Setelah beranda dan FYP yang penuh dengan wejangan itu, aku merenung. Hari ku berjalan seperti biasanya, walaupun kamu tidak ada. Pekerjaan datang dan pergi, jam makan siang yang aku lewatkan, pesan chat yang aku balas secara asal, bercanda dengan rekan kerja, pulang dengan lelah dan berakhir di kasur busa dalam ruangan 3 x 4 meter dengan pencahayaan yang redup. Ingatan tentang kamu, kembali hadir.
Terlihat biasa,
tapi aku merasakan ada yang hilang sebagian dari diriku. Banyak hal yang
sebenarnya terlewatkan olehku saat bekerja. Banyak fokus yang hilang karena
pikiranku yang cukup berantakan. Banyak kepura-puraan yang aku tunjukkan dengan
tawa lepas saat bercanda. Dan itu karena kamu. Orang yang datang sangat singkat
tapi melekat.
Tapi tenang saja,
aku tidak menyalahkanmu yang nyatanya pergi. Karena sejak awal aku yang memaksa
untuk mengikutimu dari belakang. Aku juga tidak berharap kamu merasa bersalah
dan berbalik arah kepadaku. Aku terlanjur termakan harapanku sendiri atas
dirimu. Aku hancur karena diriku sendiri.
Untung saja, aku
segera sadar. Sedikit banyak karenamu juga, yang memang terkesan memberi jarak
yang panjang disetiap komunikasi yang sengaja aku mulai. Kamu menyadarkanku
bahwa, perasaanmu sudah berubah atau mungkin memang tidak ada sejak awal.
Sedikit banyak, kamu mengajarkanku untuk lebih bersabar tentang perasaan.
Dan kali ini, aku
masih belum tahu bagaimana lepas darimu yang sebenarnya tidak mengikatku.
Selama itu, aku masih menjadi orang yang terus berharap ada yang berubah
darimu. Ada pesan yang muncul atas nama balasan pesan sebelumnya. Ada tanda
yang kau sertakan agar aku bisa memahami apa yang coba kau sampaikan. Aku masih
menjadi manusia yang kehilangan kantuk dan minat lainnya. Biarkan ini menjadi
urusanku karena memang sudah seharusnya aku yang membereskan apa-apa yang
berantakan ini. Aku harap kamu baik-baik saja di sana. Aku harap jika bukan
kamu, aku tidak akan memaksa lagi.
Komentar
Posting Komentar