya kalau bisa dibilang pelawak, paling juara ya hidup. Gajinya gede, tuh.” Kataku.

“Ketemu sama makhluk kayak lo juga hal paling kocak, sih. Nggak nyangka aja ada spesies unik kayak lo.” Katamu, yang aku lihat sambil melirik ke arah spion yang memantulkan bayanganku.”

“Banyak testimoni yang kayak gitu.” Kataku asal. Aku sudah terlalu gugup karena untuk pertama kalinya kita berboncengan seperti ini. Rasanya campur aduk, aku takut kalau tiba-tiba temanmu atau teman kekasihmu melihat kita, dan mengadu yang tidak-tidak, mengadu yang nilainya sebatas apa yang mereka lihat. Padahal kenyataannya mungkin tidak seperti itu.

“Padahal lo malah makin bikin gue deket sama neraka, loh. Nih, gue kalau nggak ketemu sama lo pasti udah deket ke surga.” Katamu dengan tertawa.

“Enak aja, kebalik bege. Gue yang keseret lu ke deket neraka.” Kataku tidak mau disalahkan.

“Kita keliling kota aja ya. Ngirit duit,” katamu kemudian.

“Ngirit duit nggak ngirit bensin sama aja nggak ngirit duit.” Kataku.

“Hahahaha, benerrrrrr...emang makin pinter ya lo.”

“Kenapa emangnya?” tanyaku.

Kita berhenti karena lampu merah.

“Nggak tahu, dia makin jauh, gue deketin malah makin jauh lagi.” Jawabmu dengan nada memelas.

“Bikin salah nggak?” tanyaku.

“Haha...laki-laki ma emang selalu salah. Sekalipun bener bakalan dicari salahnya.” Jawabmu.

“Diomongin aja...janjian ketemuan terus ngobrolin hubungan kalian.” Kataku.

“Diajak ketemuan aja alesan terus. Hari ini gue udah pesen tempat, tapi dia batalin tiba-tiba karena nggak enak badan. Gue mau ke rumahnya nggak dibolehin katanya mau istirahat aja. Salah gue di mana?”

Kita kembali jalan. Aku diam sejenak. Memang sudah tidak beres hubungannya.

“Telpon aja,” kataku.

“Nggak bakalan diangkat. Yang ada dia marah sambil bilang, ‘aku kan udah bilang mau istirahat. Kamu nggak percaya banget sih.’ Salah lagi....”

“Ya udah, putus aja terus sama gue, hahahaha” kataku sambil tertawa. Keras.

“Bangke lo!!!” serunya dengan diakhiri tertawa.

Kita kembali hening. Kau fokus mengendalikan gas-gigi, sedangkan aku fokus melihat kanan-kiri.

“Jadi kayak gini ya, keliling kota.” Kataku di lampu merah yang sekian kalinya.

“Nggak pernah ya....kasihan banget sih. Hidup Cuma sekali masa nggak pernah keliling kota naik motor diboncengan cowok lagi.”

“Lahh...emang baru kali ini. Tapi gue ma santai.”

“Kenapa nggak cari cowok sih?”

“Males. Lebih seru rebahan daripada keluar nyari cowok.”

“Emang susah ngomong sama titisan kasur.”

“Susah juga minta pengertian sama titisan batu.”

“Udahlah balik. Lo mau mampir-mampir nggak?” tanyamu

“Nggak, langsung aja.”

“Ke mana nih, rumah gue apa rumah lo?”

“Nyari aman ajalah.”

Kita tertawa...tahulah bercandaan ini arahnya ke mana.

“Makasih ya, udah jadi teman sampah.”

“Iya, sama-sama sampah.”

Kita tertawa lagi. Entah kenapa, hal sebiasa ini bisa membuat kita sama-sama tertawa seolah-olah itu lucu. Mungkin ini juga salah satu alasan kenapa kita bisa dekat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...