Langsung ke konten utama

OTEM : 0305

Setelah beranda dan FYP yang penuh dengan wejangan itu, aku merenung. Hari ku berjalan seperti biasanya, walaupun kamu tidak ada. Pekerjaan datang dan pergi, jam makan siang yang aku lewatkan, pesan chat yang aku balas secara asal, bercanda dengan rekan kerja, pulang dengan lelah dan berakhir di kasur busa dalam ruangan 3 x 4 meter dengan pencahayaan yang redup. Ingatan tentang kamu, kembali hadir.

Terlihat biasa, tapi aku merasakan ada yang hilang sebagian dari diriku. Banyak hal yang sebenarnya terlewatkan olehku saat bekerja. Banyak fokus yang hilang karena pikiranku yang cukup berantakan. Banyak kepura-puraan yang aku tunjukkan dengan tawa lepas saat bercanda. Dan itu karena kamu. Orang yang datang sangat singkat tapi melekat.

Tapi tenang saja, aku tidak menyalahkanmu yang nyatanya pergi. Karena sejak awal aku yang memaksa untuk mengikutimu dari belakang. Aku juga tidak berharap kamu merasa bersalah dan berbalik arah kepadaku. Aku terlanjur termakan harapanku sendiri atas dirimu. Aku hancur karena diriku sendiri.

Untung saja, aku segera sadar. Sedikit banyak karenamu juga, yang memang terkesan memberi jarak yang panjang disetiap komunikasi yang sengaja aku mulai. Kamu menyadarkanku bahwa, perasaanmu sudah berubah atau mungkin memang tidak ada sejak awal. Sedikit banyak, kamu mengajarkanku untuk lebih bersabar tentang perasaan.

Dan kali ini, aku masih belum tahu bagaimana lepas darimu yang sebenarnya tidak mengikatku. Selama itu, aku masih menjadi orang yang terus berharap ada yang berubah darimu. Ada pesan yang muncul atas nama balasan pesan sebelumnya. Ada tanda yang kau sertakan agar aku bisa memahami apa yang coba kau sampaikan. Aku masih menjadi manusia yang kehilangan kantuk dan minat lainnya. Biarkan ini menjadi urusanku karena memang sudah seharusnya aku yang membereskan apa-apa yang berantakan ini. Aku harap kamu baik-baik saja di sana. Aku harap jika bukan kamu, aku tidak akan memaksa lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...