Aku khilaf. Aku menerima ajakan pergimu yang padahal hari itu kau juga akan pergi dengan perempuanmu. Tapi, aku tidak tahu ada kejadian apa sampai akhirnya kau malah pergi denganku. Dan bukannya ini juga hal biasa, karena kita sudah bisa dikatakan teman akrab.
Yang perlu digaris bawahi adalah aku tidak akan
merebutmu dari siapapun. Aku hanya berperan sebagai aku yang sedikit tahu
tentangmu. Sebagai temanmu.
“Hidup itu kocak ya,” ucapmu dalam perjalanan yang entah
ke mana. Karena kau mengatakan ‘lihat aja nanti’ saat aku bertanya.
“Iya, makanya kalau bisa dibilang pelawak, paling juara
ya hidup. Gajinya gede, tuh.” Kataku.
“Ketemu sama makhluk kayak lo juga hal paling kocak, sih.
Nggak nyangka aja ada spesies unik kayak lo.” Katamu, yang aku lihat sambil
melirik ke arah spion yang memantulkan bayanganku.”
“Banyak testimoni yang kayak gitu.” Kataku asal. Aku sudah
terlalu gugup karena untuk pertama kalinya kita berboncengan seperti ini. Rasanya
campur aduk, aku takut kalau tiba-tiba temanmu atau teman kekasihmu melihat
kita, dan mengadu yang tidak-tidak, mengadu yang nilainya sebatas apa yang
mereka lihat. Padahal kenyataannya mungkin tidak seperti itu.
“Padahal lo malah makin bikin gue deket sama neraka, loh.
Nih, gue kalau nggak ketemu sama lo pasti udah deket ke surga.” Katamu dengan
tertawa.
“Enak aja, kebalik bege. Gue yang keseret lu ke deket
neraka.” Kataku tidak mau disalahkan.
“Kita keliling kota aja ya. Ngirit duit,” katamu
kemudian.
“Ngirit duit nggak ngirit bensin sama aja nggak ngirit
duit.” Kataku.
“Hahahaha, benerrrrrr...emang makin pinter ya lo.”
“Kenapa emangnya?” tanyaku.
Kita berhenti karena lampu merah.
“Nggak tahu, dia makin jauh, gue deketin malah makin jauh
lagi.” Jawabmu dengan nada memelas.
“Bikin salah nggak?” tanyaku.
“Haha...laki-laki ma emang selalu salah. Sekalipun bener
bakalan dicari salahnya.” Jawabmu.
“Diomongin aja...janjian ketemuan terus ngobrolin
hubungan kalian.” Kataku.
“Diajak ketemuan aja alesan terus. Hari ini gue udah
pesen tempat, tapi dia batalin tiba-tiba karena nggak enak badan. Gue mau ke
rumahnya nggak dibolehin katanya mau istirahat aja. Salah gue di mana?”
Kita kembali jalan. Aku diam sejenak. Memang sudah tidak
beres hubungannya.
“Telpon aja,” kataku.
“Nggak bakalan diangkat. Yang ada dia marah sambil
bilang, ‘aku kan udah bilang mau istirahat. Kamu nggak percaya banget sih.’ Salah
lagi....”
“Ya udah, putus aja terus sama gue, hahahaha” kataku
sambil tertawa. Keras.
“Bangke lo!!!” serunya dengan diakhiri tertawa.
Kita kembali hening. Kau fokus mengendalikan gas-gigi,
sedangkan aku fokus melihat kanan-kiri.
“Jadi kayak gini ya, keliling kota.” Kataku di lampu
merah yang sekian kalinya.
“Nggak pernah ya....kasihan banget sih. Hidup Cuma sekali
masa nggak pernah keliling kota naik motor diboncengan cowok lagi.”
“Lahh...emang baru kali ini. Tapi gue ma santai.”
“Kenapa nggak cari cowok sih?”
“Males. Lebih seru rebahan daripada keluar nyari cowok.”
“Emang susah ngomong sama titisan kasur.”
“Susah juga minta pengertian sama titisan batu.”
“Udahlah balik. Lo mau mampir-mampir nggak?” tanyamu
“Nggak, langsung aja.”
“Ke mana nih, rumah gue apa rumah lo?”
“Nyari aman ajalah.”
Kita tertawa...tahulah bercandaan ini arahnya ke mana.
“Makasih ya, udah jadi teman sampah.”
“Iya, sama-sama sampah.”
Kita tertawa lagi. Entah kenapa, hal sebiasa ini bisa
membuat kita sama-sama tertawa seolah-olah itu lucu. Mungkin ini juga salah
satu alasan kenapa kita bisa dekat.
Komentar
Posting Komentar