Dalam perjalanan pulang. Sore hari yang sedikit mendung. Hari Sabtu, menjelang malam minggu. Jalanan mulai ramai dipenuhi muda-mudi berpasangan atau sendirian. Yang aku tebak mereka akan pergi berkencan atau sekedar mencari cemilan untuk menemani kesendirian. Sedangkan aku (?)...aku hanya menyibukkan diri dengan bekerja. Bukan hal yang mengherankan jika pukul lima sore aku baru keluar dari gedung besar ini, yang aku sebut penghasil uang.
Sore itu, aku menikmati perjalanan pulang. Yang biasanya kau temani dengan tawa-tawa kecil, kini hening hanya bersama angin. Entah apa yang berubah, aku mungkin. Aku memang sedikit memberi jarak. Emmm...aku rasa setiap bulannya kita selalu melakukan hal ini, saling memberi jarak. Saling diam. Saling hening sampai waktu yang tidak ditentukan. Entah kau yang memulai atau aku yang akan memulai.
Entah hanya perasaanku atau memang benar. Setiap kali kita dalam situasi seperti ini, kau akan berubah menjadi laki-laki pendiam dengan mood berantakan. Senyumnya jarang mekar. Tawamu juga hanya untuk orang-orang tertentu. Kadang terkesan dingin dan terpaksa. Tapi setelah keadaan kita membaik, kau akan menjadi laki-laki paling murah senyum. Hal apapun akan kau jadikan bahan candaan yang mungkin hanya orang-orang tertentu yang paham, termasuk aku. Kau tidak akan berhenti bicara, bahkan memaksa orang lain untuk berbicara denganmu. Sekali lagi itu perasaanku. Bilang saja jika itu salah. Kalau benar, diam saja. Aku takut, ketika semua tebakanku kau benarkan, akan ada yang berubah dari kita.
Terakhir, kau sempat menanyakan kondisiku, akibat kelalaian sendiri. Sebelum-sebelumnya pun kau juga akan menanyakan kondisiku jika kau merasa ada yang berubah atau aku sedang sakit. Kau...huuh, paket pertama yang aku dapatkan darimu sejak kita berkenalan. Aku yang tidak pernah mendapatkan pertanyaan kecil yang bermakna itu sedikit luluh. Entah karena itu memang perasaanmu atau hanya sekedar permainan kecil dengan alasan ‘tahu cara membuat perempuan luluh’. Tapi terima kasih, setidaknya aku pernah merasakannya.
Ada sedikit rasa tidak enak hati, ketika aku ingin memberi jarak denganmu. Ketahuilah, aku tetap menjadi orang yang memperhatikanmu dari kejauhan. Mencoba menjaga mood mu yang sudah jelas berantakan. Bahkan tidak segan lagi aku mendahulukanmu sebelum kepentinganku sendiri. Sama seperti sore itu, aku meminta rekan kerjaku yang lain untuk menyuruhmu pulang lebih dulu walaupun masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku hanya berpikir, lama-lama melihatmu murung bukanlah hal yang bagus. Aku selalu berusaha menjadi orang yang serba bisa agar tidak merepotkanmu. Walaupun kadang terkesan tidak bagus juga.
Selama perjalanan pulang, di dalam bus kota, aku memikirkan tentangmu. Sekumpulan ingatan yang pernah kita alami bersama, kita buat bersama, hingga sampai pada kesimpulan, kau adalah paket lengkap tapi transparan untukku. Kau adalah orang yang serba tahu, orang yang penuh dengan perhatian, orang yang cukup peduli, tapi tanganku tidak mampu memilikimu. Kau hanya bisa aku lihat tanpa bisa aku sentuh sedikitpun. Dan hal seperti ini yang selalu membuatku ingin berjarak denganmu, aku takut ketika aku terlalu menikmati kebersamaan itu, aku akan jatuh semakin dalam dan semakin kesulitan untuk kembali baik-baik saja. Dan ini adalah hal paling menyebalkan dalam hidupku, bertemu dengan orang yang membuat nyaman tapi tidak benar-benar aman.
Komentar
Posting Komentar