Langsung ke konten utama

OTEM : PAKET LENGKAP TAPI TRANSAPARAN

Dalam perjalanan pulang. Sore hari yang sedikit mendung. Hari Sabtu, menjelang malam minggu. Jalanan mulai ramai dipenuhi muda-mudi berpasangan atau sendirian. Yang aku tebak mereka akan pergi berkencan atau sekedar mencari cemilan untuk menemani kesendirian. Sedangkan aku (?)...aku hanya menyibukkan diri dengan bekerja. Bukan hal yang mengherankan jika pukul lima sore aku baru keluar dari gedung besar ini, yang aku sebut penghasil uang.

Sore itu, aku menikmati perjalanan pulang. Yang biasanya kau temani dengan tawa-tawa kecil, kini hening hanya bersama angin. Entah apa yang berubah, aku mungkin. Aku memang sedikit memberi jarak. Emmm...aku rasa setiap bulannya kita selalu melakukan hal ini, saling memberi jarak. Saling diam. Saling hening sampai waktu yang tidak ditentukan. Entah kau yang memulai atau aku yang akan memulai.

Entah hanya perasaanku atau memang benar. Setiap kali kita dalam situasi seperti ini, kau akan berubah menjadi laki-laki pendiam dengan mood berantakan. Senyumnya jarang mekar. Tawamu juga hanya untuk orang-orang tertentu. Kadang terkesan dingin dan terpaksa. Tapi setelah keadaan kita membaik, kau akan menjadi laki-laki paling murah senyum. Hal apapun akan kau jadikan bahan candaan yang mungkin hanya orang-orang tertentu yang paham, termasuk aku. Kau tidak akan berhenti bicara, bahkan memaksa orang lain untuk berbicara denganmu. Sekali lagi itu perasaanku. Bilang saja jika itu salah. Kalau benar, diam saja. Aku takut, ketika semua tebakanku kau benarkan, akan ada yang berubah dari kita.

Terakhir, kau sempat menanyakan kondisiku, akibat kelalaian sendiri. Sebelum-sebelumnya pun kau juga akan menanyakan kondisiku jika kau merasa ada yang berubah atau aku sedang sakit. Kau...huuh, paket pertama yang aku dapatkan darimu sejak kita berkenalan. Aku yang tidak pernah mendapatkan pertanyaan kecil yang bermakna itu sedikit luluh. Entah karena itu memang perasaanmu atau hanya sekedar permainan kecil dengan alasan ‘tahu cara membuat perempuan luluh’. Tapi terima kasih, setidaknya aku pernah merasakannya.

Ada sedikit rasa tidak enak hati, ketika aku ingin memberi jarak denganmu. Ketahuilah, aku tetap menjadi orang yang memperhatikanmu dari kejauhan. Mencoba menjaga mood mu yang sudah jelas berantakan. Bahkan tidak segan lagi aku mendahulukanmu sebelum kepentinganku sendiri. Sama seperti sore itu, aku meminta rekan kerjaku yang lain untuk menyuruhmu pulang lebih dulu walaupun masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku hanya berpikir, lama-lama melihatmu murung bukanlah hal yang bagus. Aku selalu berusaha menjadi orang yang serba bisa agar tidak merepotkanmu. Walaupun kadang terkesan tidak bagus juga.

Selama perjalanan pulang, di dalam bus kota, aku memikirkan tentangmu. Sekumpulan ingatan yang pernah kita alami bersama, kita buat bersama, hingga sampai pada kesimpulan, kau adalah paket lengkap tapi transparan untukku. Kau adalah orang yang serba tahu, orang yang penuh dengan perhatian, orang yang cukup peduli, tapi tanganku tidak mampu memilikimu. Kau hanya bisa aku lihat tanpa bisa aku sentuh sedikitpun. Dan hal seperti ini yang selalu membuatku ingin berjarak denganmu, aku takut ketika aku terlalu menikmati kebersamaan itu, aku akan jatuh semakin dalam dan semakin kesulitan untuk kembali baik-baik saja. Dan ini adalah hal paling menyebalkan dalam hidupku, bertemu dengan orang yang membuat nyaman tapi tidak benar-benar aman.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...