Lebaran, hari yang ditunggu-tunggu setelah 1 bulan puasa full. Walaupun kalau dalam kajian biasanya para penceramah menyuruh kita bersedih karena harus berpisah dengan bulan ramadhan, karena Cuma di bulan ramadhan amalan baik akan mendapat pahala yang berlipat-lipat sampai tak terhingga. Selain itu ada satu malam yang dinamakan Lailatul Qodar, dimana amalan yang kita kerjakan di malam tersebut pahalanya lebih baik daripada pahala orang yang beribadah selama 1.000 bulan.
Benar memang, harus sedih, karena belum tentu tahun depan kita menemui bulan ramadhan lagi. Tapi life must goes on, waktunya jalan terus, jadi yaa...kita maksimalkan saja ibadah selama bulan ramadhan ini kemudian setelah selesai mari bersenang-senang di hari raya yang fitri.
Momen lebaran ini menjadi momen kumpul yang menyenangkan menurut anak-anak kecil, karena mereka akan mendapat baju baru juga uang saku. Berbeda dengan perasaan para orang tua juga orang-orang yang dikatakan dewasa secara usianya. Momen lebaran justru menjadi hal yang... bisa nggak sih kita lewatin aja. Karena kami akan disibukan dengan membeli segala printilan-printilan lebaran, ikut nyiapin uang saku, belum lagi bersih-bersih berskala besar.
Selain itu, momen lebaran menjadi hari yang menyebalkan untuk orang yang dikatakan dewasa secara usia, yang belum punya pasangan. Pertanyaan-pertanyaan tidak penting tapi dianggap umum itu sangat mengganggu. Pengen gitu, tidur H-1 lebaran terus bangun-bangun udah H+5 dimana suasananya udah biasa aja.
“Kenapa kamu?” tanya Ibu yang melihatku yang sedang mengintip dari jendela.
“Itu, Dita. Kayaknya sama pacarnya mau buka bersama di rumahnya.” Jawabku.
“Lah, kenapa emangnya?” tanya ibu lagi.
“Yaa...nggak papa. Penasaran aja.”
“Mending bantuin ibu nyiapin buka puasa daripada nonton Dita.”
“Iyaa...” aku langsung mengikuti ibu menuju dapur.
“Besok lebaran aku di rumah aja ya bu,”
“Ya kalau nggak di rumah kamu lebaran di mana?”
“Maksudnya nggak ikut main ke rumah saudara,”
“Emang nggak ngerasa punya dosa sama saudara?”
“Ya kalau maaf-maaf kan bisa video call.”
“Emang kenapa, sih?”
“Males aja kalau ditanyain, ‘mana pasangannya? Kapan nikah?’,”
“Emang kalau video call nggak bakal ditanyain?”
“Yaa...kan bisa pura-pura ilang sinyal gitu terus aku matiin.”
“Kamu itu ya...kebanyakan alasan. Kalau emang alasan kamu nggak mau ketemu sama saudara itu nanti ditanyain soal kapan nikah, jawab aja, ‘Insyaallah tahun depan,’ kalaupun tahun depan ternyata belum nikah kamu kan nggak salah juga, walaupun 2 tahun kemudian itu namanya juga tahun depan bukan tahun belakang.”
“Kalau ditanya, ‘mana pasangannya?’?”
“Yaa tinggal jawab, ‘nggak ikut, dia ada acara keluarga’,”
“Kalau ditanya namanya?”
“Adam...niatan kamu sebut nama itu buat menyebutkan bahwa dia seorang laki-laki.”
“Ibu...ma....”
“Lagian nggak usah dipikirinlah kayak gitu. Kalau emang besok kamu ditanyain kayak gitu biar ibu aja yang jawab.”
“Emang penting ya, Bu. Mereka tahu soal aku...”
“Namanya juga manusia masih saudara lagi. Jangankan kok saudara, tetangga aja bisa se-kepo itu.”
Aku mengangguk paham. Mungkin memang dasarnya seorang manusia memiliki naluri ingin tahu yang berlebihan dengan urusan manusia lainnya. Mungkin juga tanpa sadar aku juga melakukan hal itu dalam urusan lain.
“Na...” panggil Ibu.
“Kenapa?”
“Kalau kamu mau aman dari pertanyaan itu, kamu cari aja sekarang pasangan kontrak khusus lebaran.”
“Ibu apaan sih, bisa-bisanya.”
“Loh, zaman sekarang semua kan serba ada. Masa iya jasa pasangan buat lebaran nggak ada.”
“Iya...adaa...tapi jasanya mahal kalau pas lebaran.”
“Kok kamu tahu?”
“Udah lihat-lihat...”
“Dasarrrr...bisa-bisanya kepikiran.”
Aku hanya ber-hehehe kemudian mulai mencicil membawa satu persatu makanan ke meja makan.
Komentar
Posting Komentar